Toko Buku Pindah di Genggaman Anda!

By | September 21, 2017

Buku online sebagai Digital Book makin marak dan Google sebagai penyedia platform toko buku besar mempunyai peran penting sebagai toko buku online. Beberapa toko buku cetak yang sedang-sedang saja gulung tikar. Bahkan beberapa tahun lalu kita juga mendengar toko buku Legendaris, Gunung Agung juga bangkrut. Walaupun polemik di Gunung Agung lebih kepada urusan perusahaan keluarga, namun bangkrutnya Toko Buku Gunung Agung menjadikan contoh bahwa toko buku cetak yang tidak berinovasi dalam segala hal akan mengalami kekalahan dalam persaingan di dunia modern.

Dulu ada Pusat Buku Indonesia di Mall Kelapa Gading yang besar dengan beberapa penerbit yang berkonsinyasi di sana. Kemudian tutup! Bahkan saya ingat betul sebuah berita dari Harian Kompas yang terbit pada hari Sabtu tanggal 3 September tahun 2011 halaman 12, yang memuat sebuah judul besar: Toko Buku di Daerah Banyak yang Bangkrut.

Mengapa hal ini terjadi? Apakah Karena masyarakat yang dulunya menjadikan toko buku sebagai tempat mencari informasi pengetahuan kini dapat digantikan internet? Masyarakat tidak perlu panas-panasan menuju ke toko buku dan dapat digantikan sambil tiduran dengan pencet-pencet tombol hp dan buku dikirim ke rumah, ataupun dapat langsung dibaca sebagai digital book.

Saya sangat ingat betul, waktu SD dan SMP, ketika ingin mendapatkan informasi pengetahuan, saya memakai sepeda menuju ke toko buku terbesar saat itu di Yogyakarta, di sebelah Tugu Yogya. Toko buku itu bernama Gunung Agung. Saat itu masuk ke toko buku sangat keren. Bisa menyelinap di antara ratusan buku yang dijejer di rak-rak buku merupakan kepuasan tersendiri.

Ya, itu adalah pengalaman puluhan tahun yang lalu. Kemudian mulai tahun 2010, toko buku banyak yang merasakan sepi pengunjung. Apalagi hadirnya generasi Y dan Z yang ketika lahir sudah berada di era internet. Bagaimana nanti apabila generasi X habis? Mereka yang masih mengatakan bahwa memegang buku cetak merupakan kepuasan tersendiri? Ya, bagi sayapun apabila membaca buku masih nyaman dan puas dengan buku cetak. Mungkin generasi saya dan di atas saya mengatakan demikian, yiatu masih perlu buku cetak. Namun bagaimana dengan generasi Y dan Z di mana mereka memilih membaca di wattpad, play book dan kindle?

Bagi industri buku, hal ini tidak dapat diabaikan. Setidaknya kita menyadari bahwa jaman berubah. Teknologi berubah dan generasi baru tumbuh menyesuaikan jaman. Walaupun bagi saya sebagai penulis buku yakin bahwa untuk 15 tahun ke depan, industri buku cetak masih mendapat tempat di masyarakat. Namun sebagai penulis tentu saja juga harus mengikuti perkembangan era teknologi yang ada.

Eropa, Amerika dan Australia yang merupakan tempat yang sudah lebih maju dari Indonesia saat ini, masih mempunyai toko-toko buku cetak yang selalu mempunyai pelanggan di sana. Bedanya dibalik, yaitu peluncuran buku pertama lewat digital dan baru kemudian dicetak. Kalau di Indonesia adalah peluncuran buku dicetak dan baru masuk ke dunia digital.

Kalau dunia digital memang tidak dapat diingkari dan tidak dapat dihindari, maka mengapa industry buku dan penulis tidak masuk di dalamnya? Setidaknya untuk mempersiapkan era 15 tahun ke depan. Kertas dengan bahan baku kulit pohon sangat mungkin akan menjadi langka dan bahkan pohon dilindungi untuk diproduksi. Dengan demikian buku nantinya akan menjadi barang yang sangat mahal. Lalu kalau orang ke toko buku, mereka adalah ke museum buku yang menyimpan pengetahuan yang pernah dituliskan di kertas. Hal ini sama ketika saat ini kita masuk ke museum dan membaca tulisan di atas papirus atau lontar.

Saya sebagai penulis memang mulai masuk ke dunia digital dan untuk itu saya sharing kepada teman-teman yang lain tidak ada salahnya mencoba karena modal yang dikeluarkan relative tidak ada. Bahkan penerbitpun tidak perlu menyeleksi isi tulisan, Karena yang menjadi juri adalah pembaca. Pembaca dapat membaca 20% dari halaman yang ada sebagai contoh sehingga dapat menilai buku tersebut layak dibeli atau tidak. Jadi sekarang, apabila ada calon pembaca buku yang jauh jangkauannya dari toko buku dan biaya distribusi buku cetak tergolong malah, saya dapat memberinya saran, “Masuk ke Play Store saja atau Play Book lalu ketikkan nama: agung webe. Setelah itu pilih buku saya di sana.”

Kalau sebagai Penerbit buku cetak memang harus menyeleksi isi naskah dari penulis dalam penerbitan buku cetak, karena perhitungan untung dan rugi. Dalam hal ini disebabkan penerbit mengeluarkan modal yang lumayan besar untuk cetak buku, sehingga ia harus meneliti dan menyeleksi naskah-naskah yang dirasa akan menguntungkan baginya.

Belum lagi saat penerbit menaruh bukunya di toko buku. Ia hanya akan diberikan waktu 6 bulan. Apabila selama 6 bulan ternyata dianggap tidak laku oleh toko buku maka buku akan dikembalikan kepada penerbit (retur). Nah, apabila penerbit tidak menyeleksi dan tidak yakin bahwa naskah yang akan diterbitkan akan menguntungkan dirinya, maka ia akan rugi dari biaya cetak, biaya kertas, bisaya distribusi dan biaya marketing.

Tidak demikian dengan buku digital. Ketika buku anda sudah onlie maka selama tidak dihapus maka tidak akan dikembalikan walaupun tidak laku. Artinya bahwa hal ini dapat dijadikan sebagai investasi jangka panjang. Lalu berapa keuntungan penulis apabila bukunya diterbitkan online sebagai buku digital?

Dalam buku cetak, penulis hanya mendapatkan royalty sebesar 10% dari harga buku yang tertera. Kecil? Memang demikian penghargaan kepada penulis di Indonesia. Nah, buku Digital Bagaimana? Yang jelas Google sebagai toko buku online yang sudah menyediakan platform jualan meminta 50% dari harga jual. Kemudian dari penerbit yang bermitra dengan google bermacam-macam membaginya kepada penulis. Ada penulis yang diberi 25%, ada yang 30% bahkan ada penerbit digital yang mendedikasikan untuk penulis sangat besar, yaitu 40%. Penerbit itu sendiri bersedia hanya mendapatkan 10%. Penerbit ini bernama AWC Books.

Mengapa penerbit seperti ini mau mendedikasikan keuntungan yang besar bagi penulis? Ya, Karena penerbit menyadari kesulitan penulis, usaha penulis, ide kreatif penulis yang layak dihargai dengan pantas. Jadi apabila harga buku cetak anda adalah 40 ribu, maka royalty cetak anda 4 ribu. Sedangkan dalam digital, apabila harga buku digital anda 40 ribu, maka royalty anda adalah 16 ribu.

Mau tidak mau, suka tidak suka, era digital telah bergulir dan lambat laun dunia akan mengalami digitalisasi, cepat atau lambat.

Apakah anda tertarik sebagai penulis masuk ke dunia buku digital?

(Visited 145 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *