<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Lomba Puisi Cinta (Ayah-Bunda)</title>
	<atom:link href="http://menulismudah.com/2008/02/27/halo-puisi-cinta-ayah-bunda-go-lomba/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://menulismudah.com/2008/02/27/halo-puisi-cinta-ayah-bunda-go-lomba/</link>
	<description># sebuah portal tempat belajar #</description>
	<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 09:12:32 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: ana</title>
		<link>http://menulismudah.com/2008/02/27/halo-puisi-cinta-ayah-bunda-go-lomba/comment-page-1/#comment-427</link>
		<dc:creator>ana</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 28 Jul 2008 07:20:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://menulismudah.com/2008/02/27/halo-puisi-cinta-ayah-bunda-go-lomba/#comment-427</guid>
		<description>Belasan tahun aku tumbuh dalam dekapan sayap elang
setiap helai bulu sayapnya terkandung cinta kasih dan bekal kehidupan
dalam lembutnya aku terlena
hingga kulupa aku harus banyak belajar
lepas inginku, dan saatnya
hingga kusadri bahwa kau begitu berharga
setiap tutur dan tindakmu berbudaya

kini aku menyusuri hitam putihnya dunia
tnapa aku takut
kurasa tak cukup bekallku 
krenaku kulallai dalm pagiku
bersamamu</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Belasan tahun aku tumbuh dalam dekapan sayap elang<br />
setiap helai bulu sayapnya terkandung cinta kasih dan bekal kehidupan<br />
dalam lembutnya aku terlena<br />
hingga kulupa aku harus banyak belajar<br />
lepas inginku, dan saatnya<br />
hingga kusadri bahwa kau begitu berharga<br />
setiap tutur dan tindakmu berbudaya</p>
<p>kini aku menyusuri hitam putihnya dunia<br />
tnapa aku takut<br />
kurasa tak cukup bekallku<br />
krenaku kulallai dalm pagiku<br />
bersamamu</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: mochi</title>
		<link>http://menulismudah.com/2008/02/27/halo-puisi-cinta-ayah-bunda-go-lomba/comment-page-1/#comment-419</link>
		<dc:creator>mochi</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 21 Jul 2008 12:19:59 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://menulismudah.com/2008/02/27/halo-puisi-cinta-ayah-bunda-go-lomba/#comment-419</guid>
		<description>Tuhan,..
Terima kasih telah kau kirim seorang ayah yang 
sangat baik kepadaku yang mengajarkan Deryn 
banyak hal selama 13 tahun ini 
mengajarkan Deryn bagaimana semestinya bersikapn
mengajarkan Deryn bagaimana semestinya berucap
mengajarkan Deryn bagaimana mencintai dengan 
tulus tanpa mengharap cinta kita dibalas
mengajarkan Deryn 1001 hal yang tidak Deryn mengerti
mengajarkan Deryn hitam dan putih
mengajarkan Deryn untuk memikirkan perasaan 
orang lain
mengajarkan Deryn untuk rela berkorban 
walaupun rasanya sakit
mengajarkan Deryn bahwa dunia ini berputar
 
Tuhan, 
Tolong sampaikan pada ayah , kalau Deryn sangat 
mengasihinya . walaupun Deryn anak yang tidak tahu diri 
namun Deryn sangat mengasihi dia . 
Deryn mencintai dia sedalam samudera, seluas cakrawala
, setinggi gunung, sebesar dunia, dan dengan hati 
yang tulus.



Doa seorang anak perempuan kepada ayahnya tercinta.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Tuhan,..<br />
Terima kasih telah kau kirim seorang ayah yang<br />
sangat baik kepadaku yang mengajarkan Deryn<br />
banyak hal selama 13 tahun ini<br />
mengajarkan Deryn bagaimana semestinya bersikapn<br />
mengajarkan Deryn bagaimana semestinya berucap<br />
mengajarkan Deryn bagaimana mencintai dengan<br />
tulus tanpa mengharap cinta kita dibalas<br />
mengajarkan Deryn 1001 hal yang tidak Deryn mengerti<br />
mengajarkan Deryn hitam dan putih<br />
mengajarkan Deryn untuk memikirkan perasaan<br />
orang lain<br />
mengajarkan Deryn untuk rela berkorban<br />
walaupun rasanya sakit<br />
mengajarkan Deryn bahwa dunia ini berputar</p>
<p>Tuhan,<br />
Tolong sampaikan pada ayah , kalau Deryn sangat<br />
mengasihinya . walaupun Deryn anak yang tidak tahu diri<br />
namun Deryn sangat mengasihi dia .<br />
Deryn mencintai dia sedalam samudera, seluas cakrawala<br />
, setinggi gunung, sebesar dunia, dan dengan hati<br />
yang tulus.</p>
<p>Doa seorang anak perempuan kepada ayahnya tercinta.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Phadli hasyim harahap</title>
		<link>http://menulismudah.com/2008/02/27/halo-puisi-cinta-ayah-bunda-go-lomba/comment-page-1/#comment-411</link>
		<dc:creator>Phadli hasyim harahap</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 18 Jul 2008 00:15:30 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://menulismudah.com/2008/02/27/halo-puisi-cinta-ayah-bunda-go-lomba/#comment-411</guid>
		<description>Kau

Aku sangat berharap kau bisa membaca baris kata-kata ini
Kau tahu, aku tak bisa menapak jejak di hidupmu
Aku tak bisa untuk terus menatap lirih wajahmu
Walau, aku sangat meredam kerinduan
Ingatanku tentangmu tak akan lepas menjadi debu jalanan
Aku ingat es krim hijau yang kau sajikan padaku
Segetar dendang yang kualunkan padamu
Sebuah film yang kita rekam dalam ingatan sebagai kenangan bersama
Sebuah boneka beruang sebagai tanda perpisahan kita…
Aku kelam dengan penghianatan yang sangat kau benci
Hanya untukmu…

karya phadli hasyim harahap

CV:
Phadli Hasyim Harahap lahir di Medan, 14 Pebruari 1985. Dunia tulis-menulis mulai digemari sejak mengenal blog pada Juli 2007. Karang mengarang dipelajari secara otodidak. Puisi dipelajari juga dengan otodidak. Hasil karya orang lain, bergaul dengan banyak orang, dan membaca buku dianggap sebagai pengganti guru.  Phadli masih bergelut menyelesaikan skripsi yang tak kunjung selesai di Jurusan Antropologi FISIP UNPAD. Hasil beberapa ketikannya dibuat untuk blognya http//:phadli23.multiply.com. Phadli suka menulis uneg-unegnya dan kegiatan keseharian di blognya.

NB: maaf saya baru tahu puisi say jadi nominator.
terima kasih</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kau</p>
<p>Aku sangat berharap kau bisa membaca baris kata-kata ini<br />
Kau tahu, aku tak bisa menapak jejak di hidupmu<br />
Aku tak bisa untuk terus menatap lirih wajahmu<br />
Walau, aku sangat meredam kerinduan<br />
Ingatanku tentangmu tak akan lepas menjadi debu jalanan<br />
Aku ingat es krim hijau yang kau sajikan padaku<br />
Segetar dendang yang kualunkan padamu<br />
Sebuah film yang kita rekam dalam ingatan sebagai kenangan bersama<br />
Sebuah boneka beruang sebagai tanda perpisahan kita…<br />
Aku kelam dengan penghianatan yang sangat kau benci<br />
Hanya untukmu…</p>
<p>karya phadli hasyim harahap</p>
<p>CV:<br />
Phadli Hasyim Harahap lahir di Medan, 14 Pebruari 1985. Dunia tulis-menulis mulai digemari sejak mengenal blog pada Juli 2007. Karang mengarang dipelajari secara otodidak. Puisi dipelajari juga dengan otodidak. Hasil karya orang lain, bergaul dengan banyak orang, dan membaca buku dianggap sebagai pengganti guru.  Phadli masih bergelut menyelesaikan skripsi yang tak kunjung selesai di Jurusan Antropologi FISIP UNPAD. Hasil beberapa ketikannya dibuat untuk blognya http//:phadli23.multiply.com. Phadli suka menulis uneg-unegnya dan kegiatan keseharian di blognya.</p>
<p>NB: maaf saya baru tahu puisi say jadi nominator.<br />
terima kasih</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Phadli hasyim harahap</title>
		<link>http://menulismudah.com/2008/02/27/halo-puisi-cinta-ayah-bunda-go-lomba/comment-page-1/#comment-410</link>
		<dc:creator>Phadli hasyim harahap</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 18 Jul 2008 00:11:38 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://menulismudah.com/2008/02/27/halo-puisi-cinta-ayah-bunda-go-lomba/#comment-410</guid>
		<description>Kau

Aku sangat berharap kau bisa membaca baris kata-kata ini
Kau tahu, aku tak bisa menapak jejak di hidupmu
Aku tak bisa untuk terus menatap lirih wajahmu
Walau, aku sangat meredam kerinduan
Ingatanku tentangmu tak akan lepas menjadi debu jalanan
Aku ingat es krim hijau yang kau sajikan padaku
Segetar dendang yang kualunkan padamu
Sebuah film yang kita rekam dalam ingatan sebagai kenangan bersama
Sebuah boneka beruang sebagai tanda perpisahan kita…
Aku kelam dengan penghianatan yang sangat kau benci
Hanya untukmu…</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kau</p>
<p>Aku sangat berharap kau bisa membaca baris kata-kata ini<br />
Kau tahu, aku tak bisa menapak jejak di hidupmu<br />
Aku tak bisa untuk terus menatap lirih wajahmu<br />
Walau, aku sangat meredam kerinduan<br />
Ingatanku tentangmu tak akan lepas menjadi debu jalanan<br />
Aku ingat es krim hijau yang kau sajikan padaku<br />
Segetar dendang yang kualunkan padamu<br />
Sebuah film yang kita rekam dalam ingatan sebagai kenangan bersama<br />
Sebuah boneka beruang sebagai tanda perpisahan kita…<br />
Aku kelam dengan penghianatan yang sangat kau benci<br />
Hanya untukmu…</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: novicharullah</title>
		<link>http://menulismudah.com/2008/02/27/halo-puisi-cinta-ayah-bunda-go-lomba/comment-page-1/#comment-386</link>
		<dc:creator>novicharullah</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 Jun 2008 04:26:59 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://menulismudah.com/2008/02/27/halo-puisi-cinta-ayah-bunda-go-lomba/#comment-386</guid>
		<description>SERPIHAN KASIHKU UNTUK AYAH

terpaku....
memoar kembali terucap
di antar serpihan dawai kasihku
kesibukannya merampas sileut senyumku
namun mengerti asaku
bahwa pelampiasan tawaku
adalah saat purnama bangkit

hariku hanya gelap gemintang
sepipun hanya surau kesenduan
ku tau arti milikimu ayah
namun cabikan tangis trus menggema hasratku

ku menanti celah waktu 
saat kita beriringan bermain tawa
bersama ibu...
saat itu yang tertancap dalam lamunanku
aku kan terus menjamu harapku
walau purnama tak pernah kembali 

ayahhhh...
hempaskan lelahmu diantara sujudku
biarkan ku genggam dan kurasakan
pasir senyummu yang ingin
ku sentuh dan terjaga
cukuplah bagiku..,,,
bersamamu....

                           KARYA:NOVICHARULLAH ARKIE
CV:
saya masih duduk dibangku SMA 
tepatnya tahun ini kelas 3 SMA
belakangan ini say amengikuti lomba-lomba puisi 
di internet hnya sekedar nambah uang saku and nyalurinnn bakar atau hobi saja//^_^</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>SERPIHAN KASIHKU UNTUK AYAH</p>
<p>terpaku&#8230;.<br />
memoar kembali terucap<br />
di antar serpihan dawai kasihku<br />
kesibukannya merampas sileut senyumku<br />
namun mengerti asaku<br />
bahwa pelampiasan tawaku<br />
adalah saat purnama bangkit</p>
<p>hariku hanya gelap gemintang<br />
sepipun hanya surau kesenduan<br />
ku tau arti milikimu ayah<br />
namun cabikan tangis trus menggema hasratku</p>
<p>ku menanti celah waktu<br />
saat kita beriringan bermain tawa<br />
bersama ibu&#8230;<br />
saat itu yang tertancap dalam lamunanku<br />
aku kan terus menjamu harapku<br />
walau purnama tak pernah kembali </p>
<p>ayahhhh&#8230;<br />
hempaskan lelahmu diantara sujudku<br />
biarkan ku genggam dan kurasakan<br />
pasir senyummu yang ingin<br />
ku sentuh dan terjaga<br />
cukuplah bagiku..,,,<br />
bersamamu&#8230;.</p>
<p>                           KARYA:NOVICHARULLAH ARKIE<br />
CV:<br />
saya masih duduk dibangku SMA<br />
tepatnya tahun ini kelas 3 SMA<br />
belakangan ini say amengikuti lomba-lomba puisi<br />
di internet hnya sekedar nambah uang saku and nyalurinnn bakar atau hobi saja//^_^</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: way</title>
		<link>http://menulismudah.com/2008/02/27/halo-puisi-cinta-ayah-bunda-go-lomba/comment-page-1/#comment-379</link>
		<dc:creator>way</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Jun 2008 04:38:09 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://menulismudah.com/2008/02/27/halo-puisi-cinta-ayah-bunda-go-lomba/#comment-379</guid>
		<description>tanya nie..
kapan ada perlombaan menulis puisi lagi?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>tanya nie..<br />
kapan ada perlombaan menulis puisi lagi?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Novia Rika Perwitasari</title>
		<link>http://menulismudah.com/2008/02/27/halo-puisi-cinta-ayah-bunda-go-lomba/comment-page-1/#comment-365</link>
		<dc:creator>Novia Rika Perwitasari</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Jun 2008 03:18:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://menulismudah.com/2008/02/27/halo-puisi-cinta-ayah-bunda-go-lomba/#comment-365</guid>
		<description>Sekali Waktu

Sekali waktu seseorang berkata,
Hiduplah dengan semangat, arah dan tujuan yang Satu
Hingga kebaikan bukan lagi keterpaksaan
Hingga kejujuran bukan lagi ketakterbiasaan
Hingga kedamaian bukan lagi impian

Sekali waktu seseorang yang lain berkata,
Jagalah sikap, martabat, harga diri dan sesamamu
Agar tersucikan ragamu
Agar terjernihkan akalmu
Agar termuliakan jiwamu

Namun sekali waktu hidup telah melena
Tertawa dalam barisan bunga dahlia
Aku cukup tahu, cukup merasa
Semua pikiran lama tak lagi berharga
Tanpa ada kesempatan yang tersia

Sekali waktu Aku bertanya
Mengapa harus benar bila harus sengsara
Buat apa lelah berjaga?
Dan Aku berbalik di ambang bayang
Tinggalkan duka bagi orang yang mendamba

Sekali waktu Aku terlupa
Pesan surga yang lama Aku terima
Hingga terseret jauh begitu rupa
Ketika karma terlempar di dunia
Siksa terasa menembus sukma

Sekali waktu Aku teringat masa lalu
Seseorang-seseorang yang menyayangi slalu
Warisan yang terbuang diantara angin yang berlalu
Betapa sakit dan sungguh malu
Namun terkalahkan oleh rasa rindu

Sekali waktu Aku kembali
Ingin berkata maaf terakhir kali
Lama nian akhirnya terbuka hati
Namun waktu melaju tak dapat terurai sekali lagi
Di depan pusara orang tuaku kini

CV:
Saya adalah lulusan Universitas Brawijaya Malang Jurusan Teknologi Hasil Pertanian. Saya suka menulis puisi,hanya sebatas untuk koleksi pribadi. Saya tidak punya banyak pengalaman di bidang kepenulisan. Saat ini saya menulis hanya untuk kepentingan personal, lebih mengenal diri sendiri.. Semoga bisa bermanfaat juga untuk orang lain.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sekali Waktu</p>
<p>Sekali waktu seseorang berkata,<br />
Hiduplah dengan semangat, arah dan tujuan yang Satu<br />
Hingga kebaikan bukan lagi keterpaksaan<br />
Hingga kejujuran bukan lagi ketakterbiasaan<br />
Hingga kedamaian bukan lagi impian</p>
<p>Sekali waktu seseorang yang lain berkata,<br />
Jagalah sikap, martabat, harga diri dan sesamamu<br />
Agar tersucikan ragamu<br />
Agar terjernihkan akalmu<br />
Agar termuliakan jiwamu</p>
<p>Namun sekali waktu hidup telah melena<br />
Tertawa dalam barisan bunga dahlia<br />
Aku cukup tahu, cukup merasa<br />
Semua pikiran lama tak lagi berharga<br />
Tanpa ada kesempatan yang tersia</p>
<p>Sekali waktu Aku bertanya<br />
Mengapa harus benar bila harus sengsara<br />
Buat apa lelah berjaga?<br />
Dan Aku berbalik di ambang bayang<br />
Tinggalkan duka bagi orang yang mendamba</p>
<p>Sekali waktu Aku terlupa<br />
Pesan surga yang lama Aku terima<br />
Hingga terseret jauh begitu rupa<br />
Ketika karma terlempar di dunia<br />
Siksa terasa menembus sukma</p>
<p>Sekali waktu Aku teringat masa lalu<br />
Seseorang-seseorang yang menyayangi slalu<br />
Warisan yang terbuang diantara angin yang berlalu<br />
Betapa sakit dan sungguh malu<br />
Namun terkalahkan oleh rasa rindu</p>
<p>Sekali waktu Aku kembali<br />
Ingin berkata maaf terakhir kali<br />
Lama nian akhirnya terbuka hati<br />
Namun waktu melaju tak dapat terurai sekali lagi<br />
Di depan pusara orang tuaku kini</p>
<p>CV:<br />
Saya adalah lulusan Universitas Brawijaya Malang Jurusan Teknologi Hasil Pertanian. Saya suka menulis puisi,hanya sebatas untuk koleksi pribadi. Saya tidak punya banyak pengalaman di bidang kepenulisan. Saat ini saya menulis hanya untuk kepentingan personal, lebih mengenal diri sendiri.. Semoga bisa bermanfaat juga untuk orang lain.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: andrian.k</title>
		<link>http://menulismudah.com/2008/02/27/halo-puisi-cinta-ayah-bunda-go-lomba/comment-page-1/#comment-214</link>
		<dc:creator>andrian.k</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 20 Mar 2008 08:25:51 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://menulismudah.com/2008/02/27/halo-puisi-cinta-ayah-bunda-go-lomba/#comment-214</guid>
		<description>sepertiga malam

kian lama kian kelam jiwaku
sendiri dalam penantian
setelah kau tinggal pergi

dimalam ini
dimana bintangpun sembunyikan sinarnya
aku tundukkan wajah dan jiwaku
melepaskan jubah keduniawian

air mata menetes seiring dosa yang tak terhitung
kala aku berbuat dosa, padamu 
hingga kau pergi dengan luka menikam hati
Ibu, aku mohon maaf
meski kau tiada lagi dihadapku

ya Tuhan
aku tak meminta surga-Mu
jika terlalu suci untuk tubuhku yang kotor oleh dosa
hanya satu pintaku
hidup dan mati Ibuku dalam cinta-Mu

cintailah ibu
seperti Ibu mencintaiku
karena cinta-Mu adalah segalanya
bagiku, dan bagi semua umat-Mu
dan berikanlah kesempatan padaku
untuk mencium dan membasuh kaki Ibu
meski dengan air mata penyesalan</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>sepertiga malam</p>
<p>kian lama kian kelam jiwaku<br />
sendiri dalam penantian<br />
setelah kau tinggal pergi</p>
<p>dimalam ini<br />
dimana bintangpun sembunyikan sinarnya<br />
aku tundukkan wajah dan jiwaku<br />
melepaskan jubah keduniawian</p>
<p>air mata menetes seiring dosa yang tak terhitung<br />
kala aku berbuat dosa, padamu<br />
hingga kau pergi dengan luka menikam hati<br />
Ibu, aku mohon maaf<br />
meski kau tiada lagi dihadapku</p>
<p>ya Tuhan<br />
aku tak meminta surga-Mu<br />
jika terlalu suci untuk tubuhku yang kotor oleh dosa<br />
hanya satu pintaku<br />
hidup dan mati Ibuku dalam cinta-Mu</p>
<p>cintailah ibu<br />
seperti Ibu mencintaiku<br />
karena cinta-Mu adalah segalanya<br />
bagiku, dan bagi semua umat-Mu<br />
dan berikanlah kesempatan padaku<br />
untuk mencium dan membasuh kaki Ibu<br />
meski dengan air mata penyesalan</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: andrian.k</title>
		<link>http://menulismudah.com/2008/02/27/halo-puisi-cinta-ayah-bunda-go-lomba/comment-page-1/#comment-213</link>
		<dc:creator>andrian.k</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 20 Mar 2008 08:19:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://menulismudah.com/2008/02/27/halo-puisi-cinta-ayah-bunda-go-lomba/#comment-213</guid>
		<description>sepertiga malam

kian lama kian kelam jiwaku
sendiri dalam penantian

dimalam ini
dimana bintangpun sembunyikan sinarnya
aku tundukkan wajah dan jiwaku
melepaskan jubah keduniawian

air mata menetes seiring dosa yang tak terhitung
kala aku berbuat dosa, padamu 
hingga kau pergi dengan luka menikam hati
ibu, aku mohon maaf
meski kau tiada lagi dihadapku

ya Tuhan
aku tak meminta surgam-Mu
jika terlalu suci untuk tubuhku yang kotor oleh dosa
hanya satu pintaku
hidup dan mati ibuku dalam cinta-Mu

cintailah ibu
seperti ibu mencintaiku
karena cinta-Mu adalah segalanya
bagiku, dan bagi semua umat-Mu</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>sepertiga malam</p>
<p>kian lama kian kelam jiwaku<br />
sendiri dalam penantian</p>
<p>dimalam ini<br />
dimana bintangpun sembunyikan sinarnya<br />
aku tundukkan wajah dan jiwaku<br />
melepaskan jubah keduniawian</p>
<p>air mata menetes seiring dosa yang tak terhitung<br />
kala aku berbuat dosa, padamu<br />
hingga kau pergi dengan luka menikam hati<br />
ibu, aku mohon maaf<br />
meski kau tiada lagi dihadapku</p>
<p>ya Tuhan<br />
aku tak meminta surgam-Mu<br />
jika terlalu suci untuk tubuhku yang kotor oleh dosa<br />
hanya satu pintaku<br />
hidup dan mati ibuku dalam cinta-Mu</p>
<p>cintailah ibu<br />
seperti ibu mencintaiku<br />
karena cinta-Mu adalah segalanya<br />
bagiku, dan bagi semua umat-Mu</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: farida arroyani</title>
		<link>http://menulismudah.com/2008/02/27/halo-puisi-cinta-ayah-bunda-go-lomba/comment-page-1/#comment-211</link>
		<dc:creator>farida arroyani</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 19 Mar 2008 03:34:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://menulismudah.com/2008/02/27/halo-puisi-cinta-ayah-bunda-go-lomba/#comment-211</guid>
		<description>Farida Arroyani

Rumah Remah Hujan
 
aku merindu rumah remah hujan
pada riuh gumam tembang dan cemerentang wajan
yang tak dapat menyajikan sarapan di meja makan
bersama merenangi kali pasi dalam sendiri
sendiri merenungi ceruk kerut maut
waktu tuhan menembakkan hujan tanpa sasaran
apakah bengkah di atap gedung jangkung
gereja blenduk, jembatan ambrol
atau rumah cebol milik kami
 
TEESS!TRETESS!!!
genteng yang dirajang warsa itu meringis
lalu muntah remahan dari berbongkah-bongkah hujan
SSSSHHH…
lemah tak kenal usia itu memejam; ames
usai melek di kemarau panjang lalu
sementara dedaun pintu jendela kembali muat di bingkainya
usai royak di kemarau lalu
ada yang menyala dalam gulita
ada yang meruap-sengat di udara
membunuh selera
kecing tai kucing kecut kencing curut
 
aku merindu rumah remah hujan
dimana episode melankoli-misteri lamatlamat berputar
dari sepasang suami-istri
dua pasang anak
dan setunggal mbah putri
 
aku merindu rumah remah hujan
dalam rindu itu hanya ada rindu
rindu.
sabda bagi sang gila yang meracau
tak akan berhenti  
seperti antukan pendulum di angkasa mati
 
*sekedar gumaman di atas rumput dalam pikiran nglangut




saat ini saya masih tercatat sebagai mahasiswa S1 IAIN WS Semarang prodi Tadris Bahasa Inggris. pengalaman kepenulisan saya paling banter adalah redaktur pelaksana pers mahasiswa EDUKASI Fakultas Tarbiyah IAIN WS. dan jabatan tertinggi selama hampir dua tahun di kantor itu adalah pimred yang meninggalkan tugas karena sakit hati ngga bisa nahan emosi akibat kegagapan saya dalam memimpin.
karya saya dalam bentuk opini pernah dimuat di media seharga duaribu limaratus rupiah. honor tulisan itu limabelasribu rupiah, saya pakai untuk menjenguk teman saya di Klaten. itu adalah saat paling menggembirakan bagi saya, momen itu terjadi ketika saya sekolah di sebuah madrasah aliyah. setelah itu, tamat. tulisan2 saya berakhir di meja redaktur Suara Merdeka (referensi koran yang paling tinggi bagi saya)
Saya bukan anggota kepenulisan manapun, apalagi forum kepenulisan di daerah saya, yang konon keturunan Aji Saka (atau Dewata Cengkar, saya kurang tau), Grobogan. 
dan ingin sekali membuktikan kepada ibu yang sangat saya cintai, bahwa saya bisa berbakti dengan cara yang saya ketahui. dan ingin sekali merentangkan bibir bapak saya yang sangat saya kasihi, dengan cara yang saya ketahui, mengingat sudah lama saya tidak melihat senyumnya sejak saya lulus SMP</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Farida Arroyani</p>
<p>Rumah Remah Hujan</p>
<p>aku merindu rumah remah hujan<br />
pada riuh gumam tembang dan cemerentang wajan<br />
yang tak dapat menyajikan sarapan di meja makan<br />
bersama merenangi kali pasi dalam sendiri<br />
sendiri merenungi ceruk kerut maut<br />
waktu tuhan menembakkan hujan tanpa sasaran<br />
apakah bengkah di atap gedung jangkung<br />
gereja blenduk, jembatan ambrol<br />
atau rumah cebol milik kami</p>
<p>TEESS!TRETESS!!!<br />
genteng yang dirajang warsa itu meringis<br />
lalu muntah remahan dari berbongkah-bongkah hujan<br />
SSSSHHH…<br />
lemah tak kenal usia itu memejam; ames<br />
usai melek di kemarau panjang lalu<br />
sementara dedaun pintu jendela kembali muat di bingkainya<br />
usai royak di kemarau lalu<br />
ada yang menyala dalam gulita<br />
ada yang meruap-sengat di udara<br />
membunuh selera<br />
kecing tai kucing kecut kencing curut</p>
<p>aku merindu rumah remah hujan<br />
dimana episode melankoli-misteri lamatlamat berputar<br />
dari sepasang suami-istri<br />
dua pasang anak<br />
dan setunggal mbah putri</p>
<p>aku merindu rumah remah hujan<br />
dalam rindu itu hanya ada rindu<br />
rindu.<br />
sabda bagi sang gila yang meracau<br />
tak akan berhenti<br />
seperti antukan pendulum di angkasa mati</p>
<p>*sekedar gumaman di atas rumput dalam pikiran nglangut</p>
<p>saat ini saya masih tercatat sebagai mahasiswa S1 IAIN WS Semarang prodi Tadris Bahasa Inggris. pengalaman kepenulisan saya paling banter adalah redaktur pelaksana pers mahasiswa EDUKASI Fakultas Tarbiyah IAIN WS. dan jabatan tertinggi selama hampir dua tahun di kantor itu adalah pimred yang meninggalkan tugas karena sakit hati ngga bisa nahan emosi akibat kegagapan saya dalam memimpin.<br />
karya saya dalam bentuk opini pernah dimuat di media seharga duaribu limaratus rupiah. honor tulisan itu limabelasribu rupiah, saya pakai untuk menjenguk teman saya di Klaten. itu adalah saat paling menggembirakan bagi saya, momen itu terjadi ketika saya sekolah di sebuah madrasah aliyah. setelah itu, tamat. tulisan2 saya berakhir di meja redaktur Suara Merdeka (referensi koran yang paling tinggi bagi saya)<br />
Saya bukan anggota kepenulisan manapun, apalagi forum kepenulisan di daerah saya, yang konon keturunan Aji Saka (atau Dewata Cengkar, saya kurang tau), Grobogan.<br />
dan ingin sekali membuktikan kepada ibu yang sangat saya cintai, bahwa saya bisa berbakti dengan cara yang saya ketahui. dan ingin sekali merentangkan bibir bapak saya yang sangat saya kasihi, dengan cara yang saya ketahui, mengingat sudah lama saya tidak melihat senyumnya sejak saya lulus SMP</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
