Text Link Ads

05. Menulis, Menebar Manfaat

Oleh Ersis Warmansyah Abbas
Intip juga www.webersis.com

RAHMADONA FITRIA: Ass. Alhamdulillah sekarang sudah PeDe menulis, Pak. Tapi, bagaimana caranya agar aktivitas menulis manfaatnya bisa langsung dirasakan orang lain, terutama di lingkungan pergaulan kita?

MEMINDAI:  Dona, begitu si penanya, dipanggil. Saya pahamlah siapa ibu beberapa anak yang psikolog tersebut. Dia termasuk angkatan pertama KP EWAM’Co. dalam sharing menulis. Dan, termasuk yang saya banggakan. Tulisannya bagus.
 
Pertanyaan ‘kuno’ tersebut dijawab di komentar balik www.webersis.com.: “Pelajari ‘kebutuhan’ mereka”.  Kebutuhan pembaca? Yes. Kalau kita menulis di wilayah publik, tulisan tersebut untuk publik.
 
Memindai kebutuhan pembaca adalah kunci agar tulisan bermanfaat. Kalau ‘kebutuhan’ tersebut tidak terendus, lalu siapa yang mau membaca? Siapa yang mau membaca tulisan yang tidak bermanfaat? Mereka yang iseng saja kali yang mau menghabiskan waktunya untuk hal yang tidak bermanfaat.
 
Dalam kaitan menulis untuk kemanfaatan bagi orang-orang di lingkungan sekitar, tentu lebih mudah. Oboservasi apa yang mereka butuhkan, apa masalah mereka, apa cita-cita, atau yang tidak diinginkan. Begitu terdeskripsi, tulis. Wuaw, mereka bisa melonjak kegirangan membacanya, dan … oh begitu ya, saya akan melakukan, akan merobah sikap.
 
Setelah kebutuhan pembaca terdeskripsi, kita tagih rumah pengetahuan di memori otak, bagaimana ya logika, argumentasi, atau solusi bagi orang-orang yang suka beralasan? Pindai paparan psikologi tentang kenapa orang suka beralasan? Atau, amati orang-orang yang tidak suka beralasan, jadikan contoh.
 
Saya jadi teringat apungan MacClelland dalam buku Myron Weyner (kalau ngak salah), Achieving Sosiety. Kira-kira tanyanya: “Kenapa Korea Selatan, Taiwan, Singapura dan Malaysia lebih maju dari Indonesia?”. Selidik punya selidik, di orang-orang negara maju selangkah tersebut didapat satu jenis virus ganas, kebutuhan berprestasi. Virus itu dilabeli sebagai nACh; need for achievement.
 
Asyiknya, virus tersebut dilabeli sangat membuncah; melakukan sesuatu lebih baik dan dalam waktu sesingkat mungkin. Nah, … jelas virus nACh. menjadi musuh orang-orang yang suka beralasan. Tidak punya komputerlah, tidak punya bukulah, di kampus kurang saranalah, aset speedy lambatlah, tulisan tidak dihargai oranglah, dan segerobak alasan gombal lainnya. Ketidakbecusan diri dilimpahkan pada orang atau pihak lain.
 
Kalau tulisan dengan pola demikian yang dirakit, Insya Allah bermanfaat. Memberi pencerahan dan pembelajaran bagi, terutama mereka yang suka beralasan ini-itu. Emang ketika Socrtaes menulis Apologia sudah ada komputer? Emang era Iman Gazali menulis Ihya Ullumuddin sudah ada internet, jutaan referensi, atau Al-Qur’an digital?
 
Masalah-masalah yang dikeluhkan komunitas pada dasarnya masalah semua orang. Karena itu jangan jadikan alasan. Mereka yang unggul adalah yang berhasil mengatasinya sementara yang dungu mengibarkam alasan. Alasan, alasan, dan beralasan. Hingga menjadi Raja Alasan.
 
Karena itu, siap-siaplah, tulisan berdasarkan pindaian, bisa jadi akan dicerca oleh mereka yang suka berasalan. Mereka akan melihat dari segi alasan, tidak untuk memperbaiki keadaan. Be careful.
 
Seorang kawan, minta tulisannya dikomentari, berkali-kali. Karena blognya non-WP, agak kesulitan, ribet (menurut saya, lho). Kesallah dia: “Dasar kamu bodoh”, katanya. Seorang mahasiswa minta blognya dikomentari. Saya dolan-dolan, eh ribet. Lalu dia nulis begini: Tidak ribet kog Pak, malahan tampilannya lebih variatif.
 
Masalahnya, dia punya kebutuhan, saya punya kebutuhan, bagaimana ceritanya kebutuhan dia saja yang dikedepankan, kebutuhan saya dalam mengomen blognya —yang dia minta dengan tekun, he he— tidak digubris. Coba, bagaimana logikanya. Pentayaannya, yang memutuhkan dia atau saya?
 
Jadi, pandai-pandailah memindai kebutuahn pembaca. Kalau tidak, menulis saja di diari atau di kamar sendiri. Tulis, nikmati, banggakan sendiri he he. Itu baru narsis; mabuk mencintai diri sndiri.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 4 Maret 2008.


You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

AddThis Social Bookmark Button

Leave a Reply