02. Mengembangkan Tulisan
Oleh Ersis Warmansyah Abbas
Tanya: Saya mau menulis novel, tapi kurang PD. Bagaimana membuat alur cerita yang menarik dan logik?
Suhadi Mulkan, Danau Panggang, Kalsel.
Saya tertarik menulis fiksi dengan ending manis dan tidak terduga. Ada kiat-kiat bagus gak, pak?
Marshmallow, Australia.
PADA pelatihan jurnalistik yang digelar Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesi (KAMMI) Banjarbaru di Fakultas Tehnik Unlam Banjarbaru, 8 Sepember 2008, saya tandaskan, menulis sangat mudah sembari menyentikkan empu jari ke kelingking. Sayaratnya, punya otak dan masih mampu berpikir. Kalau otak udang, jangan pernah mimpi jadi penulis. Biasa, gaya saya menghentak persepsi tentang menulis, bukan bermaksud menghina.
Begitu mereka terperangah atau ngedumel, dilanjutkan. Kalau syarat utama sudah dipenuhi ada syarat dasar, banyak membaca dan tidak takut salah. Yang pertama berguna sebagai bahan baku menulis, dan yang kedua agar punya keberanian mengeluarkan apa yang ada di pikiran dan dipikirkan. Untuk itu, buang malu. Tulis saja.
Coba, kata saya lebih menghentak, perhatikan dosen kalian yang bergelar Sarjana, Magister, atau Doktor yang Profesor. Puluhan tahun mengajar, menuliskan apa yang didongengkannya di ruang kuliah tidak mampu. Mana merasa manusia paling hebat sejagad menyuarakan pikiran pakar lain. Karyanya? Nol koma nol. Ada yang hampir mati, menulis satu buku saja tidak. Kenapa?
Takut menulis, takut ketahuan bodohnya. Kalau ngomong doang, begitu selesai ditelan ruang. Kalau disulang: “Apa yang Bapak kuliahkan salah tu, di buku anu tidak seperti itu”, akan dijawab: “Kamu salah dengar”. Enak kalau hanya ngomong atau ngedongeng doang.
Lain halnya kalau menulis. Jangankan salah konsep, salah satu huruf saja bisa berabe. Coba tulis kosakata nabi, karena salah ketik tertulis babi. Tidak bisa berkelit, tertulis, ada bukti konkretnya. Nah, karena takut ketahuan bodohnya, cukup menyalahkan tulisan mahasiswa. Makalah jelek, skripsi bobrok, atau tesis ngak karu-karuan. Kalian jangan belajar menulis pada mereka yang tidak terbukti mampu menulis.
Nah, kalau yakin masih mampu berpikir, mari menulis. Melaui panca indera kita memasukkan ‘pengetahuan’ ke otak, pikiran memformulasikan. Apabila matang (emang memasak kue) dituliskan. Ya, menuliskan ide; rancangan yang tersusun di dalam pikiran, gagasan, atau cita-cita. Begitu arti ide menurut KBBI (1988: 319).
Karena itu, karena EWT berfokus melahirkan atau menuangkan apa yang ada di pikiran, apa sih susahnya menuliska apa yang ada dan kita pikirkan? Tuliskan saja, habis perkara, dan pasti jadi tulisan.
Duga-duga saya, Suhadi dan Marshmallow baru memulai menulis novel. Celakanya persepsinya tentang novel, harus sebagus karya Agatha Christy, J.K. Rowling, Andrea Hirata, atau Habiburrahman El Shirazy. Boleh-boleh saja, namanya saja keinginan. Tapi, anjuran saya, selesaikan, setelah itu dibaca ulang, diperbaiki, atau ditulis ulang. Namanya saja baru memulai.
Celaka kedua, bertanya kepada saya. Saya memang telah menulis ratusan tulisan, ratusan puisi, puluhan cerpen, puluhan buku, beberapa diantara laris, tetapi … masih belum berani menerbitkan novel. Beberapa novel saya termenung dalam draf. Tapi, tetap saja menulis novel. Insya Allah, nanti akan mengalahkan karya Andrea Hirata he he (mimpi kali). Sekalipun begitu, karena sharing dengan sesama yang belum ‘menjadi’ ada baiknya. Eloknya, tinggal mengover gaya menulis ala EWT.
Masih ingat? Pikiran yang telah diformulasikan sedemikian rupa dinamakan ide alias rancangan yang tersusun di dalam pikiran, gagagasn, atau cita-cita. Kalau kesulitan menuangan dan atau mengembangkan ide berati idenya belum tersusun secar benar, belum matang. Banyak orang terperangkap pada kesalahan demikian.
Pada tulisan saya Menulis di Otak pada buku Menulis Sangat Mudah (2007 dan 2008) pada dasarnya pertama-tama kita menulis di otak. Saya sering menulis saat menyetir, mendengar pidato pejabat yang tidak mutu, mengikuti seminar yang ngak jelas ujung pangkalnya. Kadang-kadang sampai sepuluh tulisan ditulis di otak. Nah tulisan yang sudah kompak di otak itu, begitu ada jedah, ada kesempatan, dituangkan, ditulis. Mudah kan?
Jangan pernah memikirkan apa yang akan ditulis, tetapi tulislah apa yang ada di pikiran. Kepercayaan diri alias PD tidak pernah didapat kalau hanya bermain pada tataran ide. Kepercayaan diri bangkit apabila kita melakukan sesuatu. Lagi pula, bagaimana orang meapresiasi manaka pikiran masih bersemanyam di otak, di pikiran. Tuangkan, lahirkan, tuliskan.
Jangan pernah menilai tulisan yang masih di otak sebab belum menjadi. Memikirkan hal tersebut membuang-buang energi, itu dunia para pelamun. Nilailah, perbaiki, diskusikan, tulisan yang telah menjadi. Dengan demikian kita belajar darinya.
Ranah menulis di otak adalah proses pematangan tulisan, apabila telah dituliskan menjadi tulisan kita berada di wilayah penyempurnaan tulisan —karena telah ada. Pada kasus Marshmallow, matangkan, sempurnakan di ranah otak, dan … tuliskan. Kenapa terkendala?
Ya, itu tadi, belum ‘selesai’ di tataran tulisan di otak, belum matang. Dan, itu hal baik, sebab pada tataran tersebut kita bisa meliuk-liukkan, membangun alur cerita. Jangan disesali atau dimushi. Justru disitu bagusnya. Semakin matang ide semakin mudah disempurnakan (diperbaiki) manakala tulisan menjadi.
Pada tataran ini, sampai kita kepada satu hal sangat penting, ranah latihan. Menulis satu dua, ibarat resep makanan, belum berasa. Tetapi, manakala telah menjadi masakan, bisa dicicipi. Ini garam kurang deh, lengkuasnya kebanyakan, kunyitnya ditambah, ketumbar tak perlu, dan cengkih cukup sebiji saja sebab bukan membuat masakan ala orang Arab.
Apalagi dalam menulis fiksi, bebannya lebih ringan. Kita tidak terlalu terikat fakta, sebab fiksi lebih kepada imajinasi. Saya menulis belasan cerpen dengan setting Abad XXIII, menulis dari tahun 2220. Jauh lebih mudah dari menulis artikel. Tapi, saya tidak bicara soal kualitas lho ya. Sebagai bahan analisis, simak cerpen Suhadi, Kita Putus Saja Bur; www: suhadinet.wordpress.com. Bangun cerita dan settingnya bagus, walau judulnya, agak gimana gitu.
Endingnya tidak terduga sebagaimana diingin Marshmallow. Kalau saya jadi Suhadi, itu bukan kapasitas cerpen, tapi … novel. Belum pernah orang menulis cerpen dengan latar belakang danau panggang dengan kerbau kalangnya. Luar biasa. Saya yakin, kalau diseriusi Suhadi, percintaan biasa-biasa saja bisa dibuat alurnya menjadi kuat dan mencengangkan.
Kembali ke jalur, ada dua hal yang perlu diperhatikan, matangkan ide di otak, dan perkuat latihan menuliskan ide. Kalau sudah fasih, ibarat mengetik, tidak melihat keyboard pun jari-jari otomatis menekan tiap huruf yang kita inginkan.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 10 September 2008.
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.



December 7th, 2008 at 10:00 am
Saya adalah pendiri dan pemilik Tabloid Internet. Saya bertempat tinggal di Banjarbaru (G.Manggis). Saya sangat terbantu dengan tips-tips yang diberikan oleh Pak Ersis dari bukunya yang berjudul Menulis Sangat Mudah.
Saat ini saya sengaja mencari referensi bacaan yang bisa ‘menyemangati’ saya dalam mengelola Tabloid Internet.
Saya juga ingin mengundang Pak Ersis untuk komen atau posting artikelnya ke weblog saya. Setiap artikel dari Pak Ersis akan saya usahakan untuk dimuat di Tabloid Internet edisi cetak. Saya cukup berharap pak Ersis sudi mengunjungi weblog saya dan bersedia memberi saran tentang penerbitan pers tabloid.
Thanks.
Esaul Daris
TABLOID INTERNET