Text Link Ads

09. Menulis, Membentang Pikiran

Oleh Ersis Warmansyah Abbas
Intip juga www.webersis.com

HANUM: Saya pembaca tulisan Pak Ersis, baik yang dimuat Radar Banjarmasin maupun di www.webersis.com. Saya ingin menulis dengan lancar. Bagaimana mengembangkan tulisan dan merangkai kalimat menjadi tulisan? (Radar Banjarmasin, Jumat, 7 Maret, 2008).

MOBIL DINAS. Menulis menuangkan pikiran. Pikiran bermuatan konsep lanjutan persepsi segala sesuatu. Konsep ‘bonsai’ kenyataan atau hal-hal yang direspon atau terespon di rumah otak. Otak, memproses sesuatu yang dipikir berdasarkan respon dan atau guliran pikiran. Apabila prosesnya ‘matang’, lengkap, atau memenuhi syarat pengambaran sesuatu, dapat ‘dibentang’ menjadi pengambaran pikiran. Menulis, prosesnya. Tulisan, hasilnya.
 
Sederhanya begini. Pergilah ke pantai. Lihat perhatikan butir-butir pasir yang tak tehitung banyaknya, air laut seolah-olah berkejaran, alias ombak, yang mengharu biru labirin perasaan. Nun jauh disana, kapal-kapal nelayan muncul-hilang dilamun ombak. Tengok pula dua gunung di ujung kiri atau pohon kepala di ujung kanan. Kesemua itu direkam di memori otak dalam satu konsep, pantai.
 
Sekembali dari pantai, tuliskan apa-apa yang terlihat. Jangankan satu halaman, berjuta-juta halaman bisa ditulis dari ‘pantai’ yang dilihat. Apalagi kalau ditambahbumbuhi imajinasi. Seribu malam menulis pantai, kosaka lima huruf itu, tak kan cukup waktu. Itulah mengembangkan tulisan, merangkai kata-kata menjadi tulisan.
 
Suat kali, misalnya melihat dua sejoli memadu kasih di taman kampus. Auzubillah, atau bisa jadi Astagfirullah, melihat dua insan tersebut berciuman. Teringat adat-istiadat, etika, dan batasan agama yang dirasakan tidak pas dengan kelakuan dua sejoli. Sesuatu berproses di otak.
 
Persepsi tentang pacaran, dan kemudian melihat kenyataan, dihubungkait pemahaman keyakinan, akan menimbulkan ide; sesuatu yang —katakanlah kira-kira— pas merespon peristiwa perciuman tersebut. Proses menulis sedang terjadi di rumah otak.
 
Pada proses tersebut secara melekad terjadi pengembangan tulisan. Mau dibawa kemana, selebar apa (emang daun), dengan analisis apa, atau pakai wejangan sekalian, terserah. Mau membandingkan perangai anak muda sekarang dengn tempo doeloe juga boleh, mau memaki akibat gempuran kebudyaan Barat, tak mengapa. Atau, imajinasi berkembang, tiba-tiba meteor jatuh dari langit, bisa-bisa jadi cerpen yang bagus. Itulah pengembangkan tulisan.
 
Atau begini. Perhatikan mobil-mobil dinas berplat merah yang parkir di depan sekolah menjelang jam bubaran, di mal-mal, pasar trradisional, atau di tempat rekreasi. Gunakan pikiran. Kenapa ya anak-anak sekolah dijemput pakai mobil dinas? Pemerintah kog tega-teganya ‘menugaskan’ pegawainya ‘lembur’ sampai ke mal segala macam. Heran kan, di hari Sabtu-Minggu, atau hari libur pemerintah tega-teganya ‘menugaskan’ pegawainya bekerja. Apa ngak kasian PNS bekerja begitu kerasnya. Bayangkan, para PNS  bekerja keras tanpa kenal lelah sampai ke temat-tempat rekreasi. Sekalipun difasilitasi mobil dinas. Ironis jadinya, justru negara tercinta semakin terpuruk.
 
Dengan kata lain, pengembangan tulisan ketika menulis di otak. Mau seberapa, terserah. Setelah ‘matang’ salin menjadi tulisan di ranah menulis konvensional. Sungguh sangat mudah. Hanya, merangkai kata-kata.
 
Tulisan di otak tersebut disalin menjadi, apa yang kita sebut, tulisan. Pada ranah ini diperlukan kata-kata. Kata-kata yang bermuatan konsep, segala sesuatu yang sebenarnya ‘bonsai’ dari apa yang dipikirkan. Bingung? Tanda sedang berpikir.
 
Dus, kalau ingin lancar merangkai kata-kata, membuat kalimat, tidak ada jalan lain, perbanyak perbendaharaan kata-kata. Caranya dengan banyak membaca, memahami kamus sampai eksiklopedia, mendengar atau bepergian, ya katakanlah bisa didapat dari kegiatan keseharian. Hal berikutnya, tulis, tulis, dan tulis. Menulis, menulis, dan menulis. Menulis membentang pikiran. Latihan menulis, belajar menulis, ya dengan menulis. Jangan pakai cara lain. Fasih jalan karena ditempuh.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 8 Maret 2008.


You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

AddThis Social Bookmark Button

Leave a Reply