Sepotong Kue Pembangkit Nasionalisme
Oleh Sri Wahyuni
Nomor Peserta 063
Mungkin terlalu naif jika membaca judul diatas. Sepotong kue bisa menjadi pembangkit semangat nasionalisme ? Mana bisa ? Mungkin baru membaca judulnya saja sudah tersungging senyum hambar dibibir. Menimbulkan rasa ketidakpercayaan. Setengah mati membual barangkali tuduhan yang tepat.
Tapi begitulah kenyataannya. Rasa nasionalismeku justru bangkit saat menatap dan menyantap sepotong kue. Bagi kebanyakan orang di Indonesia, kue ini jauh dari istimewa karena dapat dengan mudah didapatkan dipasar-pasar tradisional.
Kue itu kue klepon namanya. Pangganan bulat kecil yang didalamnya terdapat cairan gula merah dengan baluran butiran-butiran parutan kelapa disekelilingnya itu mampu menggugah ingatanku akan tanah air. Ya…menikmati jajan pasar ini di Jepang adalah suatu nikmat yang luar biasa.
Hampir mustahil rasanya dibelantara kota megapolitan Tokyo, aku bisa menikmati jajan kelangenanku dimasa kanak-kanak ini. Kenikmatan itu hadir saat bazaar HUT kemerdekaan RI 2007 digelar tahun lalu. Saat setiap hari hanya sushi, sashimi dan tempura yang akrab didepanku.
Sungguh sangat surprise, sampai membelalak tajam mata ini saat kutahu hidangan itu bernama klepon. Ketika di Indonesia, jangankan membuatnya, membayangkan elemen-elemen pembentuknya saja aku tak mampu. Tak mampu menggurai bahan-bahan yang digunakan untuk membuat kue sederhana itu. Apalagi disini ! Di Jepang ini, dimana harus membeli gula merah, atau kelapa parut ? Benar-benar tak pernah terpikirkan olehku.
Kenapa bisa kue sepele ini membangkitkan semangat nasionalismeku ? Jawabannya sederhana. Aku merasakan, saat jauh dari tanah air segala sesuatu yang berbau Indonesia pasti menimbulkan gairah. Hanya dengan membaca berita-berita bencana yang dilihat dari situs surat kabar online saja bisa menggerakkan simpati warga Indonesia di Jepang ini.
Begitu mendengar kabar duka menimpa Indonesia, serta merta kegiatan amal dalam rangka penggalangan dana kemanusiaan digelar. Hasilnya dalam sekejap, curaham empati dan simpati berwujud dana segar yang siap disalurkan. Meski bukan materi yang utama, namun setidaknya kegiatan amal ini bisa menginggatkan bahwa sekali pun terpisah jarak ribuan kilometer ternyata masih ada ikatan dan rasa dihati pada setiap warga Indonesia yang bermukim di Jepang terhadap nasib bangsanya.
Dan jika yang terdengar adalah kabar buruk tentang pelayanan publik di Indonesia, maka segera muncul perbincangan diantara sesama warga Indonesia disepanjang pertemuannya. Meski jarang berjumpa darat, topik–topik seputar perbandingan pelayanan publik di Jepang dan di Indonesia menghangat di milis-milis komunitas Indonesia.
Dengan mudah hujatan terhadap penguasa Indonesia mewarnai. Namun pada akhirnya, kesimpulan debat dimilis merekomendasikan, bahwa harus ada sumbangsih ide bagi perbaikan negeri ini. Meski hanya sebuah ide, namun saat itulah aku yang disini, yang tengah jauh dirantau belajar memberi kontribusi konsep kepada diri sendiri untuk membangun negeri.
Dan lewat sepotong kue klepon didepanku saat itu, kerinduanku akan Indonesia kian membuncah menyesakkan dada. Ditengah kesemrawutan indonesia, justru aku ingin kembali kepangkuannya. Membenamkan diri menyusuri jalan-jalannya yang berdebu dan penuh dengan asap kendaraan bermotor yang menghitam.
Namun sayang, asaku kembali ke Indonesia tidak serta merta bisa kulaksanakan saat itu jua. Karena langkahku masih tertahan oleh hitungan waktu yang tak bisa diputar cepat. Masih ada beberapa tahun mendatang yang harus kutuntaskan untuk meraup bekal sebanyak mungkin.
Di sini, disalah satu sudut negara maju didunia ini, kucoba meraih ilmu sebanyak mungkin tentang segala hal. Mungkin hanya tentang hal-hal yang ringan saja. Misalnya, tentang pengelolaan sampah.
Jika di Indonesia kasus pengelolaan sampah sampai menimbulkan korban jiwa (kasus Bojong contohnya), maka disini aku bisa melihat dengan mata kepalaku sendiri, bahwa sampah bukanlah masalah berarti. Jangankan menimbulkan korban jiwa, bau menyengat saja tak pernah tercium hidungku meski sampah teronggok menggunung disudut jalan dekat rumahku.
Yah, sepotong kue klepon telah mengusik nasionalisme didadaku untuk berusaha memberi kontribusi positif bagi negeriku tercinta. Tunggu, ku kan pasti kembali dengan segudang ide dikepalaku ini.
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.



Leave a Reply