07. Menulis, ‘Istiqomah’
Oleh Ersis Warmansyah Abbas
Intip juga www.webersis.com
SAWALI TUSUSETYA: Saya teringat pesan Pramudya Ananta Toer. Hanya ada 3 resep untuk menjadi penulis yang hebat: menulis, menulis, dan menulis. Bisa “istikomah” ndak ya, Pak Ersis? Mohon pencerahannya.
KONSISTEN. Guru saya, Sawali Tuhusetya, penulis aneka ragam tulisan, berbagai cerpen, yang hebat bertanya di www.webersis.com. Sungguh, mendapat kehormatan dan bersemangat menjawabnya. Beliau maulu-ulu atau bagarah-garah sekalipun, yang penting dijawab. Tapi, tergeli: Mohon pencerahannya. Waduh, mohon pencerahan? Mana ada fasal guru dicerahkan murid. Saya berguru di blog Pak sawali, lho. Kalau belum tahu itulah pengakuan saya.
Selama kita berniat dan mampu menulis, istoqomah menulis bukanlah hal susah. Itu, kalau istiqomah diartikan: teguh pendirian dan konsekuen. Tentu, persoalannya bukan definisional, tetapi maknawi dan aplikatif. Disitulah menariknya.
Ya, berteguh pendirian menulis, tentulah bukan hal yang tidak mungkin. Kita bisa menyimak penulis-penulis hebat yang baru berhenti menulis manakala tidak bisa lagi menulis. Keteguhan hati; tidak berubah pendirian berarti konsekuen; sesuai dengan apa yang dikatakan dan diperbuat; tidak menyimpang dari apa yang sudah diputuskan. Sekali lagi, bisa ngak dalam menulis? Bisalah, kenapa tidak?
Tapi, menulis kenapa dibegitukan? Menulis sebaiknya dipahami sebagai ‘penyaluran’ pikiran yang bermanfaat, baik buat diri sediri, dan Alhamdulillah, juga buat sesama. Kebermanfaatan itu yang menjadi penulis tetap berkarya. Kalau menulis kehilangan makna, mari tinggalkan aktivitas menulis. Pisau istiqomah tidak layak dipegang. Menulis jangan sampai menjadi beban diri.
Dalam kalimat sederhana, bagaimana agar kita tetap menulis? Selain kemanfaatan, yang bisa bercabang dari sekadar katarsis sampai berdakwa, menulis dapat dipahami sebagai aktivitas. Ibarat olah raga; kalau tidak berolahraga badan bisa sakit-sakit.
Saya pernah menulis artikel Menulis Bak Salat. Artinya, kalau kita tidak salat perasaan mendenda. Kewajiban tidak tertunai, rasa berdosa lengket, pikiran resah, tak nyaman, dan bla-bla. Tentu, menulis tidak sebanding dengan salat. Maksud saya, kalau di pikiran ditanamkan bak salat, amunisi menulis bergabung.
Dengan kata lain pemaknaan itu yang penting, menjadikan tegar menulis. Apalagi, kalau dipahami sebagai dakwah, semangat berbagi, … ahai … kalau jadi pencerahan sungguh luar biasa. Dari mana kita banyak memungut pencerahan? Dari pikiran pemikir yang ditulis; dari ide sampai penemuan. Kalau tidak ditulis tidak mungkin membaca Apologia, Socrates. Al-Quran, kalau tidak ditulis, bisa-bisa beragam-ragam versinya. Karena ditulis kita membaca dan mempelajarinya lebih mudah dan lebih nyaman.
Hanya saja, kalau ditajamkan, bisakah apa yang ditulis dilakukan. Bisa dong. Sekalipun begitu, sungguh tidak mungkin sama dan sebangun. Misalkan begini. Saya menulis buku tentang sabar dan ikhlas; terinspirasi kesabaran dan keikhlasan Rasulullah. Saya tidak mungkin seerti Rasulullah. Pasti itu.
Idealnya, apa yang ditulis dilakukan. Tapi, dalam memotivasi menulis, kita tidak menulis tentang hal ideal, tetapi tentang menulis; memotivasi. Kalau berkorelasi positif, sedikit apa pun, kan bagus.
Jadi, menulis konsisten dalam arti terus menulis bukanlah hil yang mustahal. Konsisten melakukan apa yang ditulis, saya tidak jamin. Jujur, saya belum sanggup. Kalau berusha, iyalah. Saya menulis, terutama untuk mengingatkan diri sendiri.
Dus, mari mulai menulis dengan Bismillah dan ketika selesai ucapkan Alhamdulillah. Terimah kasih Pak Sawali, walaupun agak nakal, saya dapat pencerahan dari pertanyaan sampeyan, dan menulis tulisan ini. Salam.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 7 Maret 2008.
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.



Leave a Reply