Text Link Ads

Berguru pada penulis legendaris dunia

Oleh: A. Yusrianto Elga

Aktivitas apa pun yang digemari seseorang mesti dimulai dari rasa “tertarik” atau “senang”. Termasuk dalam konteks ini adalah menulis. Seseorang senang menulis karena adanya “ke-tertarik-an” yang begitu kuat, semacam keinginan untuk meluapkan kegundahan batin yang tak tertanggungkan.

Dari rasa “senang” inilah kemudian muncul keinginan yang lebih kuat lagi, yakni upaya untuk menjaga dan meningkatkan konsistensi. Konsistensi menuntut kita sabar, tekun dan percaya diri. Konsistensi menuntut kualitas, bukan kuantitas dari tulisan yang telah dihasilkan. Seseorang bisa dikatakan konsisten jika ia mampu memosisikan minat baca-tulisnya pada level yang tak tergantikan. Ia akan terus menulis dan menulis tanpa memedulikan apakah sejarah akan mengenangnya atau justru menelannya; tidak peduli apakah publik mengakui dirinya penulis atau bukan. Yang terpenting “bertindak walaupun sedikit daripada tenggelam dalam angan-angan ingin bertindak lebih banyak”, tulis sang motivator Zainal Arifin Thoha dalam Aku Menulis Maka Aku Ada (Kutub, 2006).

Aku memang bukan tipe seorang penulis yang (kebetulan) dilahirkan di lingkungan keluarga “pencinta buku”. Dulu aku hanyalah seorang pengagum tokoh-tokoh legendaris dunia. Sejak kecil aku punya hasrat yang kuat untuk membaca dan membaca ketika melihat kawan-kawan sekolahku dulu membawa buku di kelas. Walaupun hasrat itu selalu tak kesampaian karena di samping bahan bacaan di rumahku sangat sedikit, lingkungan di sekolah juga sangat tidak mendukung. Mungkin peristiwa ini penting aku kisahkan sedikit dalam catatan ini. Agar kita semua semakin sadar bahwa untuk menjadi penulis memang dibutuhkan rangsangan-rangsangan yang menggugah, bukan diberi “kiat menjadi penulis” yang aku kira sangat instan dan terlalu praktis (sekarang memang banyak buku-buku yang “mengobral” metode atau langkah-langkah menjadi penulis yang sangat kering inspirasi) .

“Senang”. Ya, awalnya aku senang. Kata inilah yang memberi inspirasi sejumlah penulis legendaris dunia. Sebelum Orhan Pamuk menulis novel My Name is Red, ia gelisah dan hatinya selalu diselimuti perasaan “ingin tahu” ihwal hubungan Barat-Timur yang semakin runcing. Pramoedya Ananta Toer pada mulanya juga gelisah dan akhirnya “tertarik” untuk menulis sejumlah novel sejarah yang membabat habis praktik kolonialisme dan keculasan pemerintah pada masanya. Semua penulis awalnya “senang”.

Semenjak duduk di bangku kelas 1 SMP, aku perhatikan setiap buku-buku yang dibawa kawan-kawanku dengan tatapan laiknya memandang mata perempuan. Aku betul-betul tertarik untuk melihatnya. Terlebih ketika buku itu dibaca oleh pemiliknya, aku semakin merasa “cemburu”. Ada perasaan yang ganjil dalam diriku memang. Semua itu bermula dari rasa “tertarik” atau “penasaran”. Ini yang baru saja aku sadari.

Dulu aku suka membawa buku-buku bacaan ke sekolah – tradisi yang langka di desaku. Tapi jujur, waktu itu motif “gagah-gahan” lebih dominan di banding adanya hasrat untuk mendalami isi-isinya. Di kelas, kawan-kawanku sering memanggilku sebagai “tukang ngumpet”. Sebutan ini bukan keluar dari rasa benci dan dengki. Tapi semacam ekspresi yang muncul dari rasa heran karena waktu istirahat sekolah aku jarang ikut bermain bersama kawan-kawan yang lain. Aku lebih memilih di dalam ruang sunyi untuk membaca buku. Walaupun tentu saja buku yang kubaca tak kumengerti seluruhnya, seperti Siasat Sang Kiai yang membahas tentang pergolakan-pergolakan sosial pada pemilu 1999.

Beberapa tahun kemudian, ketika aku melanjutkan studi di SMA pesantren, aku baru merasa puas. Tidak hanya karena bahan bacaan cukup memadai, tetapi terlebih lingkungan yang begitu kondusif sangat merangsang saraf-saraf imajinasiku. Seperti orang yang sudah kecanduan, aku tak mau melewati hari-hariku tanpa membaca dan menulis. Walaupun kegiatan ini baru kutekuni dengan konsisten pada tahun ke dua di pesantren yang dihuni oleh ribuan santri dengan beragam kultur dan karakter itu. Aku betul-betul merasa nyaman dengan perpustakaan yang koleksi buku-bukunya banyak memberikan inspirasi. Di situ aku mulai menikmati ajaran-ajaran kebijaksanaan Jalaluddin Rahmat lewat Islam Aktual-nya; merenungi dengan seksama gagasan-gagasan progresif Cak Nur yang tertuang dalam karya masterpiece-nya: Islam, Doktrin dan Peradaban; meraba-raba ide-ide “nakal” Gus Dur yang tercecer di kumpulan kolom-kolomnya, seperti Tuhan Tidak Perlu Dibela; dan sejumlah buku-buku yang tak mungkin aku sebutkan satu persatu.

Pada masa-masa inilah kesenanganku pada buku-buku bacaan sedikit demi sedikit mulai meningkat. Setiap kali membaca, aku coba memberikan semacam tafsiran dalam bentuk tulisan. Berkali-kali aku melatih diri seperti ini. Tujuannya, selain agar mudah memahami juga melatih daya-kreativitas menulis. Sebab waktu itu aku sudah meyakini dengan sungguh kata-kata Pram bahwa yang tidak menulis akan dilindas sejarah.

Alhasil, perasaanku semakin sensitif dalam merespons realitas yang berjubelan. Tak pelak, suatu ketika aku dipanggil dan “diadili” oleh pengasuh pesantrenku karena salah satu tulisanku yang bertajuk “Kiai dan Pragmatisme Politik” yang tayang di majalah Muara dianggap menelanjangi kiai-kiai yang berkiprah di dunia politik praktis. Sang pengasuh memang tak menjatuhkan vonis apa pun selain hanya sebentuk nasihat atau teguran agar lebih berhati-hati dalam menulis. Terlebih posisiku pada waktu itu sebagai Pemimpin Redaksi majalah tersebut. Karena itulah beliau mengajakku berdialog ihwal tulisan yang tak pernah terbayangkan akan menjadi persoalan itu.

Di usia yang masih muda, peristiwa itu bagaimana pun membuatku semakin terlecut untuk berkompetisi di jalan kepenulisan yang lebih menantang dan profesional. Ketika detik-detik menjelang kelulusan, aku sedikit pusing memikirkan nasib selanjutnya di dunia pendidikan. Apakah eksistensiku masih berlanjut ataukah sudah berakhir sampai di sini, pikirku. Tidak. Aku harus mengedepankan optimisme. Aku harus melanjutkan ke jenjang Perguruan Tinggi. Aku tetap berkomitmen untuk menjadi “kuli tinta” dengan tantangan yang tentu saja lebih menjanjikan.

Kini, harapanku menjadi kenyataan. Aku berlabuh di kota Jogjakarta setelah sebelumnya sempat mengadu nasib beberapa bulan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Sayang di kota apel ini aku tak kerasan di samping aku tidak lulus tes ujian (dasar nasib!). Potensi kreativitas menulisku juga tak tersalurkan. Mungkin Tuhan tak menjodohkan. Entahlah!

Di Jogja, aku betul-betul merasa tertantang. Pertama kali datang ke kota pelajar ini, aku bertandang ke kediaman almarhum Zainal Arifin Thoha atau yang lebih akrab dipanggil Gus Zainal, penulis buku best seller NU, Pesantren dan Kekuasaan: Pencarian Tak Kunjung Usai. Atas kebaikan beliau aku dizinkan tinggal di paguyubannya yang beliau beri nama: Lembaga Kajian Kutub Yogyakarta.

Lembaga ini mengedepankan spirit kesederhanaan dan kemandirian sebagaimana termaktub dalam jargonnya: “Spiritualitas, Rasionalitas dan Profesionalitas”. Semua penghuninya adalah penulis-penulis muda hasil binaan Gus Zainal. Tak heran, nyaris tiap hari buah karya murid-murid binaan Gus Zainal ini menghiasi media massa lokal dan nasional. Di tempat ini aku terasa menemukan momentum yang sangat pas. Ya, Gus Zainal sendiri yang mengajariku bagaimana menulis yang baik, yang mampu memberikan sentuhan-sentuhan kearifan dan inspirasi pada pembacanya. Gus Zainal juga sering memotivasiku agar mampu meningkatkan produktifitas dalam menulis. Bahkan yang sampai saat ini masih kuingat, beliau menekankan kepada murid-murid binaannya agar tidak hanya berguru secara “teks” kepada penulis-penulis legendaris dunia, tetapi juga berguru secara “spiritual”.

Motivasi Gus Zainal sangat berorientasi masa depan. Beliau adalah guru yang bijak. Aku pantas menahbiskan beliau sebagai “guru legendaris”. Dalam kamus hidupku, posisi beliau berderet di posisi terdepan bersama penulis-penulis legendaris dunia lainnya. Atas motivasi dan ketelatenan beliau, dibawanya aku menyelami pemikiran-pemikiran penulis legendaris macam al-Ghazali, Ibn Arabi, Jalaluddin Rumi, Fariduddin Attar, Ibn Rusyd, Mohammad Iqbal, Plato, Aristoteles, Karl Marx, Mahatma Gandhi, hingga penulis-penulis kenamaan nusantara seperti Pramoedya Ananta Toer, Iwan Simatupang, Sjahrir, Chairil Anwar, Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid dan Emha Ainun Nadjib yang Slilit Sang Kiai-nya membuat aku “termenung” sekaligus “tertawa”.

Aku berguru dan mencintai Gus Zainal sebagaimana aku juga berguru dan mencintai tokoh-tokoh legendaris dunia itu.

Satu hal lagi yang penting kucatat, awal-awal tinggal di paguyuban yang kini masih eksis itu, aku diajak Gus Zainal silaturrahmi ke sejumlah penulis yang tak lain adalah sahabat-sahabat beliau. Joni Ariadinata, Evi Idawati, Kuswaidi Syafi’ie, Arief Fauzi Marzuki, Edi A.H. Iyubenu, adalah penulis-penulis muda yang diperkenalkan Gus Zainal kepadaku. Tentu ini sebuah pengalaman yang sangat berharga. Terlebih waktu itu aku masih “debutan”, baru tinggal sekitar 3 bulan.

Sekitar dua tahun lebih aku belajar di kediaman Gus Zainal yang wafat pada tanggal 14 Maret 2007 di usianya yang masih relatif muda, 35 tahun. Tidak hanya wawasan kepenulisan yang kudapatkan di lembaga itu, tetapi juga spirit kemandirian dan kepercayaan-diri yang tinggi untuk semakin bertarung di medan kepenulisan. <!–[if !supportLineBreakNewLine]–>
<!–[endif]–>

Membaca dan menulis ibarat dua sisi mata uang tak bisa dipisahkan. Inilah komitmen yang kupegang dengan erat sampai saat ini. Walaupun tak lagi tinggal di lembaga milik Gus Zainal itu, kini aku bergabung dengan lembaga I:boekoe (Indonesia Buku), sebuah perkumpulan penulis-penulis muda brilian Yogyakarta yang berpusat di Jakarta. Di lembaga yang menekankan pentingnya sejarah ini, aku semakin tertantang untuk lebih kreatif dan teliti dalam menilai dan menyikapi sesuatu.

Demikianlah rekaman-rekaman perjalanan panjangku dalam mengarungi dunia kepenulisan. Pengalaman ini bagaimana pun adalah bagian dari kepingan sejarah hidup yang kelak akan membentuk kepribadian dan karakter hidupku sendiri. Maka, menulis bagiku adalah perjuangan yang menuntut sensitifitas terhadap realitas yang terjadi yang kemudian menggugah imajinasi untuk berbuat sesuatu. Inilah motivasi yang aku camkan sejak dini. Sebab tanpa adanya motivasi semacam itu, tulisan yang kita hasilkan tak lebih hanyalah sebentuk kumpulah huruf-huruf dan kalimat-kalimat yang tak mempunyai ruh. Kaku dan kering.

Sebagai catatan penutup, aku kutip kata-kata Pram yang tak terlalu indah tapi menggugah: “..Tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti ada yang membacanya!”

Jakarta, 21 Agustus 2008

Hp. 081804224007


You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

AddThis Social Bookmark Button

One Response to “Berguru pada penulis legendaris dunia”

  1. Khoiriyyah azzahro Says:

    saya pun senang menulis dan ingin menjadi penulis yang ’sesungguhnya’. selama ini saya hanyalah penulis lepas. mohon beri saya info bila ada lomba kepenulisan dan lowongan kepenulisan…
    terimakasih..

Leave a Reply