Rugi puluhan juta dari buku yang dipajang di toko buku

By | July 14, 2017

Seorang penulis pemula, bernama Gadis sudah membuat bukunya dan mulai dijual kepada teman-temannya. Distribusi bukunya dimulai sendiri dengan cetak buku yang dinamakan ‘Print on Demand’ (POD) dengan cara penjualan Direct Selling, artinya Gadis mempromosikan lewat akun instagram dan facebooknya sendiri. Bagi penulis pemula, hal ini akan sangat membantu.

Mengapa saya katakan Direct Selling membantu? Karena seorang penulis membutuhkan personal branding yang cukup sehingga profesi penulis yang dilakukannya lebih dikenal banyak orang dan akhirnya bukunya dicari. Ya, ia harus aktif mengenalkan dirinya sebagai penulis ke lebih banyak orang dan banyak komunitas.

Lain halnya kalau penulis dulunya memang sudah dikenal sebelum menulis buku. Misalnya ia tokoh publik, politisi, penyanyi, artis film maka ketika ia menulis buku sudah banyak orang  yang tahu dan hal ini merupakan salah satu keuntungannya.

Bagi seseorang yang belum dikenal masyarakat secara luas maka langkah untuk terus mengabarkan dirinya sebagai penulis lewat akun media sosialnya atau blog pribadinya akan sangat membantu. Godaan penulis baru adalah tawaran bahwa bukunya akan didistribusikan di seluruh toko buku di Indonesia, baik lewat penerbit maupun kerjasama dengan distributor.

Saya sendiri mempunyai pengalaman dengan penjualan yang sangat sedikit pada awal-awal saya menulis, walaupun buku saya tersebut diterbitkan oleh penerbit dan saya sebagai penulis tidak mengeluarkan biaya apapun. Namun tingkat penjualan yang rendah menyebabkan saya hanya menerima royalti per enam bulan sebesar 200 – 300 ribu rupiah atau bahkan hanya 80 ribu rupiah.

Kembali kepada Gadis di atas. Jumlah cetak dan penjualan dari buku gadis yang mulai 50 buku, lalu 100 buku, lalu 200 buku membuat Gadis tergesa-gesa dengan tawaran dari distributor buku yang menawarkan bukunya untuk didistribusikan ke toko buku seluruh Indonesia! Wow! Menarik bukan? Terpasang di seluruh toko buku di Indonesia!

Lalu apa yang terjadi? Distributor meminta stok buku sebanyak 2500 eksemplar dan dipenuhi oleh Gadis. Mungkin distributor tidak menjelaskan rinci bahwa stok buku di sebuah toko buku ada masa kadaluarsanya yang rata-rata adalah enam bulan. Apabila selama enam bulan laku buku di bawah standar toko buku maka buku akan dikembalikan ke distributor. Sementara pembagian fee kepada distributor adalah 50% dari harga jual buku.

Bagi distributor buku, mereka tidak akan ada kerugian apabila sebuah buku tidak laku karena ia tidak mengeluarkan modal dalam pembuatan buku. Gadis memang berharap bukunya sebanyak 2500 eksemplar laku dengan dipajang di toko buku. Namun apa yang terjadi? Modal cetak sebanyak lebih dari 30 juta terpaksa harus kembali berbentuk buku. Selama enam bulan penjualan buku Gadis di toko buku kurang laku karena nama Gadis dan karyanya belum banyak dikenal masyarakat. Selama enam bulan tersebut buku Gadis hanya laku sebanyak 150 eksemplar dan sisa bukunya dikembalikan (retur) oleh toko buku ke distributor. Kemudian Distributor menghubungi Gadis agar mengambil kembali sisa bukunya tersebut.

Kadang, penulis pemula tergesa-gesa dan merasa apabila bukunya sudah dapat terpajang di toko buku akan menyebabkan bukunya laris manis. Apabila seorang penulis hanya ingin bukunya terpajang di toko buku adalah hal yang sangat mudah, yaitu menghubungi distributor buku dan bekerjasama dengannya dengan cara pembagian hasil dari harga jual buku yang biasanya adalah 50% : 50% atau bahkan ada yang minta 60%.

Gadis kini kebingungan bagaimana lagi memasarkan bukunya yang sebanyak 2350 eksemplar itu. Untuk itu, sebagai penulis, kembangkan jaringan Anda, rutin menulis dengan kualitas tulisan yang baik sehingga banyak masyarakat yang tahu karya Anda dan profesi kepenulisan Anda.

(Visited 243 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *