08. Menulis, Menyelingkuhi Kesibukan
Oleh Ersis Warmansyah Abbas
Intip juga www.webersis.com
NOOR LATIFAH: Keinginan untuk (belajar) menulis sangat kuat, tetapi kesibukan selalu membelenggu. Bagaimana melepasnya ya Pak?
TAMENG SIBUK. Tidak syak lagi, sibuk dan kesibukan menjadi kendala bagi banyak orang untuk menulis. Dijadikan pembenaran untuk tidak menulis. Seberapa sibuk sih keseharian kita? Kalau kepada mahasiswa saya katakan begini: Menulis bak sekedipan mata. Untuk satu tulisan kira-kira 15-25 menit. Sambil menunggu waktu kuliah, mengantri mandi, menunggu isteri berdandan, atau menunggu dosen yang punya banyak alasan untuk tidak on time.
Banyak yang membawa alasan paten sibuk. Sangat sibuk malahan. Suatu kali mencandai seorang pejabat: Heran, apa sih yang Sampeyan kerjakan? Melotot dia menjawab: Tidak melihatkah. Dari pagi sampai sore penuh acara, kalau badan ini bisa dibagi-bagi, baru mantap bisa mendatangi.
A … hai. Sibuk pekerjaannya; sibuk acara ini-itu. Kalau begitu ceritanya, kapan bangsa ini akan maju. Pejabat sibuk acara, (mudahan tidak) ilmuwan sibuk berseminar, atau guru-guru sibuk mengeluh. Apakah pekerjaan itu sibuk?
Puluhan juta warga negara ‘sibuk’ bekerja di bidang pertanian, peguruan tingi bidang pertanian lengkap dengan Litbang betebaran. Tapi, mengimpor beras? Durian, apel, jeruk, atau beras ketan? Sampai kapan bangsa ini bergantung pada kedelai Amerika?
Belum lagi bicara pendidikan, semakin banyak sarjana, magister, sampai doktor pendidikan, kualitas pendidikan diragukan. Semakin banyak sarjana tehnik, semakin gencar mengimpor aneka produksi industri. Aneh. Sungguh aneh dan nyata.
Kalimantan itu kaya batubara, pembangkit listrik bermesin diesel. Di Pulau Jawa, tidak ada batubara, pembangkit listriknya dihidupkan batubara. Aneh, kan? Tapi itulah Indonsia. Indonesia dimana orang-orangnya sibuk.
Dalam kaitan menulis, apa itu sibuk? Apakah alasan sibuk pantas untuk menulis? Bukankah, kita dapat menulis dimana saja dan kapan saja. Menulis di otak dapat dilakukan disela-sela waktu, ada yang jorok malahan, sambil nonkrong di WC. Setelah ‘tulisan’ terpola di otak, salin; menulis konvensional. Betapa mudahnya.
Budgeting of time, begitu kerennya. Coba, kalau sambil menunggu antri mandi, menulis. Dari pada ngerumpi lebih baik menulis, atau setelah ngerumpi, hasil rumpian diseleksi, tulis. Aneh juga, ada penganjur atau guru menulis mengatakan: Menulis harus di tempat yang begini-begitu, pilihlah waktu yang begini-begitu, dan bla-bla. Memang mudah dapat waktu ideal? Kecuali pekerjaan utama menulis.
Di dunia nyata, saya bisa digolongkan sibuk. Nah, di tengah-tengah kesibukan itu menulis. Daripada bicara berpanjang-panjang, lebih baik menulis, Daripada membicarakan kejelekan pemerintahan SBY seharian, mendingan menulis. Masalah prioritas saja.
Selanjutnya, menulis kenapa harus berlama-lama? Dianjurkan membaca lebih ganas. Perbarui persepsi, kembangkan apersepsi. Lakukan observasi, lahirkan konsep, simpan di otak. Masakan (emangnya jengkol), dan tulis. Menulis jadi tidak menyibukkan. Menulis menyenangkan.
Lalu, apa bukti kesibukkan? Sibuk menulis, hasilnya tulisan. Selama ini sibuk ini-itu, amati hasil nyatanya. Tidak mungkinlah sibuk, menghabiskan energi dan segala kemampuan untuk mendidik, tetapi hasil UN siswa jeblok. Kalau sibuk menjawabkan jawaban UN, hasilnya fantastis, itu disibuki iblis namanya, he he.
Ya, banyak kita yang sibuk. Saya hanya punya resep sederhana melawannya. Pertama, menulislah di otak lalu salin. Kedua, latihlah menulis hingga waktu bisa dilipat. Ketiga, menulis begitu mau. Jangan mencari-cari waktu. Waktu sudah tesedia, tinggal dimanfaatkan. Kelima, jangan beralasan ini-itu. Kalau berkehendak menulis, tulis saja. Pasti jadi tulisan.
Semakin sibuk, seyogiyanya semakin banyak hasil didapat. Semakin banyak menulis dalam kesibukan semakin banyak tulisan. Semakin sibuk menjadi pekerjaan utama, kesbukanlah yang didapat. Ah, sekali-kal membuat tulisan ngawur tidak mengapa bukan? Mari menulis, menyelingkuhi kesibukan.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 8 Maret 200
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.



March 13th, 2008 at 6:42 am
Terima kasih Pak Ersis. tulisan Bapak kali ini telak menghantam saya.perkenalkan nama saya echy, mak-emak yg ingin bisa menulis. saya baca buku ini dan itu,lumayan rakus dalam satu tahu terhir, belajar teori menulis, ambil kursus menulis, dan mulai corat-coret yg nggak penting di blog, akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan. bahwa tinggal menulisnya yg belum saya lakukan. Dan anehnya setiap ada ide,saya selalu mencari alasan untuk menundanya.saya punya banyak tulisan yg tak terselesaikan.
Bagaimana menurut Bapak ? terima kasih.