Lomba Puisi Cinta (Ayah-Bunda)
Setelah nominator Lomba Puisi Cinta terpilih — www.webersis.com — kini dibuka loba tahap dua, Puisi Cinta Go Lomba bertema Ayah-Bunda. Bagi peminat, silahkan kirimkan puisi melalui bagian komen postingan ini. Pada bulan Maret 2008 nominasi akan diumumkan.
Belajar dari pengalaman sebelumnya, usahakan tidak bertanya apa pun. Kan mudah saja mencerna pengumunan ini, wong syaratnya tidak neko-neko. Tulis puisi, kirimkan melalui bagian komen, cantumkan CV. Oh ya, CV bermuatan siapa Sampeyan, apa karya Sampeyan, atau apa saja yang mengambarkan diri Sampeyan. Simak www.webersis.com
Contoh:
Ersis Warmansyah Abbas
Wahai Wanita Surga
Malam ini, Wahai Wanita Surga
menumpang angin pada lipatan qalbu
ampun maaf segala rindu seluruh angan segenap ingin
bungkusan jarak memisah raga dimakan waktu
membongkar benteng-benteng pemisah
tali sujudku di jiwamu jembatan siratul mustakim
Elus lembut jari-jari emasmu di ubun-ubun
senyum membentang harap tiada bermuara tiada bertepi
mata teduh getaran dawai pancang-pancang kokoh
kemudiku melawan badai tak berampun
belum apa-apa, wahai kekasih sejati
Enam ratus purnama menjaring makna-makna hikmah
sebait katamu belum terkuak belum terurai
teropong perncarian menjaring wewangi surgamu
abadi pada helaan nafas kelana mengasyikkan
menjangkau surgamu
Banjarbaru, 24 Januari 2008
CV: Ersis Warmansyah adalah … bla bla
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.



March 9th, 2008 at 1:54 pm
Indah Ayu Wardhani
Kembang Pengantar
Keranjang rotan
Berwarna coklat tua
Ditetenteng seorang gadis
Masih tujuh tahun
Kini harus sebatang kara
Berjalan pelan
Di belakang para pelawat
Ia memandang keranjangnya
Kembang berwarna merah, putih, kuning
Bercampur membaurkan wangi
Dihirupnya harum itu
Sesampainya di depan kubur
Si gadis bersimpuh
“Ayah … Ibu …”
Lalu termenung sejenak
Ditaburkan kembang-kembang
Merata diatas gundukan tanah
Yang menyimpan jasad orangtuanya
Karangkates, 31 juli 2005
(12:48)
CV :
Saat ini saya mahasiswa program S1 di Universitas Brawijaya Malang, Fakultas Pertanian, Jurusan Tanah, Program Studi Ilmu Tanah, angkatan 2006. Saya mulai menulis tahun 2005. Cerpen pertama saya diterbitkan dalam buku Kumpulan Cerpen Pelajar Se-Kota Malang, saya sebagai peraih urutan keempat. Kemudian beberapa cerpen saya mulai dimuat di beberapa surat kabar, terutama Malang Post. Saya mengikuti kegiatan-kegiatan rutin bidang kepenulisan di kota Malang. Saya mejadi ketua umum Forum Cerpenis Muda Kota Malang yang anggotanya adalah pelajar SMP-SMU (2005-2006). Saya bergabung dalam AksaRATUmapel, menerbitkan majalah pendidikan pelajar kota Malang (2005-2006). Terakhir saya masuk menjadi anggota Forum Penulis Kota Malang (FPKM). Selain dari itu saya adalah penulis lepas.
March 19th, 2008 at 3:28 am
Rumah Remah Hujan
aku merindu rumah remah hujan
pada riuh gumam tembang dan cemerentang wajan
yang tak dapat menyajikan sarapan di meja makan
bersama merenangi kali pasi dalam sendiri
sendiri merenungi ceruk kerut maut
waktu tuhan menembakkan hujan tanpa sasaran
apakah bengkah di atap gedung jangkung
gereja blenduk, jembatan ambrol
atau rumah cebol milik kami
TEESS!TRETESS!!!
genteng yang dirajang warsa itu meringis
lalu muntah remahan dari berbongkah-bongkah hujan
SSSSHHH…
lemah tak kenal usia itu memejam; ames
usai melek di kemarau panjang lalu
sementara dedaun pintu jendela kembali muat di bingkainya
usai royak di kemarau lalu
ada yang menyala dalam gulita
ada yang meruap-sengat di udara
membunuh selera
kecing tai kucing kecut kencing curut
aku merindu rumah remah hujan
dimana cerita melankoli-misteri lamatlamat terlihat
dari sepasang suami-istri
dua pasang anak
dan setunggal mbah putri
aku merindu rumah remah hujan
dalam rindu itu hanya ada rindu
rindu.
sabda bagi sang gila yang meracau
tak akan berhenti
seperti antukan pendulum di angkasa mati
*sekedar gumaman di atas rumput dalam pikiran nglangut
saat ini saya masih tercatat sebagai mahasiswa S1 IAIN WS Semarang prodi Tadris Bahasa Inggris. pengalaman kepenulisan saya paling banter adalah redaktur pelaksana pers mahasiswa EDUKASI Fakultas Tarbiyah IAIN WS. dan jabatan tertinggi selama saya magang di kantor itu adalah pimred yang meninggalkan tugas karena sakit hati ngga bisa nahan emosi akibat kegagapan saya dalam memimpin.
karya saya pernah dimuat di media seharga duaribu limaratus rupiah. honor tulisan itu limabelasribu rupiah, saya pakai untuk menjenguk teman saya di Klaten. itu adalah saat paling menggembirakan bagi saya, momen itu terjadi ketika saya sekolah di sebuah madrasah aliyah. setelah itu, tamat. tulisan2 saya berakhir di meja redaktur Suara Merdeka (referensi koran yang paling tinggi bagi saya)
Saya bukan anggota kepenulisan manapun, apalagi forum kepenulisan di daerah saya, yang konon keturunan Aji Saka (atau Dewata Cengkar, saya kurang tau), Grobogan.
dan ingin sekali membuktikan kepada ibu yang sangat saya cintai, bahwa saya bisa berbakti dengan cara yang saya ketahui.
March 19th, 2008 at 3:34 am
Farida Arroyani
Rumah Remah Hujan
aku merindu rumah remah hujan
pada riuh gumam tembang dan cemerentang wajan
yang tak dapat menyajikan sarapan di meja makan
bersama merenangi kali pasi dalam sendiri
sendiri merenungi ceruk kerut maut
waktu tuhan menembakkan hujan tanpa sasaran
apakah bengkah di atap gedung jangkung
gereja blenduk, jembatan ambrol
atau rumah cebol milik kami
TEESS!TRETESS!!!
genteng yang dirajang warsa itu meringis
lalu muntah remahan dari berbongkah-bongkah hujan
SSSSHHH…
lemah tak kenal usia itu memejam; ames
usai melek di kemarau panjang lalu
sementara dedaun pintu jendela kembali muat di bingkainya
usai royak di kemarau lalu
ada yang menyala dalam gulita
ada yang meruap-sengat di udara
membunuh selera
kecing tai kucing kecut kencing curut
aku merindu rumah remah hujan
dimana episode melankoli-misteri lamatlamat berputar
dari sepasang suami-istri
dua pasang anak
dan setunggal mbah putri
aku merindu rumah remah hujan
dalam rindu itu hanya ada rindu
rindu.
sabda bagi sang gila yang meracau
tak akan berhenti
seperti antukan pendulum di angkasa mati
*sekedar gumaman di atas rumput dalam pikiran nglangut
saat ini saya masih tercatat sebagai mahasiswa S1 IAIN WS Semarang prodi Tadris Bahasa Inggris. pengalaman kepenulisan saya paling banter adalah redaktur pelaksana pers mahasiswa EDUKASI Fakultas Tarbiyah IAIN WS. dan jabatan tertinggi selama hampir dua tahun di kantor itu adalah pimred yang meninggalkan tugas karena sakit hati ngga bisa nahan emosi akibat kegagapan saya dalam memimpin.
karya saya dalam bentuk opini pernah dimuat di media seharga duaribu limaratus rupiah. honor tulisan itu limabelasribu rupiah, saya pakai untuk menjenguk teman saya di Klaten. itu adalah saat paling menggembirakan bagi saya, momen itu terjadi ketika saya sekolah di sebuah madrasah aliyah. setelah itu, tamat. tulisan2 saya berakhir di meja redaktur Suara Merdeka (referensi koran yang paling tinggi bagi saya)
Saya bukan anggota kepenulisan manapun, apalagi forum kepenulisan di daerah saya, yang konon keturunan Aji Saka (atau Dewata Cengkar, saya kurang tau), Grobogan.
dan ingin sekali membuktikan kepada ibu yang sangat saya cintai, bahwa saya bisa berbakti dengan cara yang saya ketahui. dan ingin sekali merentangkan bibir bapak saya yang sangat saya kasihi, dengan cara yang saya ketahui, mengingat sudah lama saya tidak melihat senyumnya sejak saya lulus SMP
March 20th, 2008 at 8:19 am
sepertiga malam
kian lama kian kelam jiwaku
sendiri dalam penantian
dimalam ini
dimana bintangpun sembunyikan sinarnya
aku tundukkan wajah dan jiwaku
melepaskan jubah keduniawian
air mata menetes seiring dosa yang tak terhitung
kala aku berbuat dosa, padamu
hingga kau pergi dengan luka menikam hati
ibu, aku mohon maaf
meski kau tiada lagi dihadapku
ya Tuhan
aku tak meminta surgam-Mu
jika terlalu suci untuk tubuhku yang kotor oleh dosa
hanya satu pintaku
hidup dan mati ibuku dalam cinta-Mu
cintailah ibu
seperti ibu mencintaiku
karena cinta-Mu adalah segalanya
bagiku, dan bagi semua umat-Mu
March 20th, 2008 at 8:25 am
sepertiga malam
kian lama kian kelam jiwaku
sendiri dalam penantian
setelah kau tinggal pergi
dimalam ini
dimana bintangpun sembunyikan sinarnya
aku tundukkan wajah dan jiwaku
melepaskan jubah keduniawian
air mata menetes seiring dosa yang tak terhitung
kala aku berbuat dosa, padamu
hingga kau pergi dengan luka menikam hati
Ibu, aku mohon maaf
meski kau tiada lagi dihadapku
ya Tuhan
aku tak meminta surga-Mu
jika terlalu suci untuk tubuhku yang kotor oleh dosa
hanya satu pintaku
hidup dan mati Ibuku dalam cinta-Mu
cintailah ibu
seperti Ibu mencintaiku
karena cinta-Mu adalah segalanya
bagiku, dan bagi semua umat-Mu
dan berikanlah kesempatan padaku
untuk mencium dan membasuh kaki Ibu
meski dengan air mata penyesalan
June 6th, 2008 at 3:18 am
Sekali Waktu
Sekali waktu seseorang berkata,
Hiduplah dengan semangat, arah dan tujuan yang Satu
Hingga kebaikan bukan lagi keterpaksaan
Hingga kejujuran bukan lagi ketakterbiasaan
Hingga kedamaian bukan lagi impian
Sekali waktu seseorang yang lain berkata,
Jagalah sikap, martabat, harga diri dan sesamamu
Agar tersucikan ragamu
Agar terjernihkan akalmu
Agar termuliakan jiwamu
Namun sekali waktu hidup telah melena
Tertawa dalam barisan bunga dahlia
Aku cukup tahu, cukup merasa
Semua pikiran lama tak lagi berharga
Tanpa ada kesempatan yang tersia
Sekali waktu Aku bertanya
Mengapa harus benar bila harus sengsara
Buat apa lelah berjaga?
Dan Aku berbalik di ambang bayang
Tinggalkan duka bagi orang yang mendamba
Sekali waktu Aku terlupa
Pesan surga yang lama Aku terima
Hingga terseret jauh begitu rupa
Ketika karma terlempar di dunia
Siksa terasa menembus sukma
Sekali waktu Aku teringat masa lalu
Seseorang-seseorang yang menyayangi slalu
Warisan yang terbuang diantara angin yang berlalu
Betapa sakit dan sungguh malu
Namun terkalahkan oleh rasa rindu
Sekali waktu Aku kembali
Ingin berkata maaf terakhir kali
Lama nian akhirnya terbuka hati
Namun waktu melaju tak dapat terurai sekali lagi
Di depan pusara orang tuaku kini
CV:
Saya adalah lulusan Universitas Brawijaya Malang Jurusan Teknologi Hasil Pertanian. Saya suka menulis puisi,hanya sebatas untuk koleksi pribadi. Saya tidak punya banyak pengalaman di bidang kepenulisan. Saat ini saya menulis hanya untuk kepentingan personal, lebih mengenal diri sendiri.. Semoga bisa bermanfaat juga untuk orang lain.
June 18th, 2008 at 4:38 am
tanya nie..
kapan ada perlombaan menulis puisi lagi?
June 23rd, 2008 at 4:26 am
SERPIHAN KASIHKU UNTUK AYAH
terpaku….
memoar kembali terucap
di antar serpihan dawai kasihku
kesibukannya merampas sileut senyumku
namun mengerti asaku
bahwa pelampiasan tawaku
adalah saat purnama bangkit
hariku hanya gelap gemintang
sepipun hanya surau kesenduan
ku tau arti milikimu ayah
namun cabikan tangis trus menggema hasratku
ku menanti celah waktu
saat kita beriringan bermain tawa
bersama ibu…
saat itu yang tertancap dalam lamunanku
aku kan terus menjamu harapku
walau purnama tak pernah kembali
ayahhhh…
hempaskan lelahmu diantara sujudku
biarkan ku genggam dan kurasakan
pasir senyummu yang ingin
ku sentuh dan terjaga
cukuplah bagiku..,,,
bersamamu….
KARYA:NOVICHARULLAH ARKIE
CV:
saya masih duduk dibangku SMA
tepatnya tahun ini kelas 3 SMA
belakangan ini say amengikuti lomba-lomba puisi
di internet hnya sekedar nambah uang saku and nyalurinnn bakar atau hobi saja//^_^
July 18th, 2008 at 12:11 am
Kau
Aku sangat berharap kau bisa membaca baris kata-kata ini
Kau tahu, aku tak bisa menapak jejak di hidupmu
Aku tak bisa untuk terus menatap lirih wajahmu
Walau, aku sangat meredam kerinduan
Ingatanku tentangmu tak akan lepas menjadi debu jalanan
Aku ingat es krim hijau yang kau sajikan padaku
Segetar dendang yang kualunkan padamu
Sebuah film yang kita rekam dalam ingatan sebagai kenangan bersama
Sebuah boneka beruang sebagai tanda perpisahan kita…
Aku kelam dengan penghianatan yang sangat kau benci
Hanya untukmu…
July 18th, 2008 at 12:15 am
Kau
Aku sangat berharap kau bisa membaca baris kata-kata ini
Kau tahu, aku tak bisa menapak jejak di hidupmu
Aku tak bisa untuk terus menatap lirih wajahmu
Walau, aku sangat meredam kerinduan
Ingatanku tentangmu tak akan lepas menjadi debu jalanan
Aku ingat es krim hijau yang kau sajikan padaku
Segetar dendang yang kualunkan padamu
Sebuah film yang kita rekam dalam ingatan sebagai kenangan bersama
Sebuah boneka beruang sebagai tanda perpisahan kita…
Aku kelam dengan penghianatan yang sangat kau benci
Hanya untukmu…
karya phadli hasyim harahap
CV:
Phadli Hasyim Harahap lahir di Medan, 14 Pebruari 1985. Dunia tulis-menulis mulai digemari sejak mengenal blog pada Juli 2007. Karang mengarang dipelajari secara otodidak. Puisi dipelajari juga dengan otodidak. Hasil karya orang lain, bergaul dengan banyak orang, dan membaca buku dianggap sebagai pengganti guru. Phadli masih bergelut menyelesaikan skripsi yang tak kunjung selesai di Jurusan Antropologi FISIP UNPAD. Hasil beberapa ketikannya dibuat untuk blognya http//:phadli23.multiply.com. Phadli suka menulis uneg-unegnya dan kegiatan keseharian di blognya.
NB: maaf saya baru tahu puisi say jadi nominator.
terima kasih
July 21st, 2008 at 12:19 pm
Tuhan,..
Terima kasih telah kau kirim seorang ayah yang
sangat baik kepadaku yang mengajarkan Deryn
banyak hal selama 13 tahun ini
mengajarkan Deryn bagaimana semestinya bersikapn
mengajarkan Deryn bagaimana semestinya berucap
mengajarkan Deryn bagaimana mencintai dengan
tulus tanpa mengharap cinta kita dibalas
mengajarkan Deryn 1001 hal yang tidak Deryn mengerti
mengajarkan Deryn hitam dan putih
mengajarkan Deryn untuk memikirkan perasaan
orang lain
mengajarkan Deryn untuk rela berkorban
walaupun rasanya sakit
mengajarkan Deryn bahwa dunia ini berputar
Tuhan,
Tolong sampaikan pada ayah , kalau Deryn sangat
mengasihinya . walaupun Deryn anak yang tidak tahu diri
namun Deryn sangat mengasihi dia .
Deryn mencintai dia sedalam samudera, seluas cakrawala
, setinggi gunung, sebesar dunia, dan dengan hati
yang tulus.
Doa seorang anak perempuan kepada ayahnya tercinta.
July 28th, 2008 at 7:20 am
Belasan tahun aku tumbuh dalam dekapan sayap elang
setiap helai bulu sayapnya terkandung cinta kasih dan bekal kehidupan
dalam lembutnya aku terlena
hingga kulupa aku harus banyak belajar
lepas inginku, dan saatnya
hingga kusadri bahwa kau begitu berharga
setiap tutur dan tindakmu berbudaya
kini aku menyusuri hitam putihnya dunia
tnapa aku takut
kurasa tak cukup bekallku
krenaku kulallai dalm pagiku
bersamamu