10. Menulis Menikam Malas
Oleh Ersis Warmansyah Abbas
Intip juga www.webersis.com
ANDALAS DEJAVA: Dalam menulis saya susah membentangkan imajinasi, dan melawan penyakit malas. Membunuh penyakit malas susah ya Pak?
BUNUH. Cara paling paling ampuh membunuh malas, bunuh orangnya. Begitu kelakar seorang teman bagarah-garah. Logikanya lurus. Kalau orangnya mati, malasnya mampus. Kalau mau mempraktikkannya, silahkan. Akan terbukti dengan sendirinya. Kalau saya punya cara lain sekalipun kuno. Malas adalah bagian diri. Ada yang memelihara sangat fanatik, ada yang ‘membunuh’, ada yang membiarkan mampir sekali-kali. Saya pilih yang terakhir.
Menurut saya, ngapaian memelihara malas. Malas itu kan tidak mau mengerjakan sesuatu atau tidak suka melakukan sesuatu. Hidup dan kehidupan tidak akan pernah berpihak pada orang malas, si pemalas.
Dalam kaitan menulis, kalau tidak suka, jangan menulis. Buang-buang pikiran, waktu, energi, dan peluang. Lagi pula, tidak semua orang harus menjadi penulis. Saya memotivasi, terutama untuk yang berkehendak. Syukur yang di wilayah abu-abu terseret. Lalu, bagaimana membubunh malas menulis?
Pertama, tanya diri, apa sih tujuan menulis? Kedua, cukup ‘modal’; tekad, pengetahuan, sarana, dan apakah punya nyali? Soal nyali, berani (courage) sangat penting. Sebab, menulis tantangannya berat. Para pemalas pasti tidak akan sanggup.
Ketiga, mau dan mampu apa tidak belajar dan membelajarkan diri. Tidak ada manusia yang begitu lahir langsung jadi penulis. Lagi pula, bagi saya, bakat (menulis) bukanlah bawaan, tapi didapat dengan berlatih. Orang dikatakan berbakat setelah menulis. Jangan mau ditipu teoritikus.
Kalau sudah paham hal tersebut, pertanyaan untuk apa menulis barulah pantas dijawab. Dan, menulis itu menyenangkan, berdakwah, menanam amal, melestarikan pikiran, menyalurkan ide, dan seterusnya. Sungguh banyak manfaatnya.
Sebab, sebenarnya ketika memulai menulis pastilah berlandaskan tujuan yang hendak dicapai. Tujuan itu ada pada masing-masing diri. Bagi yang berpikiran teguh, saol lainnya tidak terlalu masalah. Kalau pengetahuan kurang memadai, ya membaca. Kalau menulis belum fasih, latihan dengan menulis, menulis, dan terus menulis. Hampir dipastikan tidak akan ada halangan berarti.
Harap dicatat. Kesulitan-kesulitan itu ada pada pikiran, pada persepsi, pada mindset. Coba ingat-ingat banyak hal segi kehidupan yang dulunya tidak mungkin dilakukan, setelah masanya tiba, kog biasa-biasa saja. Saya tidak membayangkan berprofesi dosen, terlalu tinggi. Setelah dilakoni, seperti menarik nafas saja tu.
Ayo menulis sambil menikam malas, simpulan Andalas Dejava. Kalau yang ini wajib diapresiasi. Tikam malas, bunuh, tapi … jangan orangnya. Malas jangan dilestarikan, dipelihara, dimanja-manjain, apalagi dijadikan pegangan fanatik.
Wahai saudara-saudara sebangsa dan setanah air. Yakinlah menulis bermanfaat. Menyehatkan jiwa, katarsis. Tidak semua orang mampu menulis. Hanya orang-orang yang bertekad kuat, berkomitmen tinggi, tahan banting, dan bla-bla yang ‘lulus’ ujian menulis, latihan menulis. Lebih banyak yang gagal. Itu karena malas, bukan karena bodoh.
Dan, saya ingatkan, bisa jadi mereka yang gagal menulislah yang matahkan semangat. Mencaci-maki, mencari-cari kelemahan, kekurangan, kesalahan, tanpa mau mengerti, kalau belajar ya wajar tidak sempurna. Pada tingkat lebih tinggi, bunuh semangat, kalau perlu si calon itu penulis sekalian.
Mereka perlu teman. Atau, kalau pernah menulis satu dua tulisan, Sampeyan ditakut-takutinya, agar dia tidak disainggi. Percayalah, penulis sejati, bagaimanapun awamnya tulisan Sampeyan pasti mersepon dengan bijak.
Jadi, jangan pelihara sifat dan sikap malas. Kalau tidak, akan menumpuk, dan jeratannya susah dilepas. Mengutip simpulan Andalas: Ayo menulis sambil menikam malas. Kalimat yang cerdas.
Oh ya, soal membentangkan imajinasi soal sepele. Lain kali ditulis. Kini, mari menikam malas (menulis). Sebab, kalau malas tertikam sampai modar kita tidak punya alasan lagi. Tidak akan beralasan.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 9 Maret 2008.
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.



March 17th, 2008 at 9:02 am
SEPAKAt
March 25th, 2008 at 7:19 am
terimakasih pencerahannya. cuman saya berusaha untuk tak malas. dan belum berhasil.
ketika saya memaksakan diri menulis ( untuk posting aja si, tulisan asal-asalan) hasilnya jelek.
ada tips yang jitu?
reagrds
April 23rd, 2008 at 5:42 am
ada seorang guru menulis yang bilang kepada muridnya, “Menulislah terus. Jangan sampai engkau putus asa. Kalaupun engkau putus asa, maka menulislah dalam keputusasaan…”
Kalau malas, menulis, membaca. Masih malas, diskusi. Masih malas, bermainlah ke rumah teman. Masih malas, tidurlah, siapa tahu dapat ide dalam mimpi. Tapi begitu selesai–dan otak kita segar lagi–menulislah kembali. Kalau masih malas juga, tulislah kemalasanmu sebagai tema. Atau jadikan si malas-mu sebagai tokoh antagonis yang kau tuangkan dalam cerpenmu. Atau tulislah kata-kata makian sepanjang-panjangnya kepada kemalasanmu. Dan, Kalau masih saja malas, semoga engkau segera malas bernapas…