Go Lomba: 100 Tahun Kebangkitan Nasional
Salam. www.menulismudah.com dan www.webersis.com berkolaborasi dengan HU Radar Banjarmasin dan Bandjarbaore Post mengadakan Lomba Menulis 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Mulai 17 April 2008, usai 17 Juli 2008. Hadiah: Juara 1 (Rp.1.000,000,00), 2 (Rp.750.000,00), 3 (Rp.500.000) dan piagam. Kirim tulisan melalui email: lomba@menulismudah.com.
Belajar dari pengalaman Lomba Menulis “Pengalaman Menulis” dimana diikuti hampir 400 peserta, kali ini ada persyaratan, peserta memiliki blog. Tulisan yang diikutkan wajib ditayangkan pada blog peserta.
Oh ya, buku Menulis Mudah; Dari Babu Sampai Pak Dosen, pemenang loma “Pengalaman Menulis” sedang dicetak. Tulisan pemenang akan dibukukan (judul sementara) Kebangkitan Nasional 2008 Tonggak Kejayaan Indonesia.
Tidak ada syarat aneh-aneh. Sebagai pedoman, tulisan yang dikirim diharapkan dari pikiran sendiri sebagai refleksi kondisi obyektif bangsa saat ini. Sampeyan prihatin dengan perpangan nasional, misalnya, apa ide Sampeyan agar pangan bukanlah menjadi beban berat bangsa. Tulis.
Atau, prihatin dengan pengelolaan SDA, serbuan aneka produk asing, banjir, karya budaya ‘dicuri’ bangsa lain, dan bla-bla, tulis dalam ide yang membangkitkan semangat kebangsaan. Selamat berkarya.
Banjarbaru, 12 April 2008
www.Menulismudah.com, www.webersis.com, Radar Banjarmasin dan Bandjarbaore Post.
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.



April 28th, 2008 at 6:15 am
welcome to http://www.kebangkitan.com.. hati dengan orang luar negeri yang ingin menghancurkan bangsa… mari kita bangun bangsa Indonesia ini…
May 17th, 2008 at 1:59 pm
KEBANGKITAN NASIONAL
BAGI
NEGARA YANG TERPURUK
20 mei adalah hari besar nasional yang yang biasa kita sebut dengan hari Kebangkitan Nasional atau Harkitnas dimana telah di peringati ke 100 tahun di Indonesia sejak tanggal 20 mei 1908 dengan dimulainya pergerakan nasional yang ditandai dengan berdirinya organisasi Budi Utomo dengan diteruskan berdirinya organisasi – organisasi yang lain setelah itu.
Pada saat itu pergerakan nasional dilancarkan guna melawan tirani penjajahan bangsa belanda yang telah lama menjajah nusantara kita ini, yang berakibat telah menyengsarakan rakyat nusantara karena praktek kerja paksa yang dilakukan bangsa Belanda terhadap rakyat nusantara.
Tapi pada masa sekarang ini seiring dengan berjalannya waktu dan zaman, setelah kemerdekaan di proklamirkan, peringatan hari besar ini di tandai dengan krisis ekonomi yang bisa dikatakan amat berat sehingga membuat bangsa kita terpuruk. Banyak terjadi kenaikan harga bahan makanan, bahan bakar dan terjadi ketimpangan – ketimpangan sosial, politik yang lainnya yang terjadi dalam tubuh pemerintahan bangsa kita ini. Banyak terjadi penangkapan pejabat oleh KPK karena tindak pidana korupsi, banyak terjadi bencana alam di mana- mana, dan sebagainya.
Yang lebih miris lagi rakyat seakan tidak mau tahu dengan keadaan yang sedang morat – marit ini. Rakyat hanya bisa menuntut, meminta dan memaksa untuk minta bantuan dari pemerintah, padahal bila dipikir-pikir lagi sudah berapa puluh tahun negara kita ini terus menerus mendapat bantuan atau subsisdi dari pemerintah. Secara kasarnya rakyat Indonesia ini terkesan manja dan selalu mengemis pada pemerintah, padahal mereka tidak tahu bagaimana banyaknya masalah yang dihadapi oleh pemerintah saat ini menyangkut krisis ini dan masalah – masalah kenegaraan yang lainnya. Apalagi pada calon kaum intelektual atau yang biasa disebut dengan kata mahasiswa malah memperkeruh suasana dengan mengadakan sejumlah demonstrasi menuntut kinerja pemerintah atas krisis ekonomi yang yang sedang melanda negeri ini, mereka meneriakkan hujatan, tuntutan, dan ancaman serta ejekan yang ditujukan kepada pemerintah, seakan- akan mereka lebih tahu apa yang mereka lakukan itu benar dan dengan atas nama kemanusiaan, padahal mereka itu hanya sok tahu dan sok sosial atau yang lebih kasar lagi mereka itu hanya cari muka dan dan cari pengaruh atau supaya bisa dibilang hebat karena berani memaki-maki pemerintah. Sebenarnya mereka itu hanya akan memperkeruh dan menambah pusing pemerintah dengan kelakuan mereka itu. Mereka tidak tidak sadar bahwa mereka malah mencoreng nama baik mahasiswa yang notabene adalah kaum intelektual yang berpendidikan yang dapat berpikir damai dan baik tanpa harus melakukan demonstrasi. Bukankah lebih mereka fokus terhadap pendidikan mereka dari pada ikut nimbrung urusan pemerintah yang jelas-jelas bukan urusan mereka. Lebih baik mereka belajar dengan giat agar dapat memperbaiki negeri kita kelak nantinya bukan malah demonstrasi seperti itu. Atau lebih baik jika mereka melakukan bakti sosial pengumpulan dana dengan cara penjualan dan pengumpulan buku – buku atau pakaian layak pakai atau membuat lapangan pekerjaan yang mana hasilnya dapat di sumbangkan bagi yang memerlukan itu semua, bukan kah lebih bijaksana seperti itu daripada harus teriak-teriak dan kepanasan tanpa hasil. Terlepas dari itu di dalam pemerintahan juga harus memikirkan rakyat juga pada pejabat atau anggota dewan harus bisa lebih prihatin bukannya menumpuk harta. Mereka mendapat gaji bulanan sudah jutaan rupiah ditambah lagi dengan berbagai tunjangan dan fasilitas – fasilitas yang mewah. Padahal kerja mereka hanya duduk dan mendengarkan sidang. Bukan kah lebih baik bila tunjagan dan gaji para pejabat dan anggota dewan di tekan dan dialihkan untuk memperbaiki kestabilan ekonomi bangsa kita. Biar rakyat tidak merasa dikecewakan karena telah memilih mereka. Lebih baik para pejabat dan wakil rakyat atau anggota dewan mengalah demi rakyat yang telah memberinya kepercayaan dan amanat.
Sungguh peringatan hari kebangkitan nasional yang menyedihkan. Banyaknya iklan- iklan yang menyuarakan hari kebangkitan nasional padahal mereka tidak tahu arti kebangkitan nasional yang sesungguhnya hanya bisa bicara saja. Tapi kita harus tetap berbangga hati karena telah menjadi bagian dari Indonesia ini, dari negeri ini kita banyak belajar tentang segala hal dan dengan sebijaksana mungkin menyikapinya. Dan tetap meneruskan perjuangan para pejuang untuk menjaga negeri kita kita tercinta ini dengan bersama kita bangun kembali negeri kata yang terpuruk ini dan mengembalikan kejayaannya seperti masa silam. Hanya kerja sama dari segenap warga negeri ini yang dapat menyelamatkan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Selamat hari Kebangkitan Nasional bagi Indonesia kita tercinta
May 24th, 2008 at 3:48 am
seabad suda tonggak cita-cita bangsa dan panji-panji kebangkitan di kibarkan. namun nyatanya hari ini realitas tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.berbagai bencana dan masalah silih berganti datang menyapa bangsa insonesia.mencul pertanyaan, apa dan siapa?
kebangkitan bangsa yang telah di manifestasikan pada tanggal 21 Mei beberapa tahun lalu oleh para perintis bangsa kini masih jauh panggang dari api. yang ada hanyalah kebangkitan bangsa karena banyaknya komporator-komporator asing berserta antek-anteknya. ditambah lagi kaum kapitalis yang menggerogoti kekayaan indonesia. hutan di jarah,tanah di gali dan hasilnya di bawa keluar negriinilah realitas kebangkitan negri kita. bangsa indonesia telah mengidap penyakit akut, dimana bangsa ini tidak bisa mandiri dan selalu bergantung pada asing.
bukan hanya itu, adanya faktor intern seperti disintegrasiyang di akibatkan oleh banyaknya perbedaan yang dimiliki negara kita turut mengurangi rasa nasionalisme. namun sebenarnya hal ini dapat di cegah dengan melakukan penerapan dan pemahaman tentang wawasan nusantara yang dapat menjadikan perbedaan itu menjadi sebuah kekuatan dan kekayaan bangsa indonesia.
adapun upaya untuk mengurangi ketertgantungan bangsa terhadap asing yaitu dengan cara mengurangi sifat malas yang sudah tertanam kuat dalam jiwa bangsa indonesia. caranya mungkin dengan menanamkan kemauan yang muncul dari dalam diri untuk berkembang. niat itu sebenarnya sangat dukung oleh segi geografis negara kita. dimana indonesia memiliki tanah yang subur. sandang dan pangan dapat di penuhi sendiri melalui sistim petanian. dan masih banyak lagi cara lain untuk memenuhu kebutuhan secara mandiri demi terciptanya ketahanan nasional.
May 24th, 2008 at 4:06 am
bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai jasa para pahlawan yang telah berjuang membela bangsa dan negara.begitu halnya dengan bangsa indonesia dimana tanpa adanya perjuangan dari orang-orang terdahuluyang telah mengorbankan harta dan tenaga mereka demi tercapainya sebuah kemerdekaan.
namun keadaan itu sangat berbeda dengan sekarang. hari kebangkitan yang diperingati pertama kali yaitu pada tanggal 21 Mai 1908 sangat berbeda dengan 21 Mei 2008. dimana sekarang hari kebangkitan nasional hany di peringati dengan sebatas slogan, teriakan serta iklan-iklan yanpa di sertai dengan jiwa nasionalisme.
tanggal 21 Mei di harapkan sebagai pemicu semangat para pemuda saat ini. karena dengan rasa nasionalisme tersebut kita bisa menjaga keutuhan kesatuan negara kita dari ancaman disintegrasi antar wilayah di indonesia. dimana seperti yang kita ketahui bahwa negara indonesia m,erupakan nagara maritim yang terdiri dari beribu-ribu pulau. dengan demikian, harus adanya pengawasan yang lebih intensif. untuk mengurangi adanya disintegrasi pemerintah juga harus memberikan informasi tentang wawasan nusantara kepada masyarakat. agar masyarakat dapat saling mengenal budaya atau tradisi dari daerah lain demi terciptanya ketahanan nasional.
May 28th, 2008 at 8:20 am
20 Mei 1908 mei sebgai tanda lahirnya hari kebangkitan nasional dimna pada saat itu rasa nasionalisme tertanam kuat di benak para insan muda indonesia.dimna cita-cita atas nama perjuangan dikobarkan seraus tahun sudah masa itu berlalu,namun cobaan dan masalah masih saja menjajah indonesiaku.Namun sekarang kesadaran akan nasionalisme semakin berkurang sorak-sorak terdengar menyuarakan 20 mei adalah hari kebankitan nasional. Namun mengertikah kita akan makna hari tersebut?
Di hari kebangkitan nasional, diharapkan para insan muda indonesia menanamkan jiwa nasionalisme,namun kenataan berkata lain.Begiu banyak perpecahan terjadi kareana adana perbedaan.Baik dari segi ekonomi, politik, sosial dan budaa. Yang dapat melemahkan sisem pertahanaan nasional.
Dari segi Ekonomi dan politik: kita sebagai masyarakat indonesia terutama sudah dapat melihat realita yang dialami oleh bangsa kita dimana imperalisme modern sudah menjamur di negara kita. Akhirnya kemakmuran insan indonesia berada ditangan penguasa asing.dimana pengusaha atau pemilik modal asing tersebut seolah menjadi tuan rumah di negara sendiri.
Dari segi Sosial dan Budaa: begitu banak perpecahan ang terjadi di negara indonesia. Satu hal yang perlu di ingat, imdonesia merupakan negara maritim atau negara kepulauan. tentunya akan banaak sekali perbedaan dan hal ini dapat memicu perpecahan yang mengakibat kan disintegrasi didalam negara itu sendiri.Mungkin sosialisasi dari pemerintah dan penambanhan kurikulum disekolah tentang wawasan nusantra dapat menjadikan perbdaan yang ada menjadi suatu kekuatan.Dengan ini indonesia akan menjadi negara kuat dan cita-cita yang ditanamkan atas nama prjuangan sejak 20 mei 1908 bukan harapan.
May 28th, 2008 at 8:25 am
pak maaf tanggal yang saya cantunkan dalam artikel ini ada yang salah yakni tanggal yang seharusnya 20 mei saya tulis 21 mei. dengan kesalahan ini saya harap bapak bisa memakluminya.terimakasih.
May 29th, 2008 at 7:57 am
EMBRIO KEBANGKITAN NASIONAL PERINGATAN I00 TAHUN KEBANGKITAN NASIONAL
Abad ke-20 merupakan masa nasionalisme bagi bangsa Indonesia. Nasionalisme ini di mana kesetiaan tertinggi diserahkan kepada negara dan bangsa. Pada awal abad ke-20, lahir suatu pergerakan dan perjuangan nasional. Perlu kita bedakan antara perjuangan dan pergerakan. Menurut bung Karno, perjuangan merupakan usaha atau upaya mencapai cita-cita bangsa. Sedangkan pergerakan adalah merupakan usaha atau upaya mencapai kemerdekaan. Dari sini bisa kita ambil kesimpulan bahwa pergerakan nasional berakhir setelah reformasi, sedangkan perjuangan sampai sekarang belum berakhir karena cita-cita bangsa sampai sekarang belum tercapai yakni, keamanan, ketentraman, kedamaian. Pergerakan nasionalisme muncul sejak berdirinya Budi Utomo tahun 1908. Namun, pergerakan ini belum nasionalisme, bisa kita katakan pra pergerakan nasional. Pergerakan nasionalisme yang sebenarnya sejak tahun 1927 oleh PNI. Tahun 1908-1926 masih dianggap pra pergerakan nasional. Hal ini karena pergerakan tersebut masih bersifat radikal tidak menyeluruh atau mencakup seluruh bangsa Indonesia. Kita lihat dari organisasi Budi Utomo terlebih dahulu. Sifat dari organisasi Budi Utomo masih terbatas hanya untuk golongan intelektual dan belum ke daerah-daerah. Kenapa Budi Utomo merupakan embrio nasionalisme? Sebabnya Budi Utomo merupakan organisasi yang jelas, bersifat menyeluruh, ada visi, misi, dan ada tujuannya yakni kemajuan Hindia atau Indonesia. Lain hal dengan organisasi Serikat Islam (SI). Tujuan SI dalah merangkul seluruh lapisan masyarakat pribumi walaupun masih pada batas golongan pribumi islam. Selanjutnya kita lihat dari organisasi Indische Partij, di mana prinsip perjuangannya adalah untuk menyatukan watak antara golongan Indo dan orang-orang pribumi untuk melawan pemerintahan Hindia Belanda atau kesatuan aksi melawan kolonial. Bagaimana PNI (Partai Nasional Indonesia) yang berdiri tahun 1927 bisa dikatakan pergerakan nasional Indonesia yang sebenarnya! Karena PNI tujuannya sudah jelas yakni mencapai Indonesia Merdeka yang berasaskan di atas kaki sendiri, non kooperasi, merhenisme. Ketua PNI dalah Ir. Soekarno. Masalah kapan peringatan kebangkitan nasional tidak penting. Yang terpenting sekarang bagaimana kita sebagai bangsa Indonesia untuk mengisi “100 tahun kebangkitan nasional” dengan seabaik-baiknya dan semangat baru untuk bangkit dari keterpurukkan bangsa dan dapat memperbaiki kondisi bangsa kita sekarang ini.
May 30th, 2008 at 8:16 am
Menumbuhkan Rasa Cinta Tanah Air lewat Dunia Pendidikan
Jika dilihat dari segi sejarah, perjuangan para pahlawan untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia sangat besar dan perlu dicontoh. Sikap para pahlawan yang berani membela bangsa dengan mempertahankan segenap jiwa raga sangat diperlukan dalam masa sekarang ini. Dalam menghadapi kondisi Negara yang saat ini sedang mengalami berbagai macam masalah, diperlukan sikap berani membela tanah air. Sikap ini dapat ditumbuhkan melalui bidang pendidikan. Kita dapat menjadikan organisasi Boedi Oetomo yang bergerak dalam bidang pendidikan sebagai inspirasi dari Pergerakan Nasional. Organisasi Boedi Oetomo menumbuhkan rasa cinta tanah air kepada para pemuda terutama para anggotanya. Selain itu,organisasi ini berperan serta membantu mencerdaskan kehidupan bangsa dan juga sebagai perintis terciptanya organisasi yang lain di Indonesia yang juga berperan dalam pelaksanaan Kebangkitan Nasional.
Untuk menjadikan bangsa Indonesia menjadi bangsa Indonesia yang lebih maju, diperlukan penanaman rasa cinta tanah air yang dapat ditumbuhkan melalui bidang pendidikan. Jika dibandingkan dengan pendidikan pada masa Boedi Oetomo, pendidikan sekarang sudah lebih maju, namun rasa cinta tanah air yang dimiliki oleh bangsa Indonesia sudah mulai berkurang. Hal ini terlihat dengan kurang ditanamkannya rasa cinta tanah air pada diri siswa, sehingga siswa kurang memahami apa sebenarnya cinta tanah air itu dan apa yang seharusnya mereka lakukan agar dapat menjaga keutuhan persatuan dan kesatuan bangsa. Banyak mata pelajaran yang dapat menumbuhkan rasa cinta tanah air pada diri siswa dikurangi frekuensi pertemuannya misalnya mata pelajaran PPKN dan Sejarah. Kedua mata pelajaran ini sebenarnya sangat membantu menumbuhkan rasa cinta tanah air pada generasi muda kita, namun dapat kita lihat bahwa kedua mata pelajaran itu sudah mulai dikurangi.
Pada era midern ini, jumlah masyarakat yang buta huruf di Indonesia masih tinggi, kelemahan-kelemahan dalam menghadapi Ujian Nasional yang dilakukan oleh guru, siswa bahkan masyarakat. Jika ada peringatan hari-hari besar Nasional, tidak semua masyarakat Indonesia yang mengibarkan bendera Merah Putih jelas terlihat bahwa rasa cinta tanah air sudah mulai berkurang pada diri bangsa Indonesia.
Untuk mewujudkan cita-cita bangsa marilah dihari 100 tahun Kebangkitan Nasional ini kita memulai lembaran baru dengan semangat yang baru. Kita perbaiki segala kekuarangan dan kesalahan yang telah terjadi sehingga bangsa Indonesia menjadi lebih maju dan cita-cita bangsa dapat tercapai.
May 30th, 2008 at 8:24 am
Harapan Bagi Dunia Pendidikan Kita
Zaman penjajahan, rakyat Indonesia telah banyak mengalami penderitaan bukan hanya karena siksaan akibat kerja paksa, keterbelakangan, kelaparan dan yang terpenting adalah kebodohan. Pada masa itu, rakyat Indonesia yang berada pada strata bawah tidak bisa mengenyam pendidikan seperti pada orang-orang yang bisa disebut golongan bangsawan. Golongan ini bisa bersekolah dan menuntut ilmu di sekolah-sekolah yang didirikan Belanda saat itu. Mereka mendapat ilmu dan pengetahuan yang juga dibutuhkan oleh rakyat jelata. Masyarakat Indonesia tenggelam dalam kebodohan yang mereka tidak inginkan.
Dari golongan bangsawan yang bersekolah itulah yang nantinya menjadi perintis dari lahirnya gerakan untuk memajukan pendidikan bagi rakyat Indonesia. Budi Oetomo, organisasi pertama yang mengawali gerakan dari kaum intelektual walaupun organisasi itu hanya terbatas di wilayah Jawa namun sudah membuktikan bahwa kaum muda yang berpendidikan bisa mengaplikasikan ilmu dan pengetahuan yang didapatnya untuk mensejahterakan rakyat terutama dalam memajukan pendidikan rakyat Indonesia yang saat itu ditelantarkan oleh Belanda. Setelah lahirnya Budi Oetomo, tokoh yang terkenal yaitu Ki Hajar Dewantara. Beliau adalah tokoh yang berjasa dalam dunia pendidikan. Dari semua perjuangan yang telah mereka lakukan bagi bangsa, bukankah seharusnya kita harus memajukan pendidikan negeri ini agar dari tahun ke tahun semakin baik karena Kebangkitan Nasional tidak bisa dilepaskan dari aspek pendidikan yang merupakan awal dari majunya peradaban.
Namun, tak bisa disangkal dunia pendidikan adalah suatu tempat yang membutuhkan kerja keras agar segala tujuan yang telah ditentukan dapat tercapai terutama pemerataan pendidikan karena masyarakat Indonesia baik itu dari kelas bawah, menengah maupun atas semua sama-sama memiliki hak untuk mendapatkan pengajaran. Bukankah kita tidak mau bodoh seperti pada masa penjajahan. Rakyat Indonesia perlu diberdayakan, karena itu hendaknya sejak dini seorang anak perlu dikenalkan pada pendidikan, bahwa pendidikan itu adalah proyek jangka panjang. Mungkin saja bagi segelintir orang menganggap bahwa kenapa harus susah-susah sekolah atau kuliah di Perguruan Tinggi jika akhirnya menganggur. Namun, sebaiknya kita harus membuka pikiran bahwa dengan bersekolah kita bisa mengetahui sesuatu yang belum kita tahu, belajar apa yang belum kita bisa, memahami mengapa sesuatu itu bisa terjadi dan kenapa, menggali bakat dan mengembangkannya, mengasah keterampilan kita dan belajar untuk berorganisasi dan menjadi sebuah pendorong semangat kita untuk meraih cita-cita. Dengan belajar kita tidak akan rugi sama sekali, kita bisa mencapai sesuatu yang belum tentu orang lain bisa karena suatu saat ilmu yang telah kita dapat selama mengenyam pendidikan itu akan membantu kita dan berguna bagi orang lain.
Namun kenyataannya, pendidikan kita sekarang dilanda krisis multidimensi, diantaranya krisis ekonomi dan krisis akhlak yang di mana seharusnya pendidikan berperan penting dalam pembinaan moral dan akhlak seseorang. Keterbatasan dana dan fasilitas membatasi gerak dalam memajukan pendidikan. Anggaran dana yang tersedia hanya mampu membina generasi-generasi dari strata menengah ke atas, lalu bagaimana nasib pendidikan bagi generasi-generasi bangsa dari strata bawah??? Selain itu juga penghargaan terhadap guru yang masih kurang, bukankah seorang guru adalah tulang punggung kemajuan pendidikan suatu bangsa yang memberantas kebodohan. Biaya sekolah yang semakin hari semakin meningkat pada kenyataannya menekan masyarakat strata bawah yang mengakibatkan mereka putus sekolah. bukankah dengan bersekolah dan menuntut ilmu kita bisa menjadi orang-orang pintar, terpelajar dan suatu saat bisa menjadikan kita sebagai orang yang sukses tapi apabila tidak bisa bersekolah bukankah kita akan bodoh dan dengan begitu kita bisa dibodohi oleh orang lain yang lebih pintar dari kita lalu apa bedanya dengan zaman penjajahan dulu??
100 tahun Kebangkitan Nasional harus menjadi pelajaran bagi kita, bahwa tidak ada suatu hal yang sia-sia jika kita melakukannya dengan niat yang sungguh-sungguh dan semangat yang tinggi. Begitu pula harapan bagi pendidikan kita. Mengapa masih ada saja anak-anak yang tidak sekolah atau pun putus sekolah??? Padahal mereka juga berhak untuk mengenyam pendidikan seperti yang lain. Kehidupan yang mereka jalani lebih keras menuntut mereka untuk bekerja siang dan malam demi sesuap nasi. Bukankah seharusnya ada celah bagi mereka untuk bisa melanjutkan sekolahnya lagi.
Pemerintah pun telah memberikan bantuan salah satunya yaitu BOS yang bisa dimanfaatkan untuk menunjang pendidikan anak-anak yang kurang mampu. Seharusnya kita memanfaatkan bantuan yang sudah diberikan pemerintah ini untuk kepentingan anak-anak yang berhak mendapatkannya. Bukankah kita seharusnya merasa malu pada negara lain yang sama seperti negara kita yang sedang berkembang. Negara kita dipenuhi oleh orang-orang kaya dan pengusaha-pengusaha sukses tapi nyatanya kita larut dalam krisis ekonomi. Yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin dan tersingkir. Mengapa dalam dunia pendidikan tidak terlalu ada kemajuan dan pemerataan.Oleh karena itu perlu adanya kerjasama antara masyarakat, pemerintah dan para guru untuk meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan di negara kita agar lebih baik dari tahun ke tahun.
May 30th, 2008 at 12:33 pm
SEABAD KEBANGKITAN NASIONAL
INDONESIA BANGKIT ATAU BANGKRUT?
Ketika bulan Mei tiba, khususnya tanggal 20 Mei tema tentang kebangkitan nasional semakin ramai didengungkan dan dirayakan secara seremonial. Tapi apakah arti dan makna dari semua itu? Apakah sekarang Indonesia telah benar-benar bangkit?
Perayaan kebangkitan nasional berakar pada pendirian organisasi Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908 yang digagas dan dimotori oleh dr. Soetomo bersama kaum intelektual lainnya yang kebanyakan juga dari golongan dokter. Walaupun pada saat itu organisasi tersebut belum bersifat nasional. Namun, dengan berdirinya organisasi tersebut merupakan embrio perlawanan kaum intelektual terhadap penjajah pada saat itu yakni Belanda. Dalam organisasi tersebut para kaum intelektual berupaya menghimpun masyarakat Indonesia untuk melawan penjajah dan berupaya memajukan Indonesia dalam segala bidang baik dalam bidang pendidikan, ekonomi, kesehatan, serta bidang politik karena kaum intelektual merasa masyarakat Indonesia diperbodoh dengan adanya penjajahan dan kaum intelektual pada saat itu sama sekali tidak dihargai karena mereka tidak dapat ikut dalam pemerintahan yang semuanya dijalankamn oleh orang-orang Belanda. Dari situlah muncul kesadaran semua masyarakat Indonesia akan pentingnya persatuan dan kesatuan perjuangan.
Pada tahun ini pada tanggal 20 Mei 2008 genap 100 tahun kebangkitan nasional tersebut. Walaupun sudah seabad kebangkitan nasional tetapi Indonesia masih benar-benar tertatih berjalan di tengah kesulitan untuk bangkit dari keterpurukan.
Dilihat secara umum Indonesia masih belum bangkit dari keterpurukan, bahkan bisa dikatakan cenderung mengalami kemunduran. Indonesia masih belum bisa bangkit karena rapuhnya pertahanan ekonomi Negara Indonesia sehingga mewarnai kemunduran di berbagai bidang. Tingkat korupsi di Indonesia juga masih sangat tinggi, pemberantasan korupsi di bawah pemerintahan masih berskala kecil sehingga praktek korupsi di Indonesia semakin meluas dan membudaya . sebenarnya apabila bangsa ini ingin cepat bangkit para koruptor harus benar-benar di beri tindakan yang tegas agar tidak semakin merugikan bangsa. Pemberantasan korupsi merupakan salah satu cara yang dapat menciptakan perekonomian dan pemerintahan yang efisien serta akan membuat daya saing dan moral bangsa semakin kuat. Di tengah kesulitan yang semakin mendera rakyat Indonesia sekarang pemerintah kembali menaikkan harga BBM dengan kompensasi memberikan BLT (bantuan langsung tunai) kepada rakyat miskin. Dengan dinaikkannya harga BBM otomatis semua harga-harga melambung naik dan semakin membuat rakyat menjerit karena biaya hiup menjadi semakin mahal. Namun, pemerintah juga mempunyai cara agar rakyat tidak terlalu berteriak dengan memberikan dana BLT (bantuan langsung tunai) kepada rakyat miskin sebanyak 100.000/ bulan sebagai kompensasi kenaikan BBM tetapi banyak juga yang berpendapat bahwa tindakan pemerintah tersebut bukanlah jalan keluar yang baik karena hanya akan semakin menambah angka kemiskinan serta memperbodoh rakyat.
Indonesia yang dikenal memiliki kekayaan alam yang melimpah terutama dalam hal pangan tetapi faktanya Indonesia masih mengimpor beberapa komoditi pangan dari negara lain, aneh memang. Bahkan aset-aset Negara Indonesia banyak yang dijual kepada pihak asing, bagaimana nasib rakyat ini nantinya?
Untuk membangkitkan Indonesia peranan pemimpin dan pemerintah sangatlah penting, untuk itu mereka haruslah berpedoman pada UUD’45 sesuai pembukaan UUD’45 tersebut yakni “mencerdaskan kehidupan bangsa dan mencerdaskan bangsa” artinya pemerintah harus lebih dulu menyejahterakan rakyatnya setelah itu baru mencerdaskan agar Indonesia kita ini benar-benar bisa bangkit.
Dalam momen seabad kebangkitan nasional ini, marilah kita sebagai bangsa Indonesia bersama-sama mengintrospeksi diri dan jangan saling menyalahkan terhadap semua yang telah terjadi pada bangsa ini. Mulai sekarang marilah kita berpikir apa yang dapat kita berikan kepada bangsa kita yang tercinta ini dengan begitu kita mampu berharap dan berjuang bahwa suatu saat nanti Indonesia akan benar-benar bangkit dari keterpurukan. Semoga.
May 31st, 2008 at 5:07 am
Kebangkitan Nasional.
Sudahkah Kita Bangkit?
20 Mei 2008,kita memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional.Acaranya meriah,banyak pendukung acaranya dan sudah pasti besar biayanya.Acaranya disiarkan oleh seluruh TV Swasta Nasional se Indonesia selama dua jam penuh.Rakyat Indonesia dibuai dalam acara luar biasa yang menampilkan hampir kebudayaan dari seluruh Indonesia,lupa dengan BBM yang mau naik,bahkan lupa dengan satu hal yang terpenting: Benarkah Kebangkitan Nasional kita sudah 100 tahun?Jangan-jangan kita masih bermimpi.
Boedi Oetomo,sebagai organisasi pergerakan nasional pertama di Indonesia lahir pada tanggal 20 Mei 1908 oleh para pelajar STOVIA dan dipimpin oleh Sutomo.Lahirnya Boedi Oetomo dipandang sebagai cikal bakal munculnya kebangkitan nasional.Kemunculan Boedi Oetomo pada akhirnya diikuti dengan berdirinya organisasi pergerakan lain seperti Sarekat Dagang Islam yang kemudian berubah menjadi Sarekat Islam,Indische Partij,dan lain-lain.
Tapi benarkah Boedi Oetomo merupakan cikal bakal kebangkitan nasional?Bisa ya bisa tidak.Kalau kita lihat dari tujuan Boedi Oetomo tentu jelas bahwa organisasi ini tidak menginginkan kemerdekaan Indonesia.Organisasi ini juga masih melingkupi daerah sekitar Jawa saja dan bukan Indonesia.Ingat,Jawa memeng Indonesia tapi Indonesia bukanlah Jawa semata.Indonesia adalah semua hal yang terikat karena suatu ikatan kolonial yang disebut dengan Hindia Belanda.
Pada tanggal 4 Juli 1927,PNI berdiri di Bandung dengan bertujuan INDONESIA MERDEKA.Organisasi ini ingin Indonesia Merdeka.PNI akhirnya menjadi partai yang besar karena tujuannya itu.
Sekarang kita pikirkan,apakah organisasi seperti Boedi Oetomo yang hanya mencakup pulau Jawa dan tidak menginginkan Kemerdekaan Indonesia pantas disebut sebagai cikal bakal Kebangkitan Nasional Indonesia atau PNI yang jelas mencakup seluruh Indonesia dan ingin merdeka?Jangan sampai kita terbuai oleh sejarah yang tidak jelas dan hampa,tanpa mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.
Jadi apakah kita sudah bangkit ataukah kita masih terbuai mimpi indah Kebangkitan Nasional yang sudah seratus tahun.Rasanya suatu kerugian yang sangat besar bila ternyata kita menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu yang belum waktunya.
May 31st, 2008 at 5:10 am
WAJIB BELAJAR 9 TAHUN
Indonesia,sebagai negara yang sangat kita cintai ini,pada tanggal 20 Mei kemarin memperingati100 tahun kebangkitan nasional.Namun perlu kita pertanyakan “apakah negara kita ini sudah benar-benar bangkit?”.Sebuah negara dikatakan mengalami kebangktan nasional apabila segala aspek kehidupan rakyatnya terpenuhi.Misalnya saja dalam bidang pendidikan,apakah anak-anak indonesia sudah melaksanakan kewajiban program belajar 9 tahun?Belum semuanya kan!Masih banyak anak-anak umur sekolah yang berkeliaran di jalal-jalan menjadi peminta-minta dan pengamen,padahal kita ketahui secara pasti,seumuran mereka itu seharusnya belajar di sekolah bukannya malah membantu orang tuanya mencari nafkah.
Itu semua bisa terjadi karena kemiskinan yang mendera rakyat Indonesia dan juga karena kurangnya kesadaran masyarakat akan arti pentingnya pendidikan.Namun tidak hanya itu pemerntah juga mempunyai andil yang besar dalam kurang berhasilnya program wajib belajar 9 tahun.Tingkat ekonomi rakyat Indonesia yang rata-rata di bawah standar yang menyebabkan ketidakmampuan orang tua untuk membiayai pendidikan anaknya,harusnya dapat disiasati dengan bantuan dari pemerintah untuk menggratiskan biaya sekolah.Namun anggaran pendidikan dari APBN cuma beberapa persen saja dan itu tidak cukup untuk membiayai pendidikan negara kita yang besar ini.Menurut saya pemerintah sudah menyalahi Undang-Undang,buktinya di dalam Undang-Undang jelas-jelas telah tertulis bahwa anggaran negara untuk pendidikan adalah sebesar 20 persen.
Berbicara masalah wajib belajar 9 tahun,untuk mensukseskannya kita harus mulai dari diri sendiri.Kita harus sadar akan arti pentingnya pendidikan bagi kehidupan kita.Pemerintah juga harus tanggap tentang masalah pendidikan,terus kucurkan dana untuk pendidikan,tangkap para koruptor yang mengkorupsi dana pendidikan,tingkatkan program-program bantuan pemerintah untuk pendidikan misalnya dana BOS,beasiswa dan GNOTA,dan yang paling penting sekolah harus gratis.
Pemerintah harus mempunyai kesadaran bahwa masa depan bangsa kita ini ada di tangan generasi muda.Jadi,sudahkah kita bangkit dari keterpurukan pendidikan?Bukankah dengan pendidikan kita dapat mencerdaskan kehidupan bangsa.
May 31st, 2008 at 7:20 am
“ 20 MASALAH NASIONAL DI 20 MEI HARI KEBANGKITAN NASIONAL ”
Pada tanggal 20 Mei telah di tetapkan sebagai hari Kebangkitan Nasional, yang seperti kita ketahui tonggaknya adalah dengan berdirinya Organisasi Boedi Oetomo 20 Mei 1908 yang didirikan oleh Dr. Soetomo. Dari sinilah awal dari pergerakan nasional, disebut sebagai pergerakan nasional karena organisasi ini beranggotakan seluruh anggota lapisan masyarakat Indonesia yang bertujuan untuk melepaskan diri dari penjajahan kolonial yang menyengsarakan rakyat, organisasi ini bergerak dalam bidang pendidikan. Terlepas dari sejarah nya dari kebangkitan nasional kini kita telah memasuki 100 tahun Kebangkitan Nasional tepatnya 20 Mei 2008 sudah 1 Abad bangsa kita memperingati hari Kebangkitan Nasional dengan berbagai macam cara yang dilakukan oleh masyarakat untuk memaknai nya. Namun seiring sekian lamanya peringatan hari Kebangkitan Nasional tersebut telah kita jalani, semakin banyak pula masalah-masalah nasional yang muncul di negara Indonesia ini yang mana masalah-masalah tersebut telah menjadi momok pada masyarakat kalangan bawah(miskin) karena merekalah yang paling merasakan dampak atau akibat dari masalah-masalah tersebut.
20 masalah Nasional :
1. Masalah kemiskinan yang semakin meningkat.
2. Masalah pengangguran.
3. Masalah naiknya harga-harga kebutuhan pokok (sembako dan BBM).
4. Masalah mahalnya pendidikan.
5. Masalah pornografi dan pornoaksi.
6. Masalah kelangkaan BBM.
7. Masalah kriminalitas yang semakin meningkat.
8. Masal penyalahgunaan obat-obatan terlarang.
9. Masalah KKN yang semakin meningkat di setiap lapisan masyarakat.
10. Masalah Agama/ kepercayaan sesat yang meresahkan.
11. Masalah kurang baiknya sarana dan prasarana transportasi.
12. Masalah pembalakan-pembalakan liar yang menyebabkan terjadinya bencana-bencana alam.
13. Masalah banjir yang semakin marak di semua daerah.
14. Masalah krisis energi listrik.
15. Masalah mengenai kebijakan-kebijakan pemerintah yang bertentangan dengan masyarakat dan menyulitkan masyarakat sehingga mengakibatkan demo yang anarki.
16. Masalah kelaparan.
17. Masalah biaya kesehatan semakin mahal.
18. Masalah rendahnya nasionalisme masyarakat.
19. Masalah rendahnya kualitas pendidikan.
20. Masalah Gepeng (gelandangan & pengamen) di kota-kota besar.
Masalah-masalah di ataslah yang mewarnai kehidupan bangsa Indonesia setelah 100 tahunnya kebangkitan nasional. Mungkin karena adanya masalah-masalah tersebut akan memicu timbulnya jiwa kebangkitan nasional pada semua masyarakat untuk melepaskan diri dari kesengsaraan yang ditimbulkan oleh masalah-masalah tersebut. Jadi mari kita ciptakan kebangkitan nasional yang baru dengan semangat yang baru dikehidupan yang baru ini di zaman yang serba moderen ini.
May 31st, 2008 at 7:23 am
MENGUNGKAP TABIR HARI KEBANGKITAN NASIONAL 20 MEI 1908
Budi Utomo adalah organisasi pemuda yang didirikan oleh Dr. Sutomo pada tanggal 20 Mei 1908. Berdirinya Budi Utomo menjadi awal gerakan yang bertujuan mencapai kemerdekaan Indonesia. Saat ini tanggal berdirinya Budi Utomo, 20 Mei, diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.Adapun Latar Belakang berdirinya organisasi Budi Utomo yaitu lahir dari pertemuan-pertemuan dan diskusi yang sering dilakukan di perpustakaan School tot Opleiding van Inlandsche Artsen oleh beberapa mahasiswa, antara lain Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, Goembrek, Saleh, dan Soeleman. Mereka memikirkan nasib bangsa yang sangat buruk dan selalu dianggap bodoh dan tidak bermartabat oleh bangsa lain (Belanda), serta bagaimana cara memperbaiki keadaan yang amat buruk dan tidak adil itu. Para pejabat pangreh praja (sekarang pamong praja) kebanyakan hanya memikirkan kepentingan sendiri dan jabatan. Dalam praktik mereka pun tampak menindas rakyat dan bangsa sendiri, misalnya dengan menarik pajak sebanyak-banyaknya untuk menyenangkan hati atasan dan para penguasa Belanda.Para pemuda mahasiswa itu juga menyadari bahwa orang-orang lain mendirikan perkumpulan hanya untuk golongan sendiri dan tidak mau mengajak, bahkan tidak menerima, orang Jawa sesama penduduk Pulau Jawa untuk menjadi anggota perkumpulan yang eksklusif, seperti Tiong Hoa Hwee Koan untuk orang Tionghoa dan Indische Bond untuk orang Indo-Belanda. Pemerintah Hindia Belanda jelas juga tidak bisa diharapkan mau menolong dan memperbaiki nasib rakyat kecil kaum pribumi, bahkan sebaliknya, merekalah yang selama ini menyengsarakan kaum pribumi dengan mengeluarkan peraturan-peraturan yang sangat merugikan rakyat kecil.Para pemuda itu akhirnya berkesimpulan bahwa merekalah yang harus mengambil prakarsa menolong rakyatnya sendiri. Pada waktu itulah muncul gagasan Soetomo untuk mendirikan sebuah perkumpulan yang akan mempersatukan semua orang Jawa, Sunda, dan Madura yang diharapkan bisa dan bersedia memikirkan serta memperbaiki nasib bangsanya. Perkumpulan ini tidak bersifat eksklusif tetapi terbuka untuk siapa saja tanpa melihat kedudukan, kekayaan, atau pendidikannya.Pada awalnya, para pemuda itu berjuang untuk penduduk yang tinggal di Pulau Jawa dan Madura, yang untuk mudahnya disebut saja suku bangsa Jawa. Mereka mengakui bahwa mereka belum mengetahui nasib, aspirasi, dan keinginan suku-suku bangsa lain di luar Pulau Jawa, terutama Sumatera, Manado, dan Ambon. Apa yang diketahui adalah bahwa Belanda menguasai suatu wilayah yang disebut Hindia (Timur) Belanda (Nederlandsch Oost-Indie), tetapi sejarah penjajahan dan nasib suku-suku bangsa yang ada di wilayah itu bermacam-macam, begitu pula kebudayaannya. Dengan demikian, sekali lagi pada awalnya Budi Utomo memang memusatkan perhatiannya pada penduduk yang mendiami Pulau Jawa dan Madura saja karena, menurut anggapan para pemuda itu, penduduk Pulau Jawa dan Madura terikat oleh kebudayaan yang sama.Sekalipun para pemuda itu merasa tidak tahu banyak tentang nasib, keadaan, sejarah, dan aspirasi suku-suku bangsa di luar Pulau Jawa dan Madura, mereka tahu bahwa saat itu orang Manado mendapat gaji lebih banyak dan diperlakukan lebih baik daripada orang Jawa. Padahal, dari sisi pendidikan, keduanya berjenjang sama. Itulah sebabnya pemuda Soetomo dan kawan-kawan tidak mengajak pemuda-pemuda di luar Jawa untuk bekerja sama, hanya karena khawatir untuk ditolak.Pada hari Minggu, 20 Mei 1908, pada pukul sembilan pagi, bertempat di salah satu ruang belajar STOVIA, Soetomo menjelaskan gagasannya. Dia menyatakan bahwa hari depan bangsa dan Tanah Air ada di tangan mereka. Maka lahirlah Boedi Oetomo. Namun, para pemuda juga menyadari bahwa tugas mereka sebagai mahasiswa kedokteran masih banyak, di samping harus berorganisasi. Oleh karena itu, mereka berpendapat bahwa “kaum tua”-lah yang harus memimpin Budi Utomo, sedangkan para pemuda sendiri akan menjadi motor yang akan menggerakkan organisasi itu.Sepuluh tahun pertama Budi Utomo mengalami beberapa kali pergantian pemimpin organisasi. Kebanyakan memang para pemimpin berasal kalangan “priayi” atau para bangsawan dari kalangan keraton, seperti Raden Adipati Tirtokoesoemo, bekas Bupati Karanganyar (presiden pertama Budi Utomo), dan Pangeran Ario Noto Dirodjo dari Keraton Pakualaman.silihat dari perkembangannya Budi Utomo mengalami fase perkembangan penting saat kepemimpinan Pangeran Noto Dirodjo. Saat itu, Douwes Dekker, seorang Indo-Belanda yang sangat properjuangan bangsa Indonesia, dengan terus terang mewujudkan kata “politik” ke dalam tindakan yang nyata. Berkat pengaruhnyalah pengertian mengenai “tanah air Indonesia” makin lama makin bisa diterima dan masuk ke dalam pemahaman orang Jawa. Maka muncullah Indische Partij yang sudah lama dipersiapkan oleh Douwes Dekker melalui aksi persnya.Perkumpulan ini bersifat politik dan terbuka bagi semua orang Indonesia tanpa terkecuali. Baginya “tanah air” (Indonesia) adalah di atas segala-galanya.Pada masa itu pula muncul Sarekat Islam, yang pada awalnya dimaksudkan sebagai suatu perhimpunan bagi para pedagang besar maupun kecil di Solo dengan nama Sarekat Dagang Islam, untuk saling memberi bantuan dan dukungan. Tidak berapa lama, nama itu diubah oleh, antara lain, Tjokroaminoto, menjadi Sarekat Islam, yang bertujuan untuk mempersatukan semua orang Indonesia yang hidupnya tertindas oleh penjajahan. Sudah pasti keberadaan perkumpulan ini ditakuti orang Belanda. Munculnya gerakan yang bersifat politik semacam itu rupanya yang menyebabkan Budi Utomo agak terdesak ke belakang. Kepemimpinan perjuangan orang Indonesia diambil alih oleh Sarekat Islam dan Indische Partij karena dalam arena politik Budi Utomo memang belum berpengalaman.Karena gerakan politik perkumpulan-perkumpulan tersebut, makna nasionalisme makin dimengerti oleh kalangan luas. Ada beberapa kasus yang memperkuat makna tersebut. Ketika Pemerintah Hindia Belanda hendak merayakan ulang tahun kemerdekaan negerinya, dengan menggunakan uang orang Indonesia sebagai bantuan kepada pemerintah yang dipungut melalui penjabat pangreh praja pribumi, misalnya, rakyat menjadi sangat marah.Kemarahan itu mendorong Soewardi Suryaningrat (yang kemudian bernama Ki Hadjar Dewantara) untuk menulis sebuah artikel “Als ik Nederlander was” (Seandainya Saya Seorang Belanda), yang dimaksudkan sebagai suatu sindiran yang sangat pedas terhadap pihak Belanda. Tulisan itu pula yang menjebloskan dirinya bersama dua teman dan pembelanya, yaitu Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo ke penjara oleh Pemerintah Hindia Belanda (lihat: Boemi Poetera). Namun, sejak itu Budi Utomo tampil sebagai motor politik di dalam pergerakan orang-orang pribumi.Agak berbeda dengan Goenawan Mangoenkoesoemo yang lebih mengutamakan kebudayaan dari pendidikan, Soewardi menyatakan bahwa Budi Utomo adalah manifestasi dari perjuangan nasionalisme. Menurut Soewardi, orang-orang Indonesia mengajarkan kepada bangsanya bahwa “nasionalisme Indonesia” tidaklah bersifat kultural, tetapi murni bersifat politik. Dengan demikian, nasionalisme terdapat pada orang Sumatera maupun Jawa, Makassar maupun Ambon.Pendapat tersebut bertentangan dengan beberapa pendapat yang mengatakan bahwa Budi Utomo hanya mengenal nasionalisme Jawa sebagai alat untuk mempersatukan orangJawa dengan menolak suku bangsa lain. Demikian pula Sarekat Islam juga tidak mengenal pengertian nasionalisme, tetapi hanya mempersyaratkan agama Islam agar seseorang bisa menjadi anggota.Namun, Soewardi tetap mengatakan bahwa pada hakikatnya akan segera tampak bahwa dalam perhimpunan Budi Utomo maupun Sarekat Islam, nasionalisme “Indonesia” ada dan merupakan unsur yang paling penting.
May 31st, 2008 at 7:29 am
BELAJAR MEM”BACA” DI HARI KEBANGKITAN NASIONAL
Di hari peringatan Kebangkitan Nasioanal yang bagi sebagian komunitas kecil masyarakat Indonesia yang masih berfikir kritis nampaknya masih bisa menjadi mumentum yag pasuntuk intropeksi atas pencapaian pembangunan nasional maupun pendidikan Indonesia. Banyak hal yang per;u di rintis kembali dalam pencapaian itu proses ini tentunya memerlukan kesiapan baik secara menyeluruh. Dalam momentum kebangkitan nasional ini ada baiknya kita jadikan sebuah wahana pengembangan diri kita untuk menuju pembangunan nasional yang lebih baik. Dalam hal ini satu kata kunci utama yaitu” BACA” memaknai kata baca memang sepintas mudah dan terkesanb sangat mudah seperti yang sudaah di peruntukkan pada kaum muslim dahulu kita juga di perintahkan untuk baca, iqra adalah kalimat perintah yang pertama kali di terima ketika nabi Muhammad SAW menerima wahyu dengan kalimat yang sangat biasa. Namun di balik kalimat biasa itu tersembunyi energi cahaya yang sangat luar bisa bahkan lebih hebat dari ultimatum.ultimatum bom nuklir sekalipun berkaca hari itu ,sebuah kalimat sederhana dapat menjadi luar biasa kalau kita mau merenungkan ,meresapi dan meresapkan hasil dari pengetahuan yang sudah kita latih dari membaca tadi.sebuah anugerah yang lar biasa telah di berikan kepada kita umat manusia .kemampuan koita untuk berpikir kritis kreatif dan konstruktif telah membuta komunitas manusia menjadi lalai dalam pembangunan ini. Baca bukan berarti kita artikan sebagai kegiatan yang mata kata hanya kita tujukan mengeja huruf atau menterjemahkan kata-kata atau huruf-huruf belaka, tapi baca juga kegiatan dan tingkah laku orang-orang di sekitar kita. Bukan hanya itu lihat juga penderitaan dan kesengsaraan saudara kita melalaikan baca dan pada akhirnya kita tidak dapat ikut membaca hati dan perasaan mereka. Di sini sebuah kemunafikan terjadi, mereka para manusia bisa membaca namun hati mereka tidak bisa membaca, sehingga banyak ketimpangan yang mewarnai pembangunan kita. Untuk itu kapan kita bisa membaca sepenuhnya dan mampu menghasilkan sebuah masa baru dalam pembangunan kita tanpa di warnai kebutaan hati dan kembali memurnikan akal dan pikiran manusia yang sempat bodoh dala hal perintah baca untuk manusia. Mari kita laksanakan perintah baca untuk pembangkit nasional kita. Mari belajar “BACA”
June 2nd, 2008 at 5:25 am
APAKAH BENAR 20 MEI HARI KEBANGKITAN NASIONAL ????????
Kelahiran organisasi Boedhi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908 sesungguhnya amat tidak patut dan tidak pantas diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional, karena organisasi ini mendukung penjajahan Belanda, sama sekali tidak pernah mencita-citakan Indonesia merdeka, a-nasionalis, anti agama, dan bahkan sejumlah tokohnya merupakan anggota Freemasonry Belanda (Vritmejselareen).
Dipilihnya tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional, sesungguhnya merupakan suatu penghinaan terhadap esensi perjuangan merebut kemerdekaan yang diawali oleh tokoh-tokoh Islam yang dilakukan oleh para penguasa sekular. Karena organisasi Syarikat Islam (SI) yang lahir terlebih dahulu dari Boedhi Oetomo (BO), yakni pada tahun 1905, yang jelas-jelas bersifat nasionalis, menentang penjajah Belanda, dan mencita-citakan Indonesia merdeka, tidak dijadikan tonggak kebangkitan nasional.Mengapa BO yang terang-terangan antek penjajah Belanda, mendukung penjajahan Belanda atas Indonesia, a-nasionalis, tidak pernah mencita-citakan Indonesia merdeka, dan anti-agama malah dianggap sebagai tonggak kebangkitan bangsa? Ini jelas kesalahan yang teramat nyata.
Anehnya, hal ini sama sekali tidak dikritisi oleh tokoh-tokoh Islam kita. Bahkan secara menyedihkan ada sejumlah tokoh Islam dan para Ustadz selebritis yang ikut-ikutan merayakan peringatan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei di berbagai event. Mereka ini sebenarnya telah melakukan sesuatu tanpa memahami esensi di balik hal yang dilakukannya. Rasulullah SAW telah mewajibkan umatnya untuk bersikap: “Ilmu qabla amal” (Ilmu sebelum mengamalkan), yang berarti umat Islam wajib mengetahui duduk-perkara sesuatu hal secara benar sebelum mengerjakannya.Bahkan Sayyid Quthb di dalam karyanya “Tafsir Baru Atas Realitas” (1996) menyatakan orang-orang yang mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan yang cukup adalah sama dengan orang-orang jahiliyah, walau orang itu mungkin seorang ustadz bahkan profesor. Jangan sampai kita “Fa Innahu Minhum” (kita menjadi golongan mereka) terhadap kejahiliyahan.Agar kita tidak terperosok berkali-kali ke dalam lubang yang sama, sesuatu yang bahkan tidak pernah dilakukan seekor keledai sekali pun, ada baiknya kita memahami siapa sebenarnya Boedhi Oetomo itu.
Pendukung Penjajahan Belanda
Dalam sebuah buku berjudul “Syarikat Islam Bukan Budi Utomo: Meluruskan Sejarah Pergerakan Bangsa” “BO tidak memiliki andil sedikit pun untuk perjuangan kemerdekan, karena mereka para pegawai negeri yang digaji Belanda untuk mempertahankan penjajahan yang dilakukan tuannya atas Indonesia. Dan BO tidak pula turut serta mengantarkan bangsa ini ke pintu gerbang kemedekaan, karena telah bubar pada tahun 1935. BO adalah organisasi sempit, lokal dan etnis, di mana hanya orang Jawa dan Madura elit yang boleh menjadi anggotanya. Orang Betawi saja tidak boleh menjadi anggotanya, ” BO didirikan di Jakarta tanggal 20 Mei 1908 atas prakarsa para mahasiswa kedokteran STOVIA, Soetomo dan kawan-kawan. Perkumpulan ini dipimpin oleh para ambtenaar, yakni para pegawai negeri yang setia terhadap pemerintah kolonial Belanda. BO pertama kali diketuai oleh Raden T. Tirtokusumo, Bupati Karanganyar kepercayaan Belanda, yang memimpin hingga tahun 1911. Kemudian dia diganti oleh Pangeran Aryo Notodirodjo dari Keraton Paku Alam Yogyakarta yang digaji oleh Belanda dan sangat setia dan patuh pada induk semangnya.
Di dalam rapat-rapat perkumpulan dan bahkan di dalam penyusunan anggaran dasar organisasi, BO menggunakan bahasa Belanda, bukan bahasa Indonesia. “Tidak pernah sekali pun rapat BO membahas tentang kesadaran berbangsa dan bernegara yang merdeka. Mereka ini hanya membahas bagaimana memperbaiki taraf hidup orang-orang Jawa dan Madura di bawah pemerintahan Ratu Belanda, memperbaiki nasib golongannya sendiri, dan menjelek-jelekkan Islam yang dianggapnya sebagai batu sandungan bagi upaya mereka, ” Di dalam Pasal 2 Anggaran Dasar BO tertulis “Tujuan organisasi untuk menggalang kerjasama guna memajukan tanah dan bangsa Jawa dan Madura secara harmonis. ” Inilah tujuan BO, bersifat Jawa-Madura sentris, sama sekali bukan kebangsaan.Noto Soeroto, salah seorang tokoh BO, di dalam satu pidatonya tentang Gedachten van Kartini alsrichtsnoer voor de Indische Vereniging berkata: “Agama Islam merupakan batu karang yang sangat berbahaya… Sebab itu soal agama harus disingkirkan, agar perahu kita tidak karam dalam gelombang kesulitan. ”
Sebuah artikel di “Suara Umum”, sebuah media massa milik BO di bawah asuhan Dr. Soetomo terbitan Surabaya “Al-Lisan” terdapat tulisan yang antara lain berbunyi, “Digul lebih utama daripada Makkah”, “Buanglah Ka’bah dan jadikanlah Demak itu Kamu Punya Kiblat!” Karena sifatnya yang tunduk pada pemerintahan kolonial Belanda, maka tidak ada satu pun anggota BO yang ditangkap dan dipenjarakan oleh Belanda. Arah perjuangan BO yang sama sekali tidak berasas kebangsaan, melainkan chauvinisme sempit sebatas memperjuangkan Jawa dan Madura saja telah mengecewakan dua tokoh besar BO sendiri, yakni Dr. Soetomo dan Dr. Cipto Mangunkusumo, sehingga keduanya hengkang dari BO.Bukan itu saja, di belakang BO pun terdapat fakta yang mencengangkan. Ketua pertama BO yakni Raden Adipati Tirtokusumo, Bupati Karanganyar, ternyata adalah seorang anggota Freemasonry. Dia aktif di Loge Mataram sejak tahun 1895.Telah dipaparkan betapa organisasi Boedhi Oetomo (BO) sama sekali tidak pantas dijadikan tonggak kebangkitan nasional. Karena BO tidak pernah membahas kebangsaan dan nasionalisme, mendukung penjajahan Belanda atas Indonesia, anti agama, dan bahkan sejumlah tokohnya ternyata anggota Freemasonry. Ini semua mengecewakan dua pendiri BO sendiri yakni Dr. Soetomo dan Dr. Cipto Mangunkusumo, sehingga keduanya akhirnya hengkang dari BO.
Tiga tahun sebelum BO dibentuk, Haji Samanhudi dan kawan-kawan mendirikan Syarikat Islam (SI, awalnya Syarikat Dagang Islam, SDI) di Solo pada tanggal 16 Oktober 1905. “Ini merupakan organisasi Islam yang terpanjang dan tertua umurnya dari semua organisasi massa di tanah air Indonesia, ” Berbeda dengan BO yang hanya memperjuangkan nasib orang Jawa dan Madura—juga hanya menerima keanggotaan orang Jawa dan Madura, sehingga para pengurusnya pun hanya terdiri dari orang-orang Jawa dan Madura—sifat SI lebih nasionalis. Keanggotaan SI terbuka bagi semua rakyat Indonesia yang mayoritas Islam. Sebab itu, susunan para pengurusnya pun terdiri dari berbagai macam suku seperti: Haji Samanhudi dan HOS. Tjokroaminoto berasal dari Jawa Tengah dan Timur, Agus Salim dan Abdoel Moeis dari Sumatera Barat, dan AM. Sangaji dari Maluku.Guna mengetahui perbandingan antara kedua organisasi tersebut SI dan BO maka di bawah ini dipaparkan perbandingan antara keduanya:
Tujuan:
- SI bertujuan Islam Raya dan Indonesia Raya,
- BO bertujuan menggalang kerjasama guna memajukan Jawa-Madura (Anggaran Dasar BO Pasal 2).
Sifat:
- SI bersifat nasional untuk seluruh bangsa Indonesia,
- BO besifat kesukuan yang sempit, terbatas hanya Jawa-Madura,
Bahasa:
- SI berbahasa Indonesia, anggaran dasarnya ditulis dalam bahasa Indonesia,
- BO berbahasa Belanda, anggaran dasarnya ditulis dalam bahasa Belanda
Sikap Terhadap Belanda:
- SI bersikap non-koperatif dan anti terhadap penjajahan kolonial Belanda,
- BO bersikap menggalang kerjasama dengan penjajah Belanda karena sebagian besar tokoh-tokohnya terdiri dari kaum priyayi pegawai pemerintah kolonial Belanda,
Sikap Terhadap Agama:
- SI membela Islam dan memperjuangkan kebenarannya,
- BO bersikap anti Islam dan anti Arab (dibenarkna oleh sejarawan Hamid Algadrie dan Dr. Radjiman)
Perjuangan Kemerdekaan:
- SI memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan mengantar bangsa ini melewati pintu gerbang kemerdekaan,
- BO tidak pernah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan telah membubarkan diri tahun 1935, sebab itu tidak mengantarkan bangsa ini melewati pintu gerbang kemerdekaan,
Korban Perjuangan:
- Anggota SI berdesak-desakan masuk penjara, ditembak mati oleh Belanda, dan banyak anggotanya yang dibuang ke Digul, Irian Barat,
- Anggota BO tidak ada satu pun yang masuk penjara, apalagi ditembak dan dibuang ke Digul,
Kerakyatan:
- SI bersifat kerakyatan dan kebangsaan,
- BO bersifat feodal dan keningratan,
Melawan Arus:
- SI berjuang melawan arus penjajahan,
- BO menurutkan kemauan arus penjajahan,
Kelahiran:
- SI (SDI) lahir 3 tahun sebelum BO yakni 16 Oktober 1905,
- BO baru lahir pada 20 Mei 1908,
Seharusnya 16 Oktober
Hari Kebangkitan Nasional yang sejak tahun 1948 kadung diperingati setiap tanggal 20 Mei sepanjang tahun, seharusnya dihapus dan digantikan dengan tanggal 16 Oktober, hari berdirinya Syarikat Islam. Hari Kebangkitan Nasional Indonesia seharusnya diperingati tiap tanggal 16 Oktober, bukan 20 Mei. Tidak ada alasan apa pun yang masuk akal dan logis untuk menolak hal ini.Jika kesalahan tersebut masih saja dilakukan, bahkan dilestarikan, maka saya khawatir bahwa jangan-jangan kesalahan tersebut disengaja. Saya juga khawatir, jangan-jangan kesengajaan tersebut dilakukan oleh para pejabat bangsa ini yang sesungguhnya anti Islam dan a-historis.Jika keledai saja tidak terperosok ke lubang yang sama hingga dua kali, maka sebagai bangsa yang besar, bangsa Indonesia seharusnya mulai hari ini juga menghapus tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional, dan melingkari besar-besar tanggal 16 Oktober dengan spidol merah dengan catatan “Hari Kebangkitan Nasional”.
June 2nd, 2008 at 3:55 pm
KEBANGKITAN NASIONAL TAK MEMPUNYAI MAKNA
Kebangkitan Nasional yang diperingati setiap tanggal 20 Mei ini tetap menjadi polemik perseteruan perebutan nama besar, dimana pada tanggal ini ditandai dengan berdirinya sebuah organisasi Budi Utomo yang didirikan oleh Sutomo atau sapaan akrab Bung tomo mendapat kecaman bahwa bukan organisasi ini yang pertama terbentuk melainkan sarekat Islam lah yang mendahului mereka, sampai sekarang pun peristiwa sejarah itu masih menjadi pertanyaan. Dapat dilihat betapa pentingnya sebuah nama besar sebagai salah satu bentuk legitimasi agar apa yang telah di bentuk dan di rintis pada masa lalu dapat menjadi kenangan yang harus selalu diingat oleh rakyat Indonesia.
100 tahun bukan waktu yang singkat bagi perjalanan pemerintahan Indonesia, banyak perjuangan dan pengorbanan yang telah dilakukan demi tercapainya kemerdekaan negara kesatuan Republik Indonesia. sejak ditandai dan diakuinya kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 oleh pemerintahan Jepang maka dimulai lah pembenahan diri pemerintahan Indonesia dalam perputaran perekonomian kancah dunia. Banyak pihak yang menyatakan kemerdekaan berawal dan bersumber berkat lahirnya Budi Utomo yang merupakan tonggak utama dari keinginan untuk merintis kemerdekaan negara sendiri, sumpah pemuda pun dijadikan pula sebagai pemicu lahirnya ini. Gerakan-gerakan ini lahir karena para pemuda Indonesia telah mengecap pendidikan seadanya yang diperoleh karena politik etis pemerintahan Belanda terhadap kaum pribumi kita. ternyata kita masih terlalu lama dijajah Belanda dibandingkan dengan peringatan seabad Kebangkitan Nasional kita,itulah Indonesia tanah air yang kucintai.
Pada masa sekarang Kebangkitan Nasional diperingati dengan acara-acara besar yang membutuhkan banyak biaya yang kita tidak mengetahui darimana asal muasal dana itu diambil. Seabad nominal angka yang besar untuk memberikan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia. Banyak permasalahan yang timbul yang mewarnai peringatan ini diantarnya dengan kenaikan harga BBM yang sangat meresahkan semua pihak, terjadi demo dimana-mana yang menentang akan kebijakan pemerintahan itu. namun tidak ada yang bisa dibuat pemerintah atas kenaikan harga itu karena memang keadaan minyak dunia sedang mengalami kenaikan.
Peristiwa diatas adalah kado istimewa bagi kita, kebangkitan nasional yang diharapkan tidak sesuai dengan keinginan. Harapan sebagai rakyat Indonesia untuk bisa bangkit dari keterpurukan krisis yang melanda malah bertambah.Kebangkitan yang muncul karena keinginan hati rakyat Indonesia pada jaman dulu yaitu agar bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya menjadi bebanding terbalik dari apa yang dicitai-citakan sebelumnya.
Masih kurangnya kesadaran akan bagaimana makna bangkit itu sendiri yang menjadi kurangnya rasa memiliki antar sesama untuk menjaga dan membahagiakan satu sama lainnya. Pendidikan dan kesehatan gratis dijadikan sebagai misi utama yang harus dipenuhi dan dicapai dalam setiap pencalonan kepala pemerintahan. Dua faktor ini yang selalu dielu-elukan untuk dapat mensukseskan dan semi kelancaran pemilihan itu agar dapat dipercaya oleh rakyat menjadi pemimpin pemerintahan. Tidak terlihat disini tindakan yang mencerminkan adanya kemauan untuk dapat bersama-sama menyelesaikan permasalahan yang selalu menghantui tiap daerah di Indonesia,ikrar sumpah pemuda yang merupakan pencetus kesatuan tidak dirasakan.
Kesatuan itu hampir tidak ada, yang muncul hanya kepentingan golongan untuk dapat berada di puncak kekuasaan teringgi di negara. Lumayan serupa dengan jaman kerajaan dulu yang lebih mementingkan kepentingan intern kerajaannya daripada harus bersatu demi menjaga keutuhan nusantara,dan dampaknya dapat diruntuhkannya kerajaan-kerajaan itu. Kekuasaan menjadi faktor penggairah utama yang dianggap menjamin kemakmuran dan kesejahteraan.
Kebangkitan Nasional hampir tidak mempunyai makna sekarang ini, peringatan-peringatan yang dilaksanakan hanya sebagai formalitas belaka agar dapat dikatakan sebagai bangsa yang masih menghargai sejarah. Mengapa demikian??? karena pesan dari peristiwa itu sendiri tidak dapat dipahami dan dimaknai dengan baik. Berusahalah Indonesia !!!!
June 4th, 2008 at 9:31 am
INDONESIA MASIH DIJAJAH
Sejarah kebangkitan nasional Indonesia awalnya berakar pada pentingnya rasa kebangsaan dan pemerataan pendidikan. Hal ini tercermin dari berbagai pemikiran banyak tokoh utama dimasa itu maupun orientasi organisasi massa yang ada. Ternyata bahwa pada awal kebangkitan nasional Indonesia issu pengembangan sumber daya manusia Indonesia menjadi salah satu faktor utama. Hal ini menarik jika kita telaah dari autobiography tokoh utama masa itu, seperti dr. Soetomo, pendiri Boedi Oetomo, beliau melihat bahwa faktor pemerataan pendidikan khususnya melalui media tulisan menjadi sangat strategis. Langkah ini sangat menguntungkan ditinjau dari effisiensi proses pemerataan informasi untuk menunjang proses belajar mengajar terutama mengingat sumber daya pengajar / guru yang terbatas pada saat itu.
Setelah 100 tahun berlalu, keadaan sudah jauh berubah. Dimana-mana sudah banyak didirikan sekolah dan perguruan tinggi yang berakibat semakin banyaknya kaum terpelajar di negeri ini. Kondisi ini tentu saja lebih baik dari 100 tahun yang lalu dimana pada masa itu hanya sedikit orang yang bisa merasakan bangku sekolah. Dengan banyaknya orang pintar di negeri ini diharapkan dapat semakin memajukan bangsa ini. Dipundak merekalah teremban tugas meneruskan cita-cita tokoh-tokoh perjuangan terdahulu.
Akan tetapi, setelah 100 tahun kebangkitan nasional terjadi, cita-cita mereka belum bisa sepenuhnya tercapai. Generasi penerus mereka sekarang ini masih belum mampu melepaskan belenggu penjajahan. Memang benar Indonesia telah merdeka 63 tahun lalu atau tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1945 dengan ditandai pembacaan teks proklamasi oleh Ir.Soekarno dan Drs.Moh.Hatta. Tapi kita hanya merdeka di bidang politik saja. Jika kita melihat sektor ekonomi dan budaya, bangsa ini ternyata masih dijajah. Padahal dulu Moh.Hatta pernah berpesan “ Indonesia harus mencapai kemerdekaan disegala bidang, bukan dibidang politik saja “.
Dari segi ekonomi bangsa kita masih sangat bergantung pada bangsa asing. Banyaknya investasi bangsa asing di negeri ini ternyata berdampak pada dikuasainya hampir semua BUMN oleh bangsa asing. Padahal seharusnya kita lah yang harus memegang sektor-sektor pital di negeri ini. Minyak bumi, gas bumi, batu bara, bijih besi, emas, dan logam lainnya, semuanya berada ditangan bangsa asing. Belum lagi pembalakan hutan secara illegal semakin memperparah kondisi bangsa ini. Akibatnya kita tidak bisa merasakan sepenuhnya kekayaan tanah air kita. Kita tidak mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Akhirnya bangsa Indonesia yang kaya akan sumber daya alamnya menjadi negara miskin dengan hampir setengah jumlah penduduknya dibawah garis kemiskinan. Belum lagi jika ditambah dengan 3.000.000 anak bangsa yang saat ini terancam penyakit busung lapar akibat kekurangan gizi. Sekarang apa bedanya kondisi kita seperti saat sebelum merdeka dulu?
Dari segi budaya kita juga mengalami penjajahan dengan masuknya budaya luar yang membuat tersingkirnya budaya asli bangsa. Generasi penerus sekarang lebih senang menuruti budaya luar sehingga gaya kehidupan mereka pun sudah lebih condong ke barat. Hal yang dulu tabu untuk dilakukan kini seperti hal yang biasa saja, seperti pose seronok para artis diberbagai media massa dan elektronik. Sepertinya paham liberal telah merasuki bangsa ini. Jika hal ini terus dibiarkan akan berdampak pada kurangya rasa nasionalisme pada diri anak bangsa. Jiwa mereka lemah karena pikiran mereka telah diracuni dengan segala kesenangan. Lantas bagaimana bangsa ini bisa maju jika mental anak bangsanya rapuh. Mereka tidak akan pernah bisa melepaskan bangsa dari rantai penjajah dengan mental dan moral yang hancur.
Semoga saja dengan memperingati 100 tahun kebangkitan nasional ini, rasa nasionalisme anak bangsa kita bisa tumbuh kembali. Amien…
June 5th, 2008 at 4:24 am
BBM NAIK, KADO MANIS 100 TAHUN KEBANGKITAN NASIONAL
Bertepatan dengan tanggal 20 mei 2008 genap sudah 100 tahun kebangkitan nasional. Walaupun masih ada pro dan kontra pendapat mengenai hari kebangkitan nasional yang sesungguhnya, tapi yang penting adalah makna yang terkandung didalam momen kebangkitan nasional itu sendiri. Hampir seluruh rakyat negeri ini bersuka cita menyambut 100 tahun kebangkitan nasional. Ada banyak macam cara mereka lakukan untuk merayakannya, seperti konvoi kendaraan bermotor, lomba jalan santai, acara hiburan, dan bahkan juga demonstrasi. Tidak salah memang dengan apa yang mereka lakukan tersebut, hanya saja mungkin terkesan bodoh jika melihat kondisi negara kita sekarang ini yang lagi memprihatinkan. Disaat rakyat menjerit karena kenaikan harga BBM, segelintir orang malah berhura-hura merayakan 100 kebangkitan nasional. Padahal belum tentu mereka itu mengerti makna dari kebangkitan nasional. Ironis sekali jika generasi penerus bangsa kita bermental seperti ini.
100 tahun kebangkitan nasional ini seharusnya diisi dengan kesadaran berbangsa yang tinggi untuk membangun bangsa kearah yang lebih maju bukan berhura-hura. Jika melihat kondisi yang sekarang ini kita harusnya malu kepada tokoh-tokoh bangsa terdahulu yang sudah berjuang demi bangsa. Mereka telah mewariskan bangsa ini kepada kita dengan harapan bangsa ini akan lebih maju. Tapi kenyataannya kita belum melakukan sesuatu yang berarti lagi bagi bangsa ini. Saat ini rakyat Indonesia lebih memikirkan nasibnya masing-masing dari pada nasib bangsanya. Hal ini bisa dimaklumi karena kondisi ekonomi kita yang memprihatinkan telah membuat kondisi rakyat kita terhimpit.
Apalagi sekarang ini pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk menaikkan BBM. Disaat rakyat menjerit akibat biaya hidup yang tinggi, pemerintah seakan tak mau perduli dengan nasib mereka. Memang kita tidak selayaknya menimpakan semua kesalahan kepada pemerintah. Kita harusnya lebih arif dalam menyikapi kondisi ini demi kemajuan bangsa kita, bangsa Indonesia.
June 5th, 2008 at 5:08 am
WAJAH PENDIDIKAN NEGERI KU SETELAH 100 TAHUN BANGKIT
Kebangkitan nasional adalah suatu tindakan rakyat dimana tindakan itu membuat menjadi lebih baik atau bangkit nya rakyat Indonesia menginginkan perubahan.dan dengan adanya rasa ingin suatu perubahan maka rakyat indonesia menggalang persatuan dan kesatuan dan pada saat itu ada seorang yang sedang bertindak dan mendirikan suatu organisasi pergerakan nasional yaitu Budi Utomo pada tahun 1908. pada saat awal berdirinya pergerakan itu pergerakan nya masih didaerah itu belum secara menyeluruh belum nasional, tetapi dengan adanya pergerakan itu tumbuh rasa kebersamaan ingin melewan dan rasa ingi lepas dari belenggu para penjajah, karena pada saat itu rakyat Indonesia menjadi sengsara, para penjajah ingin menguasai wilyah nusantara, saat itu rakyat Indonesia kurang memiliki pendidikan dibanding dengan para penjajah, dengan kurang nya pendidikan mengakibatkan para penjajah dengan mudah membodohi rakyat indonesia.Agar tidak terjadi lagi penjajahan dan kurangnya pendidikan pada masa dulu kiranya kita rakyat Indonesia memperbaiki pendidikan yang sedang dijalankan pemerintah.
Walaupun pada masa perang kemerdekaan dan awal pembangunan, Indonesia telah banyak mengalihkan fokus pembangunan Indonesia pada masalah fisik dengan mengeksploitasi sumber daya alam di Indonesia, tampak bahwa saat ini dengan di garis bawahi GBHN 93 pemerintah telah mencanangkan program wajib belajar 9 tahun pada hari pendidikan nasional tanggal 2 Mei yang lalu dengan fokus utama pembangunan sumber daya manusia. Pemerintah bahkan tidak tanggung-tanggung dalam melaksanakan hal ini dengan mengambil sebagian besar formasi pegawai negeri yang ada untuk membuka peluang untuk menjadi guru. Jelas bahwa tenaga pengajar / guru yang ada jumlahnya sangat terbatas dibandingkan jumlah siswa / calon siswa yang membutuhkan bimbingan di seluruh Indonesia. Kembali pada tulisan maupun autobiography dr. Soetomo, media tulisan menjadi sangat strategis untuk mendampingi guru dilapangan khususnya dalam proses belajar-mengajar. Tulisan ini akan memfokuskan alternatif penggunaan teknologi informasi untuk meringankan tugas guru di lapangan khususnya dalam menunjang proses pemerataan pendidikan.
Sekarang sudah banyak media elektronika yang menunjang sekaligus menambah informasi dunia pendididikan yaitu komputer , internet merupakan sumber informasi, ilmu, dan pengatahuan, dimana disana disediakan segudang pengetahuan baru, informasi baru dan informasi tentang dunia pendidikan.Teknologi jaringan komputer membuka kemungkinan pembangunan SDM secara effisien tanpa perlu terikat pada dimensi ruang dan waktu.
jaringan komputer ini diharapkan akan membuka terobosan baru di dunia pendidikan Indonesia khususnya untuk proses pemerataan pendidikan di Indonesia yang memungkinkan terjadinya proses pendidikan jarak jauh yang sangat effisien.
Revolusi dalam dunia komputer dan telekomunikasi telah membuka wawasan baru khususnya bagi dunia pendidikan dan penelitian di Indonesia. Bukan mustahil dengan berkembangnya jaringan komputer di Indonesia akan membuka nuansa baru bagi proses pembentukan SDM melalui pemerataan pendidikan dan informasi. Hal ini pada akhirnya diharapkan dapat menjadi basis dari kebangkitan nasional Indonesia ke dua.
June 6th, 2008 at 7:03 am
100 tahun kebangkitan nasional
KEBANGKITAN???
BBM terus meninggi, susu tak terbeli
Orang pintar tarik subsidi, anak kita kurang gizi
Penggalan bait lagu diatas yang di senandungkan oleh Iwan Fals sangat menggambarkan keadaan Negara kita sekarang ini, krisis pangan, krisis ekonomi, krisis kepercayaan sampai krisis harga diri. Merupakan cerminan krisis multi dimensi dewasa sekarang ini, memang keadaan bangsa Indonesia sampai hari ini tak tahu mau dibawa kemana rimbanya maju nggak, mundur juga nggak, kalau stagnan MUNGKIN.
Dalam rangka 100 tahun kebangkitan nasional yang acara puncaknya di adakan di Istora Bung Karno yang dihadiri oleh Presiden RI dan Wapres RI dan juga di hadiri oleh jajaran menteri serta tokoh-tokoh nasional bangsa Indonesia, gegap gempita, tata lampu yang meriah, berjuta kembang api, sorak sorai bersahutan, berjuta bendera sampai ribuan penari dan pendukung acara juga memeriahkan acara 100 tahun kebangkitan nasional ini.
Secara faktual acara ini sukses dilaksanakan, akan tetapi menimbulkan berjuta pertanyaan. Uang siapa yang mereka pakai dalam penyelenggaraan tersebut? Tak lain dan tak bukan jawabannya adalah uang RAKYAT INDONESIA. Di tengah krisis kenaikan BBM, di tengah himpitan ekonomi alangkah teganya pemimpin kita menari-nari di atas penderitaan rakyat. Memang sah-sah saja dalam memperingati 100 tahun kebangkitan nasional kita mengadakan acara, alangkah indahnya acara tersebut jika diadakan di Istana Negara dengan sederhana dan bersahaja. Berapa uang yang di habiskan untuk honor penari? Berapa uang yang dihabiskan untuk dekorasi? Berapa uang yang dihabiskan untuk kembang api? Dan berbagai macam tetek bengek yang harus di urus dalam acara tersebut?.
Mungkin Cuma bermilyar-milyar yang di habiskan dalam acara tersebut, tetapi alangkah indahnya uang yang bermilyar-milyar tersebut digunakan untuk hal yang lebih bermanfaat bagi bangsa dan Negara Indonesia. Hal inikah yang kita sebut sebagai 100 TAHUN KEBANGKITAN NASIONAL?
Sumber daya alam pun habis, hutan gundul, tanah pasir di keruk tetangga, batubara ludes, minyak amblas. Ada yang dikuasai oleh pihak asing, ada yang babat oleh putra-putri bangsanya sendiri. Sumber daya manusia pun runtuh oleh mahalnya pendidikan, narkoba, dan masih banyak lagi masalah yang menanti bangsa ini di depan pintu gerbang KEMERDEKAAN YANG SEMU.
Bangkit dari keterpurukan, bangkit dari penjajahan kapitalis, bangkit dari kehancuran. Semoga dengan 100 tahun kebangkitan nasional yang telah di rayakan segenap bangsa Indonesia menampukkan harapan kepada para pemimpin-pemimpin bangsa agar menjalankan amanah dari rakyat.
Maju Indonesia ku, bangkit dari keterpurakan.
June 18th, 2008 at 4:29 pm
BANGKIT MELAWAN DIRI SENDIRI
1OO tahun silam tepatnya tanggal 20 mei 1908 berdiri organisasi Boedi Oetomo yang dianggap sebagai awal kebangkitan nasional. Saat itu rasa persatuan dan kesatuan masih lemah. Tapi rasa nasionalisme sudah mulai tumbuh di setiap jiwa kaum pelajar yang merupakan cikal bakal tokoh-tokoh bangsa yang nantinya berusaha memerdekakan dan melepaskan bangsa ini dari tangan penjajah. 20 tahun kemudian diselenggarakan kongres sumpah pemuda yang menjadi tanda bersatunya seluruh pemuda dalam satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. Tidak lama setelah itu pada tanggal 17 Agustus 1945 apa yang menjadi cita-cita tokoh-tokoh bangsa menjadi kenyataan yaitu mencapai kemerdekaan. Seluruh rakyat menyambut gembira momen tersebut.
Tapi setelah 63 tahun kemerdekaan bangsa dan juga bertepatan 100 tahun hari kebangkitan nasional, kondisi bangsa Indonesia belum bisa dikatakan baik. Indonesia terbelit banyak masalah yang kompleks seperti masalah utang negara yang jatuh tempo, tingkat kesejahteraan rakyat yang masih rendah, pengangguran dimana-mana, dan masalah lain-lainnya. Kondisi ini diperparah lagi dengan mulai lunturnya semangat nasionalisme pada diri setiap pemuda-pemudi yang merupakan generasi penerus bangsa. Masih belum hilang dari ingatan kita bagaimana organisasi separatis GAM dulu pernah berusaha memisahkan Aceh dari NKRI. Belum lagi jika kita melihat peristiwa yang baru-baru ini terjadi seperti peristiwa serangan FPI kepada Aliansi Kebebasan Beragama di sekitar Monas. Kemudian sekelompok orang yang mengatasnamakan pembela Islam mengecam dan menuntut FPI untuk dibubarkan karena dianggap membuat buruk citra Islam. Peristiwa tersebut menandakan bangsa ini mulai terjadi perpecahan sebagai akibat dari lemahnya rasa persatuan dan kesatuan bangsa. Saling serang terhadap saudara sendiri menjadi pemandangan sehari-hari.
Kondisi ini akan sangat berbahaya sekali karena akan membuat lemah ketahanan nasional bangsa kita. Apabila kita lemah maka kita akan mudah diserang oleh bangsa lain dan tidak mustahil kita akan dijajah kembali seperti yang dialami oleh negara Irak saat ini. Untuk itu kita harus mulai berbenah mulai dari diri kita sendiri. Mari kita tanamkan kembali kedalam jiwa kita rasa persatuan dan kesatuan serta rasa saling bersaudara agar tidak terjadi lagi saling serang yang dapat menumbuhkan benih perpecahan. Bertepatan dengan 100 tahun kebangkitan nasional ini kita jadikan momen kebangkitan kita dengan mulai dari diri sendiri.
June 21st, 2008 at 8:12 am
naskah lomba hrs dikrm via email kan ? kok naskah sy blm tertayang di dftar peserta ya ?
June 26th, 2008 at 6:58 am
[...] Mini febrianti Says: May 29th, 2008 at 7:57 am [...]
July 4th, 2008 at 11:36 am
askum
kok naskah saya belum di posting ?
judul naskah saya
“kado dari pemerintah dan rakyat”
wass
July 15th, 2008 at 9:49 am
Mohon informasinya tulisan saya yang berjudul “membumikan Indonesia bangkit” untuk berpartisipasi dalam lomba 100 tahun kebangkitan nasional kok belum ditampilan dalam daftar peserta lomba? Naskah saya kirimkan tanggal 11 Juli 2008.
Terima kasih atas perhatiannya.
Salam
Heri Ispriyahadi
July 15th, 2008 at 9:57 am
MEMBUMIKAN INDONESIA BANGKIT
Oleh: Heri Ispriyahadi
Nama Blognya: http://hervirpat.multiply.com dan http://herivirpati.blogspot.com.
Bangkit itu tidak ada….tidak ada kata putus asa dan kata menyerah. Salah satu penggalan puisi bangkit yang dibacakan Deddy Mizwar terasa menohok relung hati kita. Bulu kuduk ini serasa berdiri saat menyimak kata demi kata yang disuarakan dengan intonasi pelan sampai menggelegar dari aktor pemeran Naga Bonar tersebut. Puisi yang ditulis dari negatif ke tindakan yang positif menyadarkan diri kita bahwa masih banyak persoalan yang mendera bangsa kita. Sudah lama bangsa ini mengalami keterpurukan. Namun sudah lama pula kita tidak mampu keluar dari permasalahan tersebut. Hanya satu kata yang wajib kita lakukan yaitu ”Bangkit”.
Peringatan hari kebangkitan nasional 20 Mei 2008 hendaknya dijadikan momentum awal kebangkitan bangsa Indonesia. Slogan Indonesia bangkit telah dicanangkan dengan gegap gempita di stadion Gelora Bung Karno memperingati 100 tahun hari kebangkitan nasional. Slogan itu hendaknya jangan hanya manis di mulut namun harus diwujudkan menjadi kekuatan dasyat mengejar ketertinggalan dari bangsa-bangsa lain.
Selama kurun waktu 53 tahun sejak merdeka, bangsa Indonesia terus berusaha membangun. Sudah enam presiden memimpin negeri ini. Dari orde baru ke orde lama sampai dengan orde reformasi mengawal pembangunan di Indonesia. Demokrasi yang dipasung selama dibawah kepemimpinan orde lama maupun baru sudah mendapat ruang yang lebih leluasa. Otonomi daerah dan sistim pemilihan kepala daerah yang langsung dipilih oleh rakyat wujud dari demokrasi tersebut. Namun euforia demokrasi dilakukan secara berlebihan.
Demontrasi marak terjadi dimana-mana. Kalah dalam pilkada, ingin menjatuhkan lawan politik, memprotes berbagai kebijakan pemerintah atau masalah lain adalah berbagai permasalahan di belakang maraknya demonstrasi. Ironisnya, demonstrasi kadang dibarengi dengan tindakan yang anarkis. Sejumlah kantor pemerintah dibakar, perkelahian antar pendukung dan tindakan anarkis lainnya menjadi potret buram dari pelaksanaan demokrasi yang kebablasan. Kesemuanya ini menunjukkan masih belum siap dan dewasanya rakyat berpolitik.
Pembangunan di bidang ekonomi juga belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Ekonomi yang tumbuh 6,32 % dan laju inflasi 6,59% masih dibawah target yang ditetapkan pemerintah di 2007 belum banyak dirasakan oleh masyarakat luas. Angka indikator yang mengesankan tersebut tidak tercermin di kehidupan sehari-hari. Angka kemiskinan dan pengangguran terus bertambah. Harga-harga terus merangkak naik yang dipicu meroketnya harga minyak dan komoditi pangan. Daya beli masyarakat semakin menurun. Konsumsi masyarakat yang menurun memukul sektor industri. Omset penjualan industri terus menurun. Akibat tidak mampu menutup kerugian, satu demi satu pabrik-pabrik tersebut gulung tikar. Yang paling menderita tentu kaum buruh yang harus kehilangan mata pencahariannya. Angka kemiskinan dan penggangguran semakin meningkat.
Kinerja ekonomi Indonesia saat ini jauh tertinggal dibandingkan dengan negara tetangga. Singapura dan Malaysia telah lama meninggalkan kita. Padahal dahulu di awal kemerdekaan Malaysia berguru dengan kita. Banyak kalangan pendidik dikirim kenegeri Jiran tersebut untuk mengajar. Demikian pula beberapa pemimpin yang duduk di pemerintahan Malaysia saat ini pernah menimba ilmu di universitas-universitas di Indonesia. Keberhasilan pembangunan di Malaysia karena memprioritaskan pembangunan sumber daya manusia sebagi ujung tombak pembangunan.
Kinerja konomi yang tertinggal dan sistim politik yang tidak stabil membuat Indonesia menjadi macan ompong di tataran ASEAN. Singapura, Malaysia dan Thailand saat ini saling berebut untuk menjadi pemimpin di forum ini.
Padahal dahulu, Indonesia sangat disegani di ASEAN. Bahkan di tataran yang lebih luas seperti APEC, Non-Blok maupun forum internasional lainnya nama Indonesia masih diperhitungkan. Namun dengan berjalannya waktu sedikit demi sedikit wibawa Indonesia terkikis. Prestasi di bidang olahraga juga menyedihkan. Indonesia dahulu begitu perkasa di ajang SEA Games dengan menyandang juara umum beberapa kali.Saat ini gelar tersebut jauh dari jangkauan kita. Dominasi kita di bulutangkis juga sudah disalip oleh China. Piala Thomas dan Uber Cup sudah lama tidak singgah di negeri tercinta ini.
Sangat menyedihkan melihat kenyataan-kenyataan ini. Bangsa Indonesia yang memiliki sumber daya alam luar biasa besarnya ternyata tidak dapat memanfatkan kekayaan alamnya tesebut. Sangat ironis, bukan kita yang menikmati manisnya sumber daya alam yang berlimpah malah justru para investor-investor asing yang mengeruk kekayaan kita. Exxon, Freeport dan Caltex adalah beberapa nama investor asing yang berpesta pora menikmati gurihnya kekayaaan alam Indonesia.
Eksplorasi yang berlebihan menyebabkan kerusakan dimana-mana. Hutan gundul, pencemaran air, laut dan udara menjadi pemandangan umum. Akibatnya musibah bencana alam banjir, tanah longsor dan hilangnya habitat satwa langka tak terhindarkan. Parahnya instansi yang seharusnya steril dari kepemilikan asing juga mulai diobok-obok. Saat ini mayoritas kepemilikan saham Indosat dimiliki Singapura. Demikian perbankan asing juga sudah mulai mendominasi kepemilikan di perbankan domestik. Kesemuanya ini menjadikan kita seolah-olah bekerja di negara lain.
Momentum peringatan kebangkitan nasional saat ini harus kita jadikan pijakan awal kebangkitan kita. Indonesia harus kembali lagi menjadi bangsa besar dan disegani. Paling tidak ditataran ASEAN kita harus mulai unjuk gigi. Perubahan harus dilakukan untuk mengejar ketertinggalan. Bangkit, bangkit..dan bangkit harus menjadi peluru kita untuk mengatasi berbagai permasalahan. Pemerintah, parlemen, akademisi, pengusaha, aparat penegak hukum dan kelompok masyarakat lainnya harus bahu membahu untuk membangun negeri tercinta ini. Setidaknya mulailah dari diri kita untuk memperbaiki diri, kemudian keluarga, masyarakat dan akhirnya pada negeri tercinta ini. Kalau setiap insan Indonesia berpikir dan bertindak seperti ini sudah dipastikan bangsa ini akan dapat mewujudkan cita-cita menjadi bangsa yang makmur.
Kunci untuk menuju sukses adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Malaysia telah membuktikan hal tersebut. Dikuranginya subsidi pendidikan telah menjadikan pendidikan saat ini semakin mahal. Sulit sekarang bagi anak-anak dari golongan kaum menengah kebawah dapat melanjutkan ke perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. Dengan pengurangaan subsidi menyebabkan kalangan perguruan tinggi negeri juga berlomba-lomba menarik dana yang sebesar-besarnya dari mahasiswa. Kalau hal ini dibiarkan berlarut-larut maka bagi anak-anak dari kalangan petani miskin hanyalah mimpi untuk menjadi dokter atau ”tukang insinyur”. Untuk diterima di fakultas kedokteran puluhan sampai ratusan juta rupiah harus dibayarkan mahasiswa baru. Sudah saatnya pemerintah meninjau ulang kebijakan pengurangan subsidi ini. Kalau perlu pemerintah melakukan pengurangan anggaran di tempat lain untuk menambah subsidi pendidikan. Anggaran untuk pendidikan harus mendapatkan porsi yang besar kalau pemerintah ingin Indonesia menjadi bangsa yang maju.
Selain itu korupsi yang merajalela dan penegakan hukum yang mandul harus dibabat tuntas seakar-akarnya. Sudah menjadi rahasia umum Indonesia menduduki ranking tinggi untuk korupsi baik di lingkup regional maupun dunia Bahaya korupsi sangat merugikan bagi pembangunan di negeri ini. Demikian juga geliat politik yang tidak stabil harus dikendalikan. Selain permasalahan lainnya, kedua hal tersebut berkontribusi besar menyebabkan hengkangnya sejumlah investor asing. Sony Electronic, Aiwa, Nike dan Gillette memindahkan usahanya ke Malaysia dan Vietnam akibat iklim investasi yang tidak kondusif. Kesemuanya itu menjadi potret buram Indonesia berdampak negatif bagi pembangunan.
Sudah saatnya supremasi hukum harus ditegakkan untuk menanggulangi kejahatan korupsi ini. Kalau perlu hukuman berat dijatuhkan bagi pelaku korupsi. Di China tidak ada ampun lagi bagi pelaku korupsi. Mereka dihukum mati di hadapan masyarakat. Efek jera terbukti sangat ampuh mengurangi tindak kejahatan korupsi.
Marilah kita bersama-sama membumikan slogan Indonesia bangkit. Mewujudkan slogan tersebut dengan tindakan nyata untuk bangkit dari berbagai keterpurukan. Dengan demikian tidak sia-sia pemerintah mengeluarkan biaya yang sangat besar pada saat mencanangkan Indonesia bangkit. Tulisan ini ditutup dengan potongan terakhir puisi bangkit Deddy Mizwar yaitu Bangkit itu aku…..untuk Indonesia. Semoga
September 21st, 2008 at 12:10 pm
banyak banget bisa nga di singkatin
September 21st, 2008 at 12:10 pm
mo jadiin sesuatu yang menarik ehhhhh malah panjang bngt
November 12th, 2008 at 10:12 pm
m9w7h7r2xhn2xwe5