Afi dan Dugaan Plagiat dalam tulisannya.

By | June 1, 2017

Nama akun facebooknya Afi Nihaya Faradisa. Sebetulnya saya tidak mengikuti postingannya, termasuk tulisan berjudul WARISAN yang menjadi viral dan kemudian menjadikannya diundang kemana-mana. Terus terang, setelah mendapat saran untuk melihat tulisan WARISAN tersebut, sayapun tidak membacanya sampai habis. Yang terbersit pertama kali saat disarankan membaca tulisan itu adalah “Kasihan apabila hal ini nantinya dijadikan komoditas atau barang dagangan oleh para oknum politik yang memanfaatkan situasi.”

Namun semangat menulis Afi patut saya acungi jempol karena ternyata diapun tidak hanya menulis satu atau dua status panjang. Sebagai seorang penulis, tentu saya akan mendukung siapapun yang memulai menulis, termasuk Afi. Apa yang ditulis oleh Afi tentu bukan hal yang baru, bahkan mungkin sudah banyak ditulis oleh banyak orang dengan tema yang sama, yaitu pluralisme. Pertanyaannya adalah mengapa Afi? Mengapa Afi yang dijadikan artis yang bagi saya terlihat sebagai ‘barang yang diperdagangkan?’

Mudah-mudahan saya salah, karena ini hanya kekhawatiran saya saja. Mungkin saja kemunculan tulisan Afi ini kebetulan dengan ‘pertarungan politik’ yang sedang terjadi, yaitu sebuah ruang yang mungkin sengaja diciptakan sebagai arena debat antara ‘Ahokers dan pendukung Ulama’. Dan tema tulisan Afi mengandung seruan toleransi untuk merangkul minoritas yang sedang merasa dipojokkan. Tentu saja tema ini sangat mudah untuk ‘digoreng’ hingga menjadi masak bahkan gosong!

Semula saya tidak ingin ikut-ikutkan membuat tulisan tentang Afi atau tentang tulisannya. Alasan saya adalah karena situasi sedang sangat rentan untuk ‘digoreng’. Apabila memang ada ‘aktor intelektual’ di balik kemunculan Afi, tentu ia adalah orang yang sangat bertanggung jawab terhadap mental Afi apabila terjadi hujatan-hujatan mental yang tadinya tidak terpikir oleh seorang Afi.

Lalu beberapa saat yang lalu, di kompasiana ramai tentang “Drama dugaan Plagiat”. Bahwa Afi diduga melakukan plagiat atas tulisannya dari akun facebook Mita Handayani. Benarkah? Benarkah Afi melakukan tindakan plagiat? Tentu yang dapat menjawab ini hanyalah Afi dan Mita sendiri . Terutama jawaban dari Mita yang dikabarkan telah menulis status serupa pada Juni 2016 tahun lalu.

Bagi saya agak janggal apabila tulisan Afi yang menjadi viral dan tidak diketahui oleh Mita. Kemudian apabila memang terjadi plagiat dalam tulisan tersebut, mengapa Mita diam saja? Setidaknya ia dapat mengirim saran kepada Afi tentang hal tersebut. Kemudian dari sekian banyak tulisan di wall Mita, mengapa hanya tulisan itu yang di-setting ‘friend only’ sedangkan tulisan lainnya di-setting ‘public’.

Setting tulisan sebagai ‘friend only’ seperti screen capture yang beredar dapat digunakan sebagai alibi bahwa yang mencarinya di wall Mita dan tidak berteman dengannya dan tidak akan menemukan posting tersebut.

Atau ini hanyalah rekayasa? Kalau rekayasa untuk apa? Artinya baik Afi atau Mita sendiri hanyalah korban dari sebuah konspirasi yang tidak diketahuinya? Afi yang dianggap sebagai icon remaja penyeru pluralisme dan Mita yang dikenal sebagai pendukung Ahok?

Entahlah, saya tidak ingin masuk ke dalam polemik politik tersebut, walaupun sangat mungkin itu bisa terjadi. Yang menjadi perhatian saya adalah, apakah status facebook boleh diplagiat? Di facebook sendiri memang tidak ada aturannya. Beda dengan penerbitan buku yang memiliki undang-undang No. 28 tahun 2014. Apabila ada status facebook yang diplagiat sebagai status lain, secara undang-undang tidak dapat dipersalahkan dan tidak dapat dituntut. Dalam penulisan status facebook, apabila ia seorang penulis yang tahu dunia kepenulisan, maka yang dipegang hanyalah kode etik penulisan untuk menjaga tidak saling melakukan plagiat. Jadi sekali lagi, plagiat dalam penulisan status facebook tidak diatur oleh undang-undang facebook.

Dalam kasus dugaan adanya plagiat ini, maka sebaiknya Afi membekali dirinya dengan pengetahuan menulis yang resmi. Kalau dilihat bahwa Afi senang menulis maka ia harus membekali dirinya dengan ilmu dan pengetahuan menulis yang makin dalam. Kalaupun ternyata tindakan plagiat itu benar adanya, tidak usah risau dan khawatir. Hadapi dengan lapang dada, minta maaf dan tidak mengulangi lagi di tulisan-tulisan berikutnya. Tingkatkan kemampuan menulis selanjutnya.

Melihat screen shot dari status facebook yang beredar, saya akan memberikan gambaran bahwa status yang sama dapat direkayasa. Saya hanya memberikan contoh bahwa tulisan yang sekarang sedang rutin saya posting setiap sahur di Ramadhan 1438 (2017) ini, bisa dibuat seolah-olah sudah ditulis oleh akun lain (saya menggunakan akun teman: Arif Rahutomo), yaitu ditulis tahun 2015 lengkap dengan bulan dan jam penulisannya. Lalu akun Arif Rahutomo tersebut pada postingnya dibuat setting ‘friend only’ agar kalau ada yang menelusuri dan bukan teman tidak dapat menemukannya.

Silahkan dilihat pada gambar ini:

Lalu posting perbandingan status yang sama tersebut dapat dibuat tampak di share oleh akun lain. Dalam hal ini akun yang share dibuat dengan nama Lambe Turah.

Semua status atas akun Arif Rahutomo dan akun lambe Turah adalah fake alias palsu yang ternyata dapat dibuat seolah-olah nyata.

Nah, berita foto akun saya dan akun Arif Rahutomo tersebut dapat dibuat demikian: “Agung Webe ternyata seorang plagiat! Ternyata postingnya selama Ramadhan tahun ini menjiplak dari tulisan Arif Rahutomo yang pernah dipostingnya di bulan Juni 2015.

Apakah tulisan Afi sebagai plagiat atau tidak menjadi penting bagi kita? Atau kita hanya sekedar mengambil celah untuk memuaskan ego atas perbedaan ideologi semata? Ataukah kita sedang memanfaatkan momen ini untuk kembali melancarkan ‘gencatan politik’ atas isu Pancasila dan Islam?

 

Mari kita merenung sejenak.

(Visited 3,676 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *