06. Menulis, Mau dan Mampu
Oleh Ersis Warmansyah Abbas
Intip juga www.webersis.com
AMINAH SRI PRABASARI: Saya suka menulis,tapi tidak pernah benar-benar tahu apakah bisa menulis. Mau dan mampu itu dua hal yang berbeda bukan?
RAJA AKAN: Disini akan dibangun gedung anu … disini akan dibangun … bla-bla … Kalimat semacam itu banyak dipancangkan pada plang di lahan-lahan kosong. Lebih hebat tentang menulis. Luar biasa banyaknya yang berkirim hal menyenangkan: Pak, buku Menulis Sangat Mudah, sungguh hebat. Saya termotivasi luar biasa. Saya akan menulis, menulis, dan akan menulis. Akan menulis anu, ane, ani, dan ano. Akan … akan … , dan akan.
Sebagai motivator, tentu saya tersenang. Sehari, dua hari, seminggu, sebulan, setahun waktu berlalu, tak satu pun tulisan dari Si Raja Akan; akan, dan akan tadi. Biasanya, saya senyum-senyum saja.
Kalau orang telah menganut ‘filsafat akan’ maka itulah yang dia dapat. Akan, akan, dan akan. Lalu, gimana dong? Kalau mau menulis, ya tulis apa yang hendak ditulis. Jangan, ditunggu atau ditunda. Tulis, habis perkara. Pasti jadi tulisan. Mau atau kemauan barulah penanda ‘akan’ menulis. Menulis itu bukan akan, sebab menulis pasti menghasilkan tulisan. Jadi, kalau mau menulis campakkan ‘fislsafat akan’. Tapi, itu kan tidak mudah kan?
Ya, iyalah. Tidur saja perlu modal. Apalagi, menulis. Nah, itu yang ‘diragukan’ Aminah, mau dan mampu kan dua hal berbeda. Jelas itu. Kalau membicarakan tentang mau (kemauan) sesorang untuk menulis, sungguh tidak terbilang. Mau berarti: Sungguh-sungguh suka hendak; suka akan; akan, hendak; kehendak, maksud (KBBI, 1998: 567).
Mau saja tidak cukup. Mau tapi tidak mampu ama aja boong. Kalau mau tapi malu, lebih asyik. Mampu berarti: Kuasa (bisa, sanggup) melakukan sesuatu; dapat (KBBI; 1998: 553). Mau cukup di hati, dan atau, dikumandangkan. Mampu mengandung makna ada kompetensi pendukungnya.
Secara sederhana agar mampu menjadi milik diri, biasanya saya kasih resep. Pertama, banyak membaca; yang tersirat dan tersurat. Baca alam. Amati, lihat hubungkaitnya, dan bla-bala. Membaca berarti menumpuk pengetahuan di lumbung otak.
Kedua, membaca berarti mengakumulasikan kosakata di perbendaharaan diri. Semakin banyak kosakata dimiliki, ketika menulis akan semakin mudah pilihan katanya (diksi). Kata-kata adalah kekuatan utama tulisan. Dibalik setiap kata terkandung konsep. Kandungan konsep adalah ruh tulisan.
Ketiga, kalau tumpukan konsep sudah bersarang di otak, begitu ada pemantik, jadi deh tulisan. Kalau dituliskan. Kalau tidak? Ya, jadi akan saja. Menuliskan apa yang dimaui itu lebih penting.
Keempat, memasihkan menulis. Saya lebih suka memakai istilah memasihkan agar fasih menulis. Soalnya kalau menulis saja, semua orang bisa. Menulis apa yang dikonsep di otak, yang ‘berotot’, bermakna, dan bermanfaat, itulah menulis sesunguhnya.
Ringan atau popular tidak masalah. Bisa pula menulis bergaya ilmiah ketat. Dari perumusan masalah sampai kesimpulan plus puluhan referensi dipapar secara apik. Boleh, boleh saja. Bagus malahan. Kalau untuk kperluan akademis. Kalau untuk dimuat di media cetak, tentu lain lagi ceritanya.
Kembali ke pokok soal, mau saja tidak cukup. Paduan mau dan mampu, dalam arti punya bekal yang cukup untuk menulis, itulah yang betul. Kemampuan, harus diasah. Mengasahnya atau memasihkannya dengan menulis. Tidak ada cara lain.
Misalkan mau menulis, tetapi waktu dihabiskan belajar teori. Baik sih baik, emang apa jeleknya belajar teori. Namun, lebih baik lagi menulisnya. Guru menulis ya menulis. Belajar menulis ya dengan menulis. Kalau ingin menjadi penulis, ya dengan menulis. Tulis, tulis, dan tulis. Kini sudah tahu kan?
Satukan mau dan mampu menulis menjadi tulisan. Jangan yang lain. Selamat menulis.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 6 Maret 2008.
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.



Leave a Reply