<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Menulis Sangat Mudah</title>
	<atom:link href="http://menulismudah.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://menulismudah.com</link>
	<description># sebuah portal tempat belajar #</description>
	<pubDate>Thu, 18 Sep 2008 15:49:28 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.5.1</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>05. Novel dan Imajinasi</title>
		<link>http://menulismudah.com/2008/09/18/05-novel-dan-imajinasi/</link>
		<comments>http://menulismudah.com/2008/09/18/05-novel-dan-imajinasi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Sep 2008 15:46:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ersis</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Sharing Menulis]]></category>

		<category><![CDATA[Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://menulismudah.com/?p=508</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Ersis Warmansyah Abbas (www.webersis.com)
Tanya:  Menulis novel perlu menentukan garis besar alur ceritanya ya Pak? Saya baru berhasil menulis satu novel dari pengalaman kehidupan, dan yang lainnya berhenti di ‘tengah jalan’. Jadi, perlu belajar ya Pak?
Sofiarti Dyah Anguniah, Pontianak
PERTANYAAN FI atau Pepew atau SDA sebenarnya telah dijawabnya sendiri, dan seperti pula Suhadi Mulkan, menggoda saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Ersis Warmansyah Abbas (<a href="http://www.webersis.com">www.webersis.com</a>)</p>
<p><strong>Tanya</strong>:  Menulis novel perlu menentukan garis besar alur ceritanya ya Pak? Saya baru berhasil menulis satu novel dari pengalaman kehidupan, dan yang lainnya berhenti di ‘tengah jalan’. Jadi, perlu belajar ya Pak?<br />
<strong>Sofiarti Dyah Anguniah</strong>, Pontianak</p>
<p>PERTANYAAN FI atau Pepew atau SDA sebenarnya telah dijawabnya sendiri, dan seperti pula Suhadi Mulkan, menggoda saya perihal menulis novel. Satu hal perlu dilandaskan, bagi Pepew dan Suhadi, tidak perlu belajar menulis (novel) lagi. Buang-buang waktu saja. Lho?<span id="more-508"></span><br />
 <br />
Ya, iyalah. Yang diperlukan memasihkan menulis. Tulis apa yang hendak ditulis. Ingin menulis novel, ya tulis saja. Habis perkara. Lakukan. Dalam setahun dua dapat dipastikan, Sampeyan menjadi novelis bagus. Kenapa?<br />
 <br />
Saya membaca cerpen Pepew ‘Mukenah Putih’ dan cerpen Suhadi “Perempuan Bergaun Putih”. Bagus. Alur OK. Sajian menarik. Pesan menggena. Kalau pun ada yang perlu dimantapkan adalah pilihan kata, diksi. Dapat dipastikan, disamping memang akan lebih baik memperbanyak bacaan karya sastra, latihan menulis dengan langsung menulis novel, tentu lebih baik.<br />
 <br />
Jujur saja, saya baru pada tahap menulis novel. Bahkan, membaca ulang novel yang ditulis ‘belum berani’. Apalagi mengeditnya. Lebih apa lagi, menerbitkan. Masih banyak hal perlu dipertimbangkan. Soalnya, tidak mau kalah dengan karya Andrea Harita atau Habiburrahman El Sirazy he he (mimpi kali).<br />
 <br />
Target saya menulis novel. Tidak memenerbitkan novel. Lagi pula, menulis novel ditempatkan pada urutan paling buncit kegiatan, bukan prioritas. Menulis novel, atau melanjutkan menulis novel manakala bosan menulis yang lain. Bagian ini melawan EWT, menulis tuntas. Karena itu merovolusi dengan menulis cerpen bersambung. Maksudnya?<br />
 <br />
Cerpen-cerpen bak melalui perjalanan panjang dengan tempat perhentian (terminal). Pada setiap terminal berarti satu cerpen. Cerpen-cerpen tersebut nanti dibukukan menjadi novel. Saya membangun alur yang tidak lazim. Ngak apa-apa kan? Begitu mau saya. Kan saya yang menulis. Bukan orang lain. Ya, suka-suka sayalah.<br />
 <br />
Merevolusi cara menulis (cerpen) nampaknya merupakan jalan terbaik bagi penulis (pemula) seperti saya. Bagi penulis profesional, atau pemula yang mempunyai banyak waktu, tentu lain masalahnya. Prinsip dasarnya, sesuai EWT,  menulis dulu, membicarakannya belakangan. Ada dulu novelnya, memperbaiki atau mengedit, soal nanti. Novel menjadi dulu, dipublikasi atau tidak, soal belakangan.  Novel belum jadi saja kog sudah ‘digunjingankan’. Itu cara kuno. Novelnya belum ditulis sudah sibuk menilainya. Ngawur itu. Buang-buang enerji.<br />
 <br />
Akan halnya alur cerita, setting, atau message ya pastilah, jelas dulu soalnya. Alur itu merupakan ‘imajinasi’ dalam pikiran. Semakin kuat dan semakin mantap formulasi imajanasi semakin mudah menuangkan ke dalam novel. Berimajinasi apa sih susahnya?<br />
 <br />
Bila rehat dan iseng, siapa pun bisa ‘bercumbu’ dengan Brookshield atau Sandra Dewi. Apa susahnya berwisata ke Balkan, menikmati safari ke Saporro atau ke Sydney. Kalau ingin mandi-mandi di Laut Mati atau merasakan dinginnya Eslandia atau Vancouver, ya lakukan dengan imajinasi. Di Jabal Rahmah, Tanah Suci, saya membayangkan pertemuan antara Nabi Adam dan Siti Hawa. Terbesit ide menuliskannya menjadi novel. Tapi, takut kualat. Imajinasi dimatikan. Imajinasi merupakan kekuatan dalam menulis fiksi. Dalam imajnisasi kita mengembangkan alur cerita. Mudah saja.<br />
 <br />
Saya yakin, setiap orang mampu berimajinasi, dan dengan demikian menulis (cerpen) menjadi hal sangat mudah. Lain halnya menulis ilmiah, ada aturan ‘baku’. Lalu, kenapa Pepew mampu menulis cerpen berbasis pengalaman kehidupan? Jelas saja, alurnya sudah ada dan tinggal poles sana-sini.<br />
 <br />
Cerpen yang hebat-hebat itu, banyak ‘berasal’  dari hal-hal yang pernah dialami. Misalnya karya Hirata atau El Siraz. Sampai-sampai dikatakan, itu diangkat dari pengalaman pribadinya. Atau, cermati karya Dan Brown,  Da Vinci Code. Brown melakukan riset dan dengan riset itu membangun alur, lalu menuliskan seolah-olah menjadi demikian. Artinya, imajnisasi dikembangkan berdasarkan hal-hal nyata.<br />
 <br />
Saya baru saja membaca dua cerpen berlatarbelakang Andalusia. Kesan saya, Ali Al Ghareem (Pembawa Kabar dari Andalusia) begitu ‘menguasai’ tentang Andalusia (Spanyol) era kejayaan Islam. Kisah cinta menggetarkan dijalin dalam alur indah, menjadikan serasa bertamasya menelusuri lekuk-lekuk kota Cordoba.<br />
 <br />
Radwa Ashour (Granada) memukau dengan alur cerita, yang duh, mengharu biru hati dengan setting genosida kebudayaan (Islam) setelah kerajaan Islam dikalahkan oleh Ferdinand dan Isabella. Ya, bisa jadi karena penulis begitu ‘terpukul’ dengan sapu bersih kebudayaan Islam ketika Spanyol dikuasai kaum Kristen.<br />
 <br />
Kedua buku jauh lebih menggugah dibanding karya Elizabeth Kostova (The Historian) yang membawa kita menelusuri bilik-bilik Balkan sembari seolah-olah bersua Vrad Dracula yang begitu kejam dan berani. Dia menantang Sultan Mehmed II dan pasukannya yang terkenal tangguh. … mengasyikkan. Serial film tentang Dracula, dibanding The Historian serasa hal biasa saja. Biasalah, penulis Barat (seolah-olah) begitu saintifik.<br />
 <br />
Kalau difilmkan, bisa jadi mengalahkan serial Dr. Indiana Jones. Padahal, ya padahal, buku tersebut termasuk baru (ditulis) dengan alur cerita Abad XV dimasa kemaharajaan Turky Usmani jaya. Mengingatkan kepada Karl May. Karl May?<br />
 <br />
Ya, kalau Sampeyan penggemar novel pertualangan dengan imjinasi memukau, karya-karya Karl May  jawaannya. Kisah-kisah wildwest semacam Winnetou (I-IV), Old Sutterhend, sampai pengelanaan ke Kaukasus, sungguh membuai. Ketika saya sudah dewasa, membacanya sejak kelas V SD, baru paham, Karl May sekalipun pernah ke Padang, belum sekalipun ke Amerika Serikat. Lalu bagaimana dia mampu mengembangkan alur cerita?<br />
 <br />
Jawabannya, imajinasi. Imajinasi Karl May begitu kuat, tangguh, dan hebat. Dengan berimajinasi membangun alur cerita, dan menulisannya, jadilah novel yang melampaui batas-batas abad. Karya besar yang dibaca lintas generasi, dan cocok saja dengan kondisi kekinian.<br />
 <br />
Akhirnya, sebagaimana ditulis Pepew, untuk langkah awal, hemat saya, menulislah dari hal-hal yang paling dekat dengan kita. Saya pernah menganjurkan Suhadi menulis tentang Danau Panggang, daerah rawa maha luas di pinggiran kota Amuntai, Kalimantan Selatan. Ada hal paling khas, kerbau kalang. Sayang, Suhadi hanya mengembangkan alur cerita dalam kapsitas cerpen, Kita Putus Bur. Asyik, namun lebih yahud kalau dijadikan novel.<br />
 <br />
Yap, Pepew tinggal mengembangkan imajinasi dan alur cerita. Coba bayangkan Fi, indahnya kota Paontianak. Duduklah berlama-lama dipinggir Sungai Kapuas, kalau perlu bawa pancing. Lebih asyik bersama pacar, lalu kembangkan imjanisasi. Kolaborasikan dengan ‘garis khatulistiwa’. Karena orang Indonesia doyan mistik, tumbangkan dengan keyakinan Islam.<br />
 <br />
Duh, mana tahu ‘lahir’ cerpen berlatarbelakang kota Pontianak. Bisa jadi ntar dihadiahi penghargaan oleh walikota Pontianak atau Gubernur Kalimantan Barat, dan … mengalahkan popularitas Laskar Pelangi, Andrea Hirata. Tapi, … jangan lupa bagi-bagi hadiahnya ya. Salam. <br />
 <br />
Bagaimana menurut Sampeyan?<br />
 <br />
Banjarbaru, 18 September 2008.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://menulismudah.com/2008/09/18/05-novel-dan-imajinasi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>04. Mengedit Tulisan</title>
		<link>http://menulismudah.com/2008/09/18/04-mengedit-tulisan/</link>
		<comments>http://menulismudah.com/2008/09/18/04-mengedit-tulisan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Sep 2008 15:44:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ersis</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Sharing Menulis]]></category>

		<category><![CDATA[Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://menulismudah.com/?p=507</guid>
		<description><![CDATA[ Oleh Ersis Warmansyah Abbas (www.webersis.com)
Tanya:  Ketika membaca ulang tulisan, terkadang bingung menyusun paragrap, sering tulisan itu ‘berhenti’, sering pula selaju pikiran. Bagaimana proses editingnya Pak? Apa mesti di baca ulang?
 Gunung Kelir, (Karena tulisan ini ntar menjadi bagian buku, tolong Mas nama dan domisilinya).
PERTANYAAN ‘cucu’ saya seperti tertulis di bagian Tanya, susah-susah mudah dijawab. Susah karena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> Oleh Ersis Warmansyah Abbas (<a href="http://www.webersis.com">www.webersis.com</a>)</p>
<p>Tanya:  Ketika membaca ulang tulisan, terkadang bingung menyusun paragrap, sering tulisan itu ‘berhenti’, sering pula selaju pikiran. Bagaimana proses editingnya Pak? Apa mesti di baca ulang?<br />
 <strong>Gunung Kelir</strong>, (Karena tulisan ini ntar menjadi bagian buku, tolong Mas nama dan domisilinya).</p>
<p>PERTANYAAN ‘cucu’ saya seperti tertulis di bagian Tanya, susah-susah mudah dijawab. Susah karena pada dasarnya saya tidak doyan mengedit tulisan. Jangankan mengedit, membaca ulang saja terkadang malas. Erwin D. Nugroho, sering menggoda: ‘Gimana nih penganjur menulis sering salah ketik’. Ya apa boleh buat. Malas. Kalau dikirim ke media cetak atau ke penerbit, kan mereka punya editor. Bagian merekalah itu. Yang pasti, sikap tersebut tidak baik. Jelek. Jangan ditiru.<span id="more-507"></span><br />
 <br />
Saya punya alasan tentu. Mengedit tulisan memerlukan waktu. Terkadang, harus bongkar-pasang tulisan. Saya tidak punya banyak waktu, banyak hal lain yang dikerjakan. Waktu yang seharusnya untuk mengedit, digunakan untuk menulis. Positifnya, lama-lama terbiasa menulis dengan kesalahan diusahakan seminimal mungkin. Kalau konsep atau logika, jaranglah. Kalau salah ketik mah udah biasa he he.<br />
 <br />
Secara teoritis dan commonsense, pengeditan tulisan wajib hukumnya. Ada dua cara, pertama, begitu selesai menulis satu-dua alinea langsung di edit. Dengan catatan, ingatan kuat. Kalau daya ingat sedang-sedang saja, tidak usah memilih cara ini. Sebab, begitu selesai mengedit, bisa jadi muncul ide baru. Lupa ide awal. Berkemungkinan besar tulisan akan terbengkalai.<br />
 <br />
Akan lebih sempurna, kalau tidak teguh pendirian, dan berjiwa ‘kerupuk’. Gara-gara bersemangat mengedit, dirasakan tulisan kurang mantap, muncul pikiran jalan kiri, bisikan iblis: Ah, sudahi saja tulisan ini, ntar bikin dari ide yang lebih hebat. Karena lemah syahwat, eh maaf maksudnya lemah pendirian, menulis di stop.<br />
 <br />
Kalau stop-menyetop menulis menjadi habit, tamatlah riwayat awal menulis. Yang semakin mantap menulis satu-dua aline, dan selesai. Besok diulang lagi. Otak dimantapkan prinsip demikian. Wajar, menulis tuntas, kesulitan. Banyak bukti (ingat-ingat kebiasaan sendiri).<br />
 <br />
Karena itu, saya menganjurkan, tidak mengedit tulisan sebelum selesai. Pastinya, tuntaskan tulisan, baru diedit. Sekali lagi, selesaikan tulisan, baca lagi, baru diedit. Menjadi dulu baru diperbaiki. Itu cara kedua.<br />
 <br />
Memantapkan cara kedua tentu ada risikonya. Matangkan konsep di otak. Istilah saya menulis di otak. Setelah itu baru dituangkan menjadi tulisan. Saya memilih cara demikian. Kenapa mudah menulis? Ya, itu tadi, tulisan telah jadi di kepala. Proses menulis adalah penyalinan tulisan di otak. Satu artikel, lima belas menit bisa jadi terlalu lama. Itulah rahasia menulis cepat.<br />
 <br />
Duga-duga saya, banyak orang kesulitan menulis terkarena, konsep di otak belum mantap, e … libido menulis dilayani. Akibatnya, begitu ada yang kurang nyambung atau lupa, ingatan difokuskan, dan lupa deh ‘jalan cerita’ tulisan. Mandeg.<br />
 <br />
Harap dicatat, kalau hal tersebut berulang, dan berulang lagi, itu namanya membangun kedunguan menulis. Karena itu, mari cerdas menulis. Caranya? Wuaw, gampang bos. Asal mau mengaku, strategi selama ini salah besar, dan kini saatnya memperbaiki.<br />
 <br />
Misal, lupa nama atau tanggal kejadian, ya tulis saja …. (titik). Setelah menjadi, dibaca ulang, cek di kamus atau ensiklopedi, lalu … isi, perbaiki. Yang penting tulisan sudah menjadi, sekalipun harus dibaca ulang dan diperbaiki. Kalau demikian, dijamin kelancaran menulis terjamin.<br />
 <br />
Jadi, membaca ulang tulisan ‘wajib’ hukumnya. Kalau sudah menjadi kebiasaan, sudah mempunyai keterampilan pada tingkat tertentu, ya bolehlah bermanuver. Jangan sampai, baru belajar menulis, salah logika, salah konsep, salah ketik. Yang demikian akan menyebalkan dan menjauhkan ketertarikan editor. Editor mana yang mau menerima tulisan yang salah melulu.<br />
 <br />
Tulisan yang baik adalah tulisan yang hampir tanpa kesalahan, mendekati sempurna. Hanya saja, kalau memula, siapa sih yang punya kemampuan sedemikian? Untuk itu hanya ada satu cara, menulis, menulis, dan menulis lagi. Lama-lama menjadi fasih, ala bisa karena biasa.<br />
 <br />
Bagaimana menurut Sampeyan?<br />
 <br />
Banjarbaru, 13 September 2008.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://menulismudah.com/2008/09/18/04-mengedit-tulisan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>03. Kontroversi Emosi</title>
		<link>http://menulismudah.com/2008/09/18/03-kontroversi-emosi/</link>
		<comments>http://menulismudah.com/2008/09/18/03-kontroversi-emosi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Sep 2008 15:42:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ersis</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://menulismudah.com/?p=506</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Ersis Warmansyah Abbas (www.webersis.com)
Tanya:  Pak saya masih bingung bagaimana cara menulis sesuatu itu tanpa diikuti emosi terhadap apa yang akan ditulis tersebut?
Septha, Banjarmasin, Kalsel.
SAYA senang dengan pertanyaan Septha. Pada pelatihan menulis hal mengendalikan emosi menjadi topik menarik. Ada kontroversial memaknainya. Pertama, menulis tanpa mampu melepaskan emosi, sesorang akan kesulitan menulis dan jadi penulis. Begitu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Oleh Ersis Warmansyah Abbas (<a href="http://www.webersis.com">www.webersis.com</a>)</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Tanya</strong>:  Pak saya masih bingung bagaimana cara menulis sesuatu itu tanpa diikuti emosi terhadap apa yang akan ditulis tersebut?<br />
<strong>Septha</strong>, Banjarmasin, Kalsel.</p>
<p>SAYA senang dengan pertanyaan Septha. Pada pelatihan menulis hal mengendalikan emosi menjadi topik menarik. Ada kontroversial memaknainya. Pertama, menulis tanpa mampu melepaskan emosi, sesorang akan kesulitan menulis dan jadi penulis. Begitu didengungkan banyak orang. Kedua, sebaliknya emosi perlu diikutkan karena emosi menjadikan tulisan lebih menarik. Ya, tergantung apa yang ditulis, tujuan menulis, dan ‘gaya’ tulisan. Emosi memoles dan ‘memanggil’ emosi pembaca.<span id="more-506"></span><br />
 <br />
Emosi adalah (KBBI: 1988: 228):  luapan perasaan yang berkembang dan surut diwaktu yang singkat; keadaan dan reaksi psikologis dan fisiologis (seperti kegembiaraan, kesedihan, keharuan, kecintaan, keberanian yang bersifat subyektif). Dalam menulis, bahkan, emosional perlu. Sejauh emosional dimaknai sebagai: menyentuh perasaan; mengharukan (KBBI: 228).<br />
 <br />
Menulis tanpa emosi, lebih tepat menulis obyektif (mengenai keadaan yang sebenarnya tanpa didipengaruhi pandangan pribadi) adalah dasar penulisan ilmiah-akademik. Di perkuliahan hal tersebut sangat mendasar. Membuat makalah, skripsi, tesis, atau disertasi, obyektifitas tidak boleh ditawar-tawar. Begitu pula penulisan laporan untuk kepentingan penelitian atau keilmuan.<br />
 <br />
Sebaliknya menulis yang ‘diikuti’ emosi, lebih tepat subyektif (mengenai atau menurut pandangan (perasaan) sendiri, tidak mengenai pokok atau halnya) lebih kepada hal-hal dimana penulisan dimaksudkan memaparkan pandangan, dan ‘merayu’ pembaca dengan perasaannya.<br />
 <br />
Bagi yang pernah duduk dibangku pembelajaran formal hal pertama sangat mendasar. Hal-hal di luar pokok halnya tidak hak disertakan. Dan, itu perkara mudah manakala kita melatih diri. Banyak orang kesulitan menulis karena tidak mampu membedakan mana fakta, mana interprestasi; mana hal sesungguhnya mana pendapatnya. Campur aduk, dan … ngawur.<br />
 <br />
Lebih celaka, kalau pendapatnya (subyektivitas) dipahami sebagai kebenaran. Subyektivitas akan mengecoh diri sendiri dan orang lain. Contoh kecil, pernah saya tulis disatu buku saya, tahi hidung (upil) tidak berbau karena memang penciuman kita sudah kebal, imun.<br />
 <br />
Tapi, coba ciumkan pada kucing, bisa pingsan tu kucing. Kalau pada teman, bisa ditamparnya Sampeyan karena baunya menyengat. Bagi sampeyan? Ngak berbau karena menyatu dengan hirupan harian. Kalau ditulis, tidak berbau, ya ngak obyektif, dan ngawur simpulannya.<br />
 <br />
Emosi, dalam tataran penulisan demikian jangan pernah disertakan. Caranya? Ya, itu tadi. Jangan pernah membiarkan diri larut dengan perasaan atau pandangan pribadi, tetapi tetaplah berpegang pada ‘apa adanya’ yang ditulis. Dengan demikian analisis dan sajian ‘persis’ sebagaimana keadaan sesungguhnya (obyektif).<br />
 <br />
Saya punya contoh clear dalam penilaian perkuliahan. Saya tahu Si Anu pemalas, suka menjelekkan, mencemooh, dan memandang jorok penampilan saya sebagi dosen. Dia tidak suka pada saya. Tetapi, ketika tugasnya bagus, ujiannya baik, ya —betapa pun rasa terhina oleh anak ingusan yang sok hebat tersebut— tak hak memotong nilainya. Wajib obyektif. Tidak ada korelasi antara capaian hasil belajar dengan ketidaksenangannya terhadap saya. Haknya menjadi orang sok dan haknya pula mendapatkan nilainya.<br />
 <br />
Dengan kata lain, menulis tanpa emosi adalah menulis, membahas dan menganalisis tanpa mengikutkan hal di luarnya, kecuali dalam komparasi, dan tidak mengikutkan ‘diri’ dalam pokok tulisan. Jauhkan perasaan, kebersetujuan dan ketidakbersetujuan, tulis apa adanya, dan hal tersebut lebih mudah.<br />
 <br />
Saya ingatkan, kalau kita ‘berdusta’ terhadap yang ditulis, kita memerlukan dusta lebih besar untuk membenarkannya, dan … itu melelahkan. Tulislah apa adanya. Jangan ikutkan perasaan. Kalau warnanya merah, jangan tulis abu-abu. Kalau tidak suka, jangan ikutkan ketidaksukaan. Tekan emosi.<br />
 <br />
Sebaliknya, pernah baca novel Hamka, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck atau Dibawah Lindungan Ka’bah? Maaf kalau salah, bagi saya novel tersebut ditulis dengan ‘jiwanya’, dengan emosinya hingga memanggil emosi ketika membacanya. Sungguh terharu, tak terasa air mata meleleh. Mengaharukan.<br />
 <br />
Atau begini. Baca serial tulisan saya tentang umrah. Saya menulis berdasar fakta, namun juga mengikutkan emosi (keterharuan) hingga tulisan tersebut membuat pembaca seola-olah ikut perjalanan spritual tersebut (Sorry, geger he he). Setidaknya, Zainal Fanani yang baru saja pulang sebelum tulisan ini ditulis mengatakan: Bos saya terharu membaca tulisan Sampeyan. Keinginan ke Tanah Suci semakin bergelora.<br />
 <br />
Ya, melatih memisahkan emosi dengan tulisan adalah keharusan. Memasukkan emosi pada tulisan adalah cara terbaik menjangkau pembaca. Tinggal, kita menulis pada tataran mana. Tidak hak untuk hal-hal ilmiah-akademik mencampurkan emosi ke dalamnya. Kalau itu dilakukan, hadangan pembimbing atau penguji akan menjadi pisau penyembelih.<br />
 <br />
Dengan kata lain, tulisan itu beragam jenisnya, banyak peruntukkan dan maksuk penulisannya. Tinggal, kesadaran di posisi mana Sampeyan berpijak. Celakalah kalau tidak paham sedang berdiri dimana dan atas dasar apa berdiri.<br />
 <br />
Tetapi perlu saya ingatkan. Saya punya contoh bagus dalam penulisan sejarah. Sejarah ditulis berdasarkan obyektivitas. Begitu teorinya. Tetapi, banyak yang lupa. Sejarah adalam artian obyektif adalah sejarah pada kejadiannya. Sedangkan sejarah yang ditulis, tidak usah diperdebatkan, adalah pada tataran subyektif, sebab ditulis oleh penulis sejarah. Sehingga dikatakan, setiap generasi menulis sejarahnya.<br />
 <br />
Dus, tidak ada sejarah obyektif, kecuali pada kejadiannya. Memangnya penulis sejarah bisa menulis sejarah sebagaimana sejarah terjadi? Tidak bukan? Jadi, sejarah apa pun yang ditulis dan yang sampeyan baca adalah sejarah subyektif, sesuai dengan penulis, apa yang ditulis oleh penulisnya, bukan sejarah sebagaimana terjadi.<br />
 <br />
Kalau begitu, kalau sudah paham letak pokok persoalannya, buat apa merisaukan soal emosi, subyektif atau tidak. Tulis, tulis, dan tulis, habis perkara. Setiap tulisan lahir dari pikiran, pandangan, dan pendapat sesorang. Mau dipandang emosional, subyektif, atau apa kek, peduli amat. Itu pandang, dan subyektif he he.<br />
 <br />
Bagaimana menurut Sampeyan?<br />
 <br />
Banjarbaru, 11 September 2008.</p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://menulismudah.com/2008/09/18/03-kontroversi-emosi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>02. Mengembangkan Tulisan</title>
		<link>http://menulismudah.com/2008/09/18/02-mengembangkan-tulisan-wwwwebersiscom/</link>
		<comments>http://menulismudah.com/2008/09/18/02-mengembangkan-tulisan-wwwwebersiscom/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Sep 2008 15:36:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ersis</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Sharing Menulis]]></category>

		<category><![CDATA[Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://menulismudah.com/?p=505</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Ersis Warmansyah Abbas
Tanya:  Saya mau menulis novel, tapi kurang PD. Bagaimana membuat alur cerita yang menarik dan logik?
Suhadi Mulkan, Danau Panggang, Kalsel.
Saya tertarik menulis fiksi dengan ending manis dan tidak terduga. Ada kiat-kiat bagus gak, pak?
Marshmallow, Australia.
PADA pelatihan jurnalistik yang digelar Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesi (KAMMI) Banjarbaru di Fakultas Tehnik Unlam Banjarbaru, 8 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Ersis Warmansyah Abbas</p>
<p><strong>Tanya</strong>:  Saya mau menulis novel, tapi kurang PD. Bagaimana membuat alur cerita yang menarik dan logik?<br />
Suhadi Mulkan, Danau Panggang, Kalsel.<br />
Saya tertarik menulis fiksi dengan ending manis dan tidak terduga. Ada kiat-kiat bagus gak, pak?<br />
<strong>Marshmallow</strong>, Australia.</p>
<p>PADA pelatihan jurnalistik yang digelar Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesi (KAMMI) Banjarbaru di Fakultas Tehnik Unlam Banjarbaru, 8 Sepember 2008, saya tandaskan, menulis sangat mudah sembari menyentikkan empu jari ke kelingking. Sayaratnya, punya otak dan masih mampu berpikir. Kalau otak udang, jangan pernah mimpi jadi penulis. Biasa, gaya saya menghentak persepsi tentang menulis, bukan bermaksud menghina.<span id="more-505"></span><br />
 <br />
Begitu mereka terperangah atau ngedumel, dilanjutkan. Kalau syarat utama sudah dipenuhi ada syarat dasar, banyak membaca dan tidak takut salah. Yang pertama berguna sebagai bahan baku menulis, dan yang kedua agar punya keberanian mengeluarkan apa yang ada di pikiran dan dipikirkan. Untuk itu, buang malu. Tulis saja.<br />
 <br />
Coba, kata saya lebih menghentak, perhatikan dosen kalian yang bergelar Sarjana, Magister, atau Doktor yang Profesor. Puluhan tahun mengajar, menuliskan apa yang didongengkannya di ruang kuliah tidak mampu. Mana merasa manusia paling hebat sejagad menyuarakan pikiran pakar lain. Karyanya? Nol koma nol. Ada yang hampir mati, menulis satu buku saja tidak. Kenapa?<br />
 <br />
Takut menulis, takut ketahuan bodohnya. Kalau ngomong doang, begitu selesai ditelan ruang. Kalau disulang: “Apa yang Bapak kuliahkan salah tu, di buku anu tidak seperti itu”, akan dijawab: “Kamu salah dengar”. Enak kalau hanya ngomong atau ngedongeng doang.<br />
 <br />
Lain halnya kalau menulis. Jangankan salah konsep, salah satu huruf saja bisa berabe. Coba tulis kosakata nabi, karena salah ketik tertulis babi. Tidak bisa berkelit, tertulis, ada bukti konkretnya. Nah, karena takut ketahuan bodohnya, cukup menyalahkan tulisan mahasiswa. Makalah jelek, skripsi bobrok, atau tesis ngak karu-karuan. Kalian jangan belajar menulis pada mereka yang tidak terbukti mampu menulis.<br />
 <br />
Nah, kalau yakin masih mampu berpikir, mari menulis. Melaui panca indera kita memasukkan ‘pengetahuan’ ke otak, pikiran memformulasikan. Apabila matang (emang memasak kue) dituliskan. Ya, menuliskan ide; rancangan yang tersusun di dalam pikiran, gagasan, atau cita-cita. Begitu arti ide menurut KBBI (1988: 319).<br />
 <br />
Karena itu, karena EWT berfokus melahirkan atau menuangkan apa yang ada di pikiran, apa sih susahnya menuliska apa yang ada dan kita pikirkan? Tuliskan saja, habis perkara, dan pasti jadi tulisan.<br />
 <br />
Duga-duga saya, Suhadi dan Marshmallow baru memulai menulis novel. Celakanya persepsinya tentang novel, harus sebagus karya Agatha Christy, J.K. Rowling, Andrea Hirata, atau Habiburrahman El Shirazy. Boleh-boleh saja, namanya saja keinginan. Tapi, anjuran saya, selesaikan, setelah itu dibaca ulang, diperbaiki, atau ditulis ulang. Namanya saja baru memulai.<br />
 <br />
Celaka kedua, bertanya kepada saya. Saya memang telah menulis ratusan tulisan, ratusan puisi, puluhan cerpen, puluhan buku, beberapa diantara laris, tetapi … masih belum berani menerbitkan novel. Beberapa novel saya termenung dalam draf.  Tapi, tetap saja menulis novel. Insya Allah, nanti akan mengalahkan karya Andrea Hirata he he (mimpi kali). Sekalipun begitu, karena sharing dengan sesama yang belum ‘menjadi’ ada baiknya. Eloknya, tinggal mengover gaya menulis ala EWT.<br />
 <br />
Masih ingat? Pikiran yang telah diformulasikan sedemikian rupa dinamakan ide alias rancangan yang tersusun di dalam pikiran, gagagasn, atau cita-cita. Kalau kesulitan menuangan dan atau mengembangkan ide berati idenya belum tersusun secar benar, belum matang. Banyak orang terperangkap pada kesalahan demikian.<br />
 <br />
Pada tulisan saya Menulis di Otak pada buku Menulis Sangat Mudah (2007 dan 2008) pada dasarnya pertama-tama kita menulis di otak. Saya sering menulis saat menyetir, mendengar pidato pejabat yang tidak mutu, mengikuti seminar yang ngak jelas ujung pangkalnya. Kadang-kadang sampai sepuluh tulisan ditulis di otak. Nah tulisan yang sudah kompak di otak itu, begitu ada jedah, ada kesempatan, dituangkan, ditulis. Mudah kan?<br />
 <br />
Jangan pernah memikirkan apa yang akan ditulis, tetapi tulislah apa yang ada di pikiran. Kepercayaan diri alias PD tidak pernah didapat kalau hanya bermain pada tataran ide. Kepercayaan diri bangkit apabila kita melakukan sesuatu. Lagi pula, bagaimana orang meapresiasi manaka pikiran masih bersemanyam di otak, di pikiran. Tuangkan, lahirkan, tuliskan.<br />
 <br />
Jangan pernah menilai tulisan yang masih di otak sebab belum menjadi. Memikirkan hal tersebut membuang-buang energi, itu dunia para pelamun. Nilailah, perbaiki, diskusikan, tulisan yang telah menjadi. Dengan demikian kita belajar darinya.<br />
 <br />
Ranah menulis di otak adalah proses pematangan tulisan, apabila telah dituliskan menjadi tulisan kita berada di wilayah penyempurnaan tulisan —karena telah ada. Pada kasus Marshmallow, matangkan, sempurnakan di ranah otak, dan … tuliskan. Kenapa terkendala?<br />
 <br />
Ya, itu tadi, belum ‘selesai’ di tataran tulisan di otak, belum matang. Dan, itu hal baik, sebab pada tataran tersebut kita bisa meliuk-liukkan, membangun alur cerita. Jangan disesali atau dimushi. Justru disitu bagusnya. Semakin matang ide semakin mudah disempurnakan (diperbaiki) manakala tulisan menjadi.<br />
 <br />
Pada tataran ini, sampai kita kepada satu hal sangat penting, ranah latihan. Menulis satu dua, ibarat resep makanan, belum berasa. Tetapi, manakala telah menjadi masakan, bisa dicicipi. Ini garam kurang deh, lengkuasnya kebanyakan, kunyitnya ditambah, ketumbar tak perlu, dan cengkih cukup sebiji saja sebab bukan membuat masakan ala orang Arab.<br />
 <br />
Apalagi dalam menulis fiksi, bebannya lebih ringan. Kita tidak terlalu terikat fakta, sebab fiksi lebih kepada imajinasi. Saya menulis belasan cerpen dengan setting Abad XXIII, menulis dari tahun 2220. Jauh lebih mudah dari menulis artikel. Tapi, saya tidak bicara soal kualitas lho ya. Sebagai bahan analisis, simak cerpen Suhadi, Kita Putus Saja Bur; www: suhadinet.wordpress.com. Bangun cerita dan settingnya bagus, walau judulnya, agak gimana gitu.<br />
 <br />
Endingnya tidak terduga sebagaimana diingin Marshmallow. Kalau saya jadi Suhadi, itu bukan kapasitas cerpen, tapi … novel. Belum pernah orang menulis cerpen dengan latar belakang danau panggang dengan kerbau kalangnya. Luar biasa. Saya yakin, kalau diseriusi Suhadi, percintaan biasa-biasa saja bisa dibuat alurnya menjadi kuat dan mencengangkan.<br />
 <br />
Kembali ke jalur, ada dua hal yang perlu diperhatikan, matangkan ide di otak, dan perkuat latihan menuliskan ide. Kalau sudah fasih, ibarat mengetik, tidak melihat keyboard pun jari-jari otomatis menekan tiap huruf yang kita inginkan.<br />
 <br />
Bagaimana menurut Sampeyan?<br />
 <br />
Banjarbaru, 10 September 2008.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://menulismudah.com/2008/09/18/02-mengembangkan-tulisan-wwwwebersiscom/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>01. Judul Tulisan</title>
		<link>http://menulismudah.com/2008/09/18/01-judul-tulisan/</link>
		<comments>http://menulismudah.com/2008/09/18/01-judul-tulisan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Sep 2008 15:27:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ersis</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Sharing Menulis]]></category>

		<category><![CDATA[Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://menulismudah.com/?p=504</guid>
		<description><![CDATA[Tanya: Pak Ersis, menurut Bapak bagaimana caranya memilih kalimat yang menarik untuk judul tulisan yang tidak melenceng dari isi tulisan.
Terima kasih.
Dewi Yulis Setyawati, USA
SAYA baru saja nemu blog www.yulism.wordpress.com yang membuat kepincut. Yulis, memapar perjalanannya bermuatan keindahan Colorado Spring. Bahasanya bagus. Membacanya, seolah-olah ikut perjalananya. Dilengkapi gambar yang pas, duh sungguh membuai keinginan.
 
Pertanyaan mBak Yulis, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tanya</strong>: Pak Ersis, menurut Bapak bagaimana caranya memilih kalimat yang menarik untuk judul tulisan yang tidak melenceng dari isi tulisan.<br />
Terima kasih.<br />
<strong>Dewi Yulis Setyawati</strong>, USA</p>
<p>SAYA baru saja nemu blog <a href="http://www.yulism.wordpress.com">www.yulism.wordpress.com</a> yang membuat kepincut. Yulis, memapar perjalanannya bermuatan keindahan Colorado Spring. Bahasanya bagus. Membacanya, seolah-olah ikut perjalananya. Dilengkapi gambar yang pas, duh sungguh membuai keinginan.<span id="more-504"></span><br />
 <br />
Pertanyaan mBak Yulis, setelah menyimak blognya agak serius, sebenarnya tidak pantas dijawab. Sekalipun demikian, mana tahu berguna buat yang mempunyai kesulitan memilih judul yang menarik.<br />
 <br />
Judul tulisan, merupakan daya tarik pertama, walaupun bukan utama, tulisan. Titel Royal Gorge (Goerge?) sudah pas, namun alangkah manisnya kalau dijadikan, Menuai Nyaman Royal Gorge. Kesannya lebih menggaruk kenyamanan. Lebih dari hanya sekadar mengandung paparan fakta namun bermuatan keindahan. Mengundang keinginan untuk membacanya.<br />
 <br />
Memilih judul, terutama bagi para pengecap pendidikan, biasanya dipatri ajaran, judul harus mengambarkan isi. Itu tradisi akademis. Apabila kita menulis makalah, skripsi, tesis, atau disertasi, hukumnya wajib. Kita tidak boleh main-main dengan judul.<br />
 <br />
Lain halnya manakala menulis tulisan populer atau bersifat umum untuk konsumsi khalayak. Judul, adakalanya lebih bagus ‘dimainkan’. Ada yang menjadikannya sebagai teka-teki, comotan kalimat menarik seperti ‘untouchable’, bahkan terbalik dengan isi tulisan. Seorang yang punya blog baru diamsalnya dengan beristeri kedua dimana di akhir tulisan baru disadari yang dimaksud penulis, dia mempunyai blog baru, blog kedua.<br />
 <br />
Judul tulisan, pada hakekatnya disamping titel, penanda, dan atau refleksi tulisan, agar tulisan menarik untuk dibaca. Mereka yang iseng, terkadang memilih judul yang kurang sopan, tidak seronok, bahkan menyinggung bukan saja individu, tetapi kelompok tertentu. Hingga, ketika selesai membaca, kita berkomentar, diamput.<br />
 <br />
Pada buku Menulis Sangat Mudah, (2007 dan 2008) saya menulis (sub) judul: Teori Berak. Mas Urip (Helduelberg) menposting ulang dan ramai ‘digunjingkan’ di blognya. Pada buku Menulis Mari Menulis (2008) saya menulis judul: Menulis, Belajarlah Bak Sholat. Agak nakal pada buku Menulis dengan Gembira (2008) saya tulis: Menulis BH dan Air Berkaki.<br />
 <br />
Membaca majalah Tempo saya paling suka judul yang diplesetkan dari kata-kata populer. Misalnya, Tidak satu jalan ke Jakarta, dari Tidak satu jalan ke Roma. Kan asyik begitu membaca judul tulisan: Sisa-sisa Laskar Korupsi DPR mengacu Sisa-Sisa Laskar Pajang, dan seterusnya. Yang penting, jangan menciplak judul. Kalau mengkreasii kan tidak ada salahnya. Ada pepatah, No New under The Sun.<br />
 <br />
Kembali ke pokok pertanyaan, kalau tulisan bagus, istilah orang-orang sok keren, kalau tulisan berbobot (emang kapal), apa pun judulnya pastilah akan menarik. Yang jadi persoalan, tulisan tidak menarik, judulnya membingungkan, Maka lengkaplah ketidakmenarikkan tulisan.<br />
 <br />
Dus, memilih judul tulisan bukanlah persoalan terlalu seruis. Sekalipun demikian, upayakan agar judul tulisan menarik dan tidak melenceng dari isi tulisan. Misalnya kita menulis tentang penjelajahan planet Mercury diberi judul planetarium. Yo ngak macht lah yaw.<br />
 <br />
Intinya, apabila judul tulisan (dikira-kira) mampu menarik orang untuk membacanya, ya jadilah. Bagaimana agar menarik itu, tidak ada ukuran pastinya. Bagi saya lebih kepada feeling. Yang perlu diingat, judul adalah bagian paling awal tulisan agar menarik untuk dibaca. Ah, kog berbelit-belit sih? Tidak juga.<br />
 <br />
Kriteria judul, tujuannya agar menarik dibaca. Kalau judulnya formal dan menarik, kenapa tidak? Tidak ada kriteria baku. Sebab, judul adalah ‘pilihan hati’ penulis. Kiat jitunya, menulis, menulis, dan terus menulis, dengan begitu judul-judul tulisan bagus akan menjadi dengan sendirinya.<br />
 <br />
Bagaimana menurut Sampeyan?<br />
 <br />
Banjarbaru, 9 September 2008.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://menulismudah.com/2008/09/18/01-judul-tulisan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sharing Kesulitan Mernulis</title>
		<link>http://menulismudah.com/2008/09/18/sharing-kesulitan-mernulis/</link>
		<comments>http://menulismudah.com/2008/09/18/sharing-kesulitan-mernulis/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Sep 2008 15:20:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ersis</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://menulismudah.com/?p=503</guid>
		<description><![CDATA[Punya Kesulitan menulis? Soal mudah saja itu. Sampeyan kemukakan masalahnya, lebih detail lebih baik, dan Insya Allah &#8230; akan dijawab dan ditayangkan pada www.webersis.com dan www.menulismudah.com. Jadikan menulis mudah. Mari sharing.
Banjarbaru, 18 September 2008
Ersis Warmansyah Abbas.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Punya Kesulitan menulis? Soal mudah saja itu. Sampeyan kemukakan masalahnya, lebih detail lebih baik, dan Insya Allah &#8230; akan dijawab dan ditayangkan pada <a href="http://www.webersis.com">www.webersis.com</a> dan <a href="http://www.menulismudah.com.Jadikan">www.menulismudah.com.</a> Jadikan menulis mudah. Mari <em>sharing</em>.</p>
<p>Banjarbaru, 18 September 2008<br />
Ersis Warmansyah Abbas.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://menulismudah.com/2008/09/18/sharing-kesulitan-mernulis/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Hari Peringatan Kebangkitan Nasional&#8230;..?? (Budi Utomo / Sarikat Islam)</title>
		<link>http://menulismudah.com/2008/06/26/hari-peringatan-kebangkitan-nasional-budi-utomo-sarikat-islam/</link>
		<comments>http://menulismudah.com/2008/06/26/hari-peringatan-kebangkitan-nasional-budi-utomo-sarikat-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jun 2008 04:43:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ersis</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[100 Tahun KN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://menulismudah.com/?p=491</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Zul Haziah
Nomor Peserta 069
Kebangkitan nasional adalah proses kebangsaan yang mengacu pada bangkitnya semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.. Karena kebangkitan ini adalah sebuah proses, maka hampir tidak bisa ditentukan dengan pasti kapan mulainya kebangkitan nasional tersebut (Daniel Dhakidae), kemunculannya tanpa disadari oleh rakyat Indonesia. 
Maka, baik  Budi Utomo ataupun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Oleh <strong>Zul Haziah<br />
</strong>Nomor Peserta 069</p>
<p>Kebangkitan nasional adalah proses kebangsaan yang mengacu pada bangkitnya semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.. Karena kebangkitan ini adalah sebuah proses, maka hampir tidak bisa ditentukan dengan pasti kapan mulainya kebangkitan nasional tersebut (Daniel Dhakidae), kemunculannya tanpa disadari oleh rakyat Indonesia. <span id="more-491"></span></p>
<p>Maka, baik  Budi Utomo ataupun Sarikat Islam tidak bisa dijadikan patokan mulainya proses Kebangkitan Nasional, karna sebuah proses memerlukan waktu, dan kebangkitan nasional yang merupakan proses kebangsaan tidaklah berlangsung dalam waktu satu hari, tetapi secara bertahap dan memerlukan proses yang sangat lama.</p>
<p>Akan tetapi, penetapan hari Peringatan Kebangkitan Nasional tetap perlu dilakukan, walaupun hanya untuk tujuan administratif dan birokratif saja (Daniel Dhakidae) . Artinya kebangkitan nasional tidak dimulai pada tanggal tersebut, tetapi penetapan ini perlu dilakukan dengan tujuan yang lebih berorientasi kepada pentingnya merayakan peringatan kebangkitan nasional untuk mengenang dan memahami bagaimana proses terbentuknya rasa persatuan dan kesatuan masyarakat Inonesia.</p>
<p>Masyarakat Indonesia yang tadinya terpecah-belah dalam kesukuan di daerahnya masing-masing menjadi terintegrasi karna merasa adanya persamaan nasib dan budaya. Proses integrasi yang bermula dari adanya penerapan politok etis yang dicetuskan olen Van De Venter (irigasi, edukasi dan migrasi), yaitu politik balas budi bangsa penjajah terhadap rakyat Indonesia atas kekayaan alam dan tenaganya yang diambil oleh bangsa penjajah, akhirnya menyadarkan masyarakat di seluruh wilayah Indonesia akan pentingnya menjalin persatuan dan kesatuan,  menghimpun dan menyatukan kekuatan melawan penjajahan bangsa kolonial pada saat itu, serta menguatkan rasa nasionalisme terhadap bangsa Indonesia.</p>
<p>Budi Utomo dan Sarikat Islam adalah organisasi awal yang pada saat itu muncul yang sama-sama peduli akan nasib bangsa Indonesia yang teraniyaya. Budi Utomo (BU) adalah organisasi yang didirikan oleh pelajar, terutama pelajar STOVIA, dengan tujuan awalnya yaitu memajukan masyarakat Hindia-Belanda (Indonesia).. Namun, ruang lingkupnya masih sebatas untuk kemajuan wilayah Jawa dan Madura.</p>
<p>Hal ini terlihat dalam pasal 2 Anggaran Dasar BU, yaitu “Tujuan organisasi untuk menggalang kerjasama guna memajukan tanah dan bangsa Jawa dan Madura secara harmonis”. Sedangkan Sarikat Islam, berawal dari dibentuknya organisasi Sarikat Dagang Islam (SDI) pada tanggal 16 Oktober 1905, yang tujuan utama awal pendiriannya adalah memajukan perdagangan dan melawan monopoli perdagangan cina, serta memajukan agama Islam, yang anggotanya masih sebatas para pedagang Islam di seluruh wilayah di Indinesia.</p>
<p>SDI kemudian berubah menjadi Sarikat Islam (SI) pada tahun 1911, dengan merubah syarat keanggotaannya, yang tadinya hanya sebatas orang-orang yang berprofesi sebagai pedagang berubah meliputi semua profesi masyarakat Indonesia, tetapi masih mensyaratkan anggotanya beragama Islam.</p>
<p>Dilihat dari hari kelahiran dan ruang lingkup kedua organisasi tersebut (BU dan SI), maka muncullah tanggapan dan pendapat bahwa hari kelahiran BU kurang layak dijadikan hari peringatan Kebangkitan Nasional, tetapi hari kelahiran SI-lah yang lebih pantas dijadikan tonggak hari Kebangkitan Nasional tersebut, karna berbagai alasan. Seperti kelahirannya yang telah 3 tahun didahului oleh SDI, yang juga didirikan atas semangat nasionalisme, semangat untuk memperjuangkan nasib rakyat Indonesia saat itu; ruang lingkup perjuangan dan keanggotaan organisasi BU yang hanya sebatas untuk orang Jawa dan Madura, sehingga tidak bisa dikatakan sebagai organisasi yang bersifat nasional.<br />
Sedangkan arti Kebangkitan Nasional sendiri mengacu pada ruang lingkup yang menyeluruh, dalam hal ini kebangkitan dari dan untuk seluruh rakyat di seluruh wilayah Indonesia, sehingga BU masih bersifat kesukuan, tidak nasionalis-tidak mencakup seluruh wilayah di Indonesia.</p>
<p>Hal ini lebih kepada SI yang ruang lingkup perjuangan dan keanggotaannya mengacu pada seluruh wilayah Indonesia, karna mencakup seluruh wilayah di Indonesia walaupun masih sebatas untuk orang Islam, sehingga SI lebih bersifat nasionalis daripada BU; dan beberapa alasan lainnya yang membuat SI lebih pantas mendapat predikat sebagai tonggak Kebangkitan Nasional daripada BU, seperti tokoh-tokoh BU yang sebagian besaar terdiri dari kaum priyayi pegawai pemerintah kolonial Belanda; dibubarkannya BU pada tahun 1935 sebelum bangsa Indonesia memperoleh kemerdekaan 1945, sedangkan SI masih berdiri dan ikut berjuang sampai Indonesia memperoleh kemerdekaan; serta tidak adanya anggota BU yang masuk penjara dan ditembak atau menjalangi hukuman pengasingan, sedangkan anggota SI banyak yang dimasukkan ke penjara dan ditembak mati, serta mendapat hukuman pengasingan.</p>
<p>Dijadikannya hari kelahiran BU, 20 mei 1908 sebagai hari peringatan Kebangkitan Nasional adalah karna BU dianggap aksi pertama adanya gerakan atau tindakan dari rakyat Indonesia untuk memperjuangkan nasib rakyat Indonesia, berorientasi pada pemicuan semangat nasionalisme, walaupun seruan ini masih dan hanya sebatas untuk orang-orang Jawa dan Madura.</p>
<p>Namun, dari sinilah masyarakat di berbagai wilayah lainnya di Indonesia terilhamkan / tercetuskan dalam pikiran mereka untuk menguatkan keberanian dan tekad memperjuangkan nasib bangsa Indonesia, mulai bergerak dan berusaha dengan mendirikan organisasi-organisasi sebagai tempat perjuangan, berjuang bersama tanpa melihat asal daerah/kesukuan.</p>
<p>Hal ini pulalah yang mendasari perlu adanya penetapan hari peringatan Kebangkitan Nasional, untuk memberikan penghargaan kepada sebuah organisasi yang dianggap sebagai pemicu untuk bergerak dan berusaha,  mengkongkritkan semangat memperjuangkan nasib bangsa dan rasa nasionalisme terhadap bangsa Indonesia.</p>
<p>Sedangkan SI yang pada awalnya adalah SDI yang memang kelahirannya lebih dulu dari BU, pada awal pendiriannya berorientasi untuk memperjuangkan nasib para pedagang Islam, melawan monopoli perdagangan yang dilakukan para pedagang Cina, baru nanti setelah SDI berubah menjadi SI orientasi perjuangan beralih untuk memperjuangkan nasib bangsa Indonesia, tetapi perubahan ini terjadi pada tahun 1911,  3 tahun setelah BU berdiri.<br />
Namun, melihat hari kelahiran SDI lebih dahulu dari pada BU, walaupun perjuangannya masih berorientasi pada nasib pedagang-pedagang Islam, ada kemungkinan BU juga berdiri atau terbentuk karna terilhami dari terbentuknya SDI tersebut, hanya saja perjuangannya berorientasi untuk memperjuangkan nasib dan rasa nasionalisme bangsa. Terilhami untuk mendirikan organisasi sebagai tempat perjuangan kemerdekaan atau nasib bangsa, tidak hanya sebagai tempat untuk kemajuan kelompok tertentu atau nasib kelompok tersebut.</p>
<p>Terlepas dari adanya perdebatan masalah hari Peringatan Kebangkitan Nasional, apakah BU atau SI yang lebih pantas dijadikan sebagai tonggak Kebangkitan Nasional, hal terpenting yang perlu disadari adalah bagaimana cara kita menyikapi makna Kebangkitan Nasional itu sendiri.</p>
<p>Tindakan-tindakan atau aktivitas-aktivitas apa saja yang harus kita lakukan untuk meneruskan perjuangan masyarakat Indonesia terdahulu dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Sehingga Kebangkitan Nasional yang sudah dirintis dengan susah payah dan mengeluarkan begitu banyak pengorbana tersebut, menjadi tidak sia-sia.</p>
<p>Bangsa Indonesia saat ini sedang mengahadapi begitu banyak masalah. Mengarahkan pikiran dan tindakan untuk memecahkan masala-masalah tersebut lebih baik dan efisien dalam mengisi kemerdekaan, serta memberikan manfaat yang lebih besar terhadap masyarakat Indonesia.</p>
<p>Berorientasi pada kesalahan masa lalu, di saat banyaknya masalah-masalah yang perlu dipecahkan yang apabila jalan keluarnya didapat bisa lebih bermanfaat untuk orang banyak, yaitu masyarakat Indonesia, adalah tindakan yang kurang bijaksana melihat seberapa besar manfaat-manfaat yang bisa diambil dari setiap tindakan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://menulismudah.com/2008/06/26/hari-peringatan-kebangkitan-nasional-budi-utomo-sarikat-islam/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Perjalanan Seabad Kebangkitan Nasional</title>
		<link>http://menulismudah.com/2008/06/26/perjalanan-seabad-kebangkitan-nasional/</link>
		<comments>http://menulismudah.com/2008/06/26/perjalanan-seabad-kebangkitan-nasional/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jun 2008 04:42:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ersis</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[100 Tahun KN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://menulismudah.com/?p=490</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Wiwik Norliyana
Nomor Peserta 068
Tanggal 20 mei 1908 berdirinya organisasi Budi Utomo. Tanggal tersebut diperingati sebagai hari kebangkitan nasional. Budi Utomo meripakan pelopor berdirinya organisasi modern yang lain dan arah perkembangannya bersifat nasional juga. 
Dari proses perjalanannya, Budi Utomo dapat dipandang sebagai pelopor pergerakan nasional untuk melawan penjajah. Organisasi ini berdiri karena timbulnya suatu kesadaran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Oleh <strong>Wiwik Norliyana<br />
</strong>Nomor Peserta 068</p>
<p>Tanggal 20 mei 1908 berdirinya organisasi Budi Utomo. Tanggal tersebut diperingati sebagai hari kebangkitan nasional. Budi Utomo meripakan pelopor berdirinya organisasi modern yang lain dan arah perkembangannya bersifat nasional juga. <span id="more-490"></span></p>
<p>Dari proses perjalanannya, Budi Utomo dapat dipandang sebagai pelopor pergerakan nasional untuk melawan penjajah. Organisasi ini berdiri karena timbulnya suatu kesadaran akan keterbelakangan yang diakibatkan oleh kolonialisme dan tradisionalisme.<br />
Bangsa Indonesia akan ketidaksamaan hak (diskriminasi) antara penjajah dan bangsa terjajah. Keterbelakangan itu menimbulkan keinginan untuk majudan terbebas dari penjajahan. Dengan melalui berbagai proses yang panjang akhirnya bangsa Indonesia mewujudkan dan mempertahankan kemerdekaan sampai saat ini.</p>
<p>Dalam mewujudkan kemerdekaan sangat dibutuhkan rasa persatuan dan kesatuan, sikap dan sifat saling mendukung satu sama lain guna meraih cita-cita bersama. Dengan adanya sikap tersebut, Indonesia dapat bersatu melawan penjajah.perjuangan yang dilakukan rakyat Indonesia diwujudkan dalam bentuk sikap rela berkorban dan tanpa pamrih demi terwujudnya kemerdekaan.</p>
<p>Selain itu, dalam perjuangan mewujudkan dan mempertahankan kemerdekaan juga diperlukan sikap saling pengetian dan saling menghargai guna terwujudnya kesepakatan bersama serta menambah rasa persatuan dan kesatuan.</p>
<p>Sekarang, setelah bangsa Indonesia mendapatkan kemerdekaan, perjuangan bangsa Indonesia masih terus berlanjut. Rakyat Indonesia melanjutkan perjuangannya dalam mempertahankan dan mengisi kemerdekaan tentunya tidak mudah, karena pada proses ini pasti mendapat banyak kesulitan baik dari dalam maupun luar negeri.</p>
<p>Hingga saat ini perjuangan Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan tiddak berjalan mulus. Hal ini dikarenakan terjadinya kesalahan dimasa lalu yang menyebabkan berbagai krisis di tubuh bangsa Indonesia, seperti krisis politik, krisis ekonomi, dan krisis kepercayaan.</p>
<p>Berbagai krisis ini yang akhirnya menimbulkan gerakan reformasi. Reformasi yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah perubahan radikal untuk perbaikan di bidang sosial, politik, ekonomi, dan agama dalam suatu masyarakat atau negara.</p>
<p>Reformasi sendiri dapat diartikan sebagai pembentukan kembali suatu tatanan kehidupan dari tatanan kehidupan yang lama dengan tatanan kehidupan yang baru dengan tujuan kearah yang lebih baik dari sebelumnya.</p>
<p>Pasca reformasi yang dimulai Mei 1998, cita-cita untuk mewujudkan bangsa yang bersih dari KKN, menjunjung tinggi keadilan, dan melindungi HAM masih kabur. Genap sepuluh tahun sudah demokrasi berjalan di luar dari asas negara hukum, banyak kasus-kasus  lama baru saja terungkap salah satu contohnya adalah terungkapnya kasus-kasus korupsi di kalangan pejabat penting negara, terjadinya penyelundupan kayu di beberapa wilayah Indonesia, kekuatan-kekuatan massa mengorganisasi diri dan main hakim sendiri.</p>
<p>Memang harus diakui jika reformasi menyimpan harapan besar bagi perbaikan tatanan kehidupan di negeri ini. Suatu harapan yang wajar bagi rakyat yang sangat berharap adanya perubahan dan perbaikan kehidupan. Pemerintah hanya memberi janji tanpa ada realisasi. Indonesia negeri yang kaya akan kekayaan alamnya.</p>
<p>Namun, kehidupan rakyatnya sangat memprihatinkan. Karena masih banyak rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan, kelaparan, gizi buruk, dan pendidikan masih sangat mahal. Lalu apa tujuan reformasi sebenarnya? Apa yang telah dihasilkan masa reformasi setelah berjalan selama sepuluh tahun? Pada kenyataannya reformasi tidak menghasilkan suatu sisi positif yang bermanfaat bagi rakyat. Malah banyak yang menilainya gagal.</p>
<p>Sampai saat ini masih banyak persoalan-persoalan yang menyerang berbagai aspek kehidupan: sosial, budaya, ekonomi, politik, hukum, dan aspek lainnya yang menambah panjang penderitaan bangsa kita.</p>
<p>Untuk itu bersama-sama kita perbaiki dan berhenti saling tuding-menuding mencari siapa yang salah atas semua kejadian yang telah menimpa bangsa kita ini. Dengan keterpurukan ini hendaknya pemerintah tergugah untuk menata kembali kehidupan dan tujuan reformasi yang telah menyimpang. Membangun kembali bangsa kita secara perlahan. Mewujudkan dan menjalankan reformasi yang sebenarnya. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://menulismudah.com/2008/06/26/perjalanan-seabad-kebangkitan-nasional/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kebangkitan Nasional Tak Mempunyai Makna</title>
		<link>http://menulismudah.com/2008/06/26/kebangkitan-nasional-tak-mempunyai-makna/</link>
		<comments>http://menulismudah.com/2008/06/26/kebangkitan-nasional-tak-mempunyai-makna/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jun 2008 04:41:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ersis</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[100 Tahun KN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://menulismudah.com/?p=489</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Vida Aulia Rakhman
Nomor Peserta 067
Kebangkitan Nasional yang diperingati setiap tanggal 20 Mei ini tetap menjadi polemik perseteruan perebutan nama besar, dimana pada tanggal ini ditandai dengan berdirinya sebuah organisasi Budi Utomo yang didirikan oleh Sutomo atau sapaan akrab Bung tomo mendapat kecaman bahwa bukan organisasi ini yang pertama terbentuk melainkan sarekat Islam lah yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Oleh <strong>Vida Aulia Rakhman<br />
</strong>Nomor Peserta 067</p>
<p>Kebangkitan Nasional yang diperingati setiap tanggal 20 Mei ini tetap menjadi polemik perseteruan perebutan nama besar, dimana pada tanggal ini ditandai dengan berdirinya sebuah organisasi Budi Utomo yang didirikan oleh Sutomo atau sapaan akrab Bung tomo mendapat kecaman bahwa bukan organisasi ini yang pertama terbentuk melainkan sarekat Islam lah yang mendahului mereka, sampai sekarang pun peristiwa sejarah itu masih menjadi pertanyaan. Dapat dilihat betapa pentingnya sebuah nama besar sebagai salah satu bentuk legitimasi agar apa yang telah di bentuk dan di rintis pada masa lalu dapat menjadi kenangan yang harus selalu diingat oleh rakyat Indonesia.<span id="more-489"></span></p>
<p>100 tahun bukan waktu yang singkat bagi perjalanan pemerintahan Indonesia, banyak perjuangan dan pengorbanan yang telah dilakukan demi tercapainya kemerdekaan negara kesatuan Republik Indonesia. sejak ditandai dan diakuinya kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 oleh pemerintahan Jepang maka dimulai lah pembenahan diri pemerintahan Indonesia dalam perputaran perekonomian kancah dunia. Banyak pihak yang menyatakan kemerdekaan berawal dan bersumber berkat lahirnya Budi Utomo yang merupakan tonggak utama dari keinginan untuk merintis kemerdekaan negara sendiri, sumpah pemuda pun dijadikan pula sebagai pemicu lahirnya ini. Gerakan-gerakan ini lahir karena para pemuda Indonesia telah mengecap pendidikan seadanya yang diperoleh karena politik etis pemerintahan Belanda terhadap kaum pribumi kita. ternyata kita masih terlalu lama dijajah Belanda dibandingkan dengan peringatan seabad Kebangkitan Nasional kita,itulah Indonesia tanah air yang kucintai.</p>
<p>Pada masa sekarang Kebangkitan Nasional diperingati dengan acara-acara besar yang membutuhkan banyak biaya yang kita tidak mengetahui darimana asal muasal dana itu diambil. Seabad nominal angka yang besar untuk memberikan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia. Banyak permasalahan yang timbul yang mewarnai peringatan ini diantarnya dengan kenaikan harga BBM yang sangat meresahkan semua pihak, terjadi demo dimana-mana yang menentang akan kebijakan pemerintahan itu. namun tidak ada yang bisa dibuat pemerintah atas kenaikan harga itu karena memang keadaan minyak dunia sedang mengalami kenaikan.</p>
<p>Peristiwa diatas adalah kado istimewa bagi kita, kebangkitan nasional yang diharapkan tidak sesuai dengan keinginan. Harapan sebagai rakyat Indonesia untuk bisa bangkit dari keterpurukan krisis yang melanda malah bertambah..Kebangkitan yang muncul karena keinginan hati rakyat Indonesia pada jaman dulu yaitu agar bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya menjadi bebanding terbalik dari apa yang dicitai-citakan sebelumnya.</p>
<p>Masih kurangnya kesadaran akan bagaimana makna bangkit itu sendiri yang menjadi kurangnya rasa memiliki antar sesama untuk menjaga dan membahagiakan satu sama lainnya. Pendidikan dan kesehatan gratis dijadikan sebagai misi utama yang harus dipenuhi dan dicapai dalam setiap pencalonan kepala pemerintahan. Dua faktor ini yang selalu dielu-elukan untuk dapat mensukseskan dan semi kelancaran pemilihan itu agar dapat dipercaya oleh rakyat menjadi pemimpin pemerintahan. Tidak terlihat disini tindakan yang mencerminkan adanya kemauan untuk dapat bersama-sama menyelesaikan permasalahan yang selalu menghantui tiap daerah di Indonesia,ikrar sumpah pemuda yang merupakan pencetus kesatuan tidak dirasakan.</p>
<p>Kesatuan itu hampir tidak ada, yang muncul hanya kepentingan golongan untuk dapat berada di puncak kekuasaan teringgi di negara. Lumayan serupa dengan jaman kerajaan dulu yang lebih mementingkan kepentingan intern kerajaannya daripada harus bersatu demi menjaga keutuhan nusantara,dan dampaknya dapat diruntuhkannya kerajaan-kerajaan itu. Kekuasaan menjadi faktor penggairah utama yang dianggap menjamin kemakmuran dan kesejahteraan.</p>
<p>Kebangkitan Nasional hampir tidak mempunyai makna sekarang ini, peringatan-peringatan yang dilaksanakan hanya sebagai formalitas belaka agar dapat dikatakan sebagai bangsa yang masih menghargai sejarah. Mengapa demikian??? karena pesan dari peristiwa itu sendiri tidak dapat dipahami dan dimaknai dengan baik. Berusahalah Indonesia !!!!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://menulismudah.com/2008/06/26/kebangkitan-nasional-tak-mempunyai-makna/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mewarisi Etos Perjuangan Hassan Basry (Sebuah Refleksi untuk Kebangkitan)</title>
		<link>http://menulismudah.com/2008/06/26/mewarisi-etos-perjuangan-hassan-basry-sebuah-refleksi-untuk-kebangkitan/</link>
		<comments>http://menulismudah.com/2008/06/26/mewarisi-etos-perjuangan-hassan-basry-sebuah-refleksi-untuk-kebangkitan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jun 2008 04:41:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ersis</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[100 Tahun KN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://menulismudah.com/?p=488</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Taufikurrahman
Nomor Peserta 066
“Saya yakin sungguh-sungguh bahwa jiwa 17 Mei tetap kita miliki dari dulu, sekarang dan pada masa-masa yang akan datang.” (Pidato Hassan Basry, 17 Mei 1963)
Kenalkah Anda dengan Hassan Basry, seorang pahlawan nasional dari Kalimantan Selatan yang wajahnya hanya kita kenal lewat buku-buku sejarah. Bahwa eksistensi Hassan Basry tak dapat dipisahkan dengan kelahiran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Oleh <strong>Taufikurrahman</strong><br />
Nomor Peserta 066</p>
<p>“Saya yakin sungguh-sungguh bahwa jiwa 17 Mei tetap kita miliki dari dulu, sekarang dan pada masa-masa yang akan datang.” (Pidato Hassan Basry, 17 Mei 1963)</p>
<p>Kenalkah Anda dengan Hassan Basry, seorang pahlawan nasional dari Kalimantan Selatan yang wajahnya hanya kita kenal lewat buku-buku sejarah. Bahwa eksistensi Hassan Basry tak dapat dipisahkan dengan kelahiran organisasi perjuangan ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan, yang telah mengukir sejarah perlawanan heroik terhadap kolonialisme Belanda. <span id="more-488"></span></p>
<p>Kisah perjuangannya ternyata lebih heroik daripada Spiderman III.<br />
ALRI Divisi IV telah memberikan warna yang tajam dalam antisipasinya terhadap politik pecah belah Belanda pada saat itu. Politik “devide et impera” dengan gerakan federalisme-nya ini telah dikecam begitu keras oleh Hassan Basry sebagai seorang pejuang nasionalis yang tetap bertahan pada prinsip perjuangan.</p>
<p>Kemudian dalam rangkaian perjuangan melawan penjajahan Belanda itu, Hassan Basry bertindak sebagai Proklamator Proklamasi 17 Mei 1949, suatu proklamasi yang menunjukkan tantangan terhadap masih berkuasanya Pemerintahan NICA/ Belanda di bumi Lambung Mangkurat ini.</p>
<p>Proklamasi 17 Mei 1949 merupakan suatu usaha mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia (17 Agustus 1945) oleh rakyat di Kalimantan Selatan, yang menyatakan bahwa wilayah Kalimantan Selatan merupakan bagian integral dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dalam usaha mempertahankan kemerdekaan itu pada kenyataannya tidaklah mudah, karena para pejuang harus melewati serangkaian perjuangan fisik dalam kurun waktu tahun 1945-1949, yang dirasakan sangat berat karena para pejuang dihadapkan untuk melawan pemerintah kolonial Belanda yangsangat kuat.</p>
<p>Kegigihan almarhum dalam bergerilya bersama rakyat meninggalkan anak isteri adalah suatu pengabdian yang tidak ternilai harganya. Hal itu berlangsung selama tahun 1945 sampai 1949, bersama-sama dengan para pejuang lainnya, antara lain H.Aberani Sulaiman, Gusti Aman, Budhigawis, Hammy AM., P.Arya dan lain-lain.</p>
<p>Untuk menghormati jasa-jasa almarhum, berdasarkan Kepres RI Nomor 110/TK/2001 tanggal 3 November 2001 Brigjen (Purn) H Hassan Basry dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Hassan Basry yang menurut catatan Syamsiar Seman, lahir di Padang Batung, Kandangan pada 17 Juni 1923 dan wafat di Jakarta pada 15 Juli 1984, juga digelari Bapak Gerilya Kalimantan. Namanya diabadikan menjadi nama salah satu kapal perang (KRI), sejumlah jalan di beberapa kota kabupaten dan kotamadya serta nama untuk prasarana lainnya.Gelar ini merupakan bentuk penghargaan tertinggi dan terhormat yang diberikan oleh pemerintah kepadanya atas segala peran dan perjuangan beliau dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan RI khususnya didaerah Kalimantan Selatan.</p>
<p>Ada ungkapan yang menyatakan bahwa: Bangsa yang besar adalah bangsa yang selalu menghargai jasa-jasa para pahlawannya. Tetapi ironisnya pada masa sekarang ini kita rasakan penghargaan terhadap jasa-jasa pahlawan makin luntur. Kita dan generasi muda perlu diingatkan kembali arti penting dan makna Pahlawan yang sarat nilai sejarah. Kita harus sadar, pembangunan bisa berjalan berkat tetesan darah para pejuang. Bangsa Indonesia tidak akan maju dan mempunyai character building jika tak mampu menghargai pengorbanan para pahlawan.</p>
<p>Mereka yang disebut “pahlawan” adalah seorang warga negara yang telah berjasa besar dan luar biasa kepada bangsa dan negara, rela berkorban dan berjuang tanpa pamrih. Dikatakan pahlawan karena mereka merupakan sosok panutan yang telah melahirkan nilai-nilai keteladanan yang luhur dan semangat kepahlawanan (heroisme) yang pada jamannya mewarnai sikap dan perilaku kehidupannya dalam memperjuangkan nasib bangsa dan negara ini.</p>
<p>Perlu ditegaskan bahwa makna “mewarisi Etos” berarti fokusnya pada ‘etos’, bukan ‘mitos’. Mewarisi Etos berarti meneladani jiwa dan semangat perubahan, bukan mitos yang bersifat klenik atau misteri. Etos melawan penindasan, dan penolakan bujukan atas jabatan, itu yang harus dilestarikan.</p>
<p>Mewarisi etos sangat relevan terutama dikaitkan peristiwa kebangsaan akhir-akhir ini ketika kita masih berada dalam suasana peringatan Kebangkitan Nasional tanggal 20 Mei. Peringatan Kebangkitan Nasional merupakan perode awal tumbuhnya rasa nasionalisme dikalangan rakyat Indonesia yang pada saat itu masih bersifat kedaerahan dan belum menjadi semangat yang berwawasan kebangsaan.</p>
<p>Perjuangan Brigjen H.Hassan Basry harus diteladani oleh generasi sekarang, untuk kemudian disosialisasikan kepada masyarakat secara luas. Selama ini kita tidak mempunyai wahana untuk sosialisasi pahlawan dan nilai-nilai kepahlawanan secara luas, padahal nilai kepahlawanan perlu tetap dilestarikan untuk menunjang eksistensi bangsa dan negara di tengah percaturan dunia.</p>
<p>Menghargai jasa pahlawan berarti kita tidak melupakan sejarah.. Ada kata-kata hikmah bahwa ”masa lalu adalah sejarah, masa depan itu misteri, masa kini adalah karunia”. Dengan sejarah mari kita mensyukuri hari ini, dan merencanakan masa depan.</p>
<p>Pertanyaannya, bagaimana kita merencanakan masa depan dan berefleksi dengan hal-hal yang telah kita lakukan? Kita perlu kembali ke jati diri bangsa. Peradaban dan kebudayaan tidak bisa dilepaskan dari proses memahami “jati diri” sebagai proses memanusiakan manusia dalam kerangka keindonesiaan yang kita miliki. Oleh karenanya, peradaban bangsa seharusnya didesain oleh nilai-nilai kehidupan yang bernas untuk membangkitkan kembali keterpurukan bangsa ini. Jati diri sebagai bangsa yang besar dan religius harus terus-menerus disegarkan dan dihidupkan dalam menjawab tantangan masa depan. Dengan modalitas itulah bangsa kita memperoleh landasan intelektual, spiritual, moral dan etika yang bersumber pada ke-Tuhanan Yang Maha Esa.</p>
<p>Sikap budaya religius itu banyak persamaannya dengan sikap dan budaya berbagai bangsa di Asia –sehingga kita sebut budaya Timur. Namun, sikap budaya itu berbeda, bahkan bertentangan dengan sikap budaya dunia Barat yang sejak Renaissance di abad ke-15 mengambil sikap budaya yang menaklukkan alam (to conquer nature). Hassan Basry menolak invasi Belanda dalam hal ini, karena tidak sesuai dengan nilai budaya dan kemanusiaan.</p>
<p>Jika sikap budaya Timur memandang kebersamaan atau masyarakat sebagai pilar kehidupan, maka sikap budaya Barat menganggap individu manusia sebagai nilai utama. Itu sebabnya dunia Barat menghasilkan individualisme dan liberalisme, diikuti materialisme yang bermuara pada imperialisme dan kolonialisme.</p>
<p>Maka momentum untuk memperingati sumbangsih Brigjen H.Hassan Basry berarti mengembalikan memori kita kepada nilai dan etos kepahlawanan, selain itu dengan menjaga persatuan dan kedaulatan bangsa. Kesalahan orde terdahulu adalah membuat kita sebagai warga negara seakan-akan harus monoloyalitas terhadap seseorang, terhadap rezim bersangkutan. Padahal tidak, kita harus monoloyalitas kepada NKRI. Titik.</p>
<p> </p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://menulismudah.com/2008/06/26/mewarisi-etos-perjuangan-hassan-basry-sebuah-refleksi-untuk-kebangkitan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
