Mengapa saya menulis?
Nomor Peserta 245
Kategori 1
Pertanyaan yang saya pilih untuk dijadikan tema sekaligus judul ini telah menggelitik ?pikiran saya
untuk menelusuri kembali minat dan motivasi saya dalam menulis.
Saya mulai menulis-selain catatan pelajaran-ketika duduk di bangku tsanawiyah yang ?sekaligus pesantren. Saat itu saya sudah mulai terbiasa menulis catatan harian, karena ?hanya dengan menulis, saya dapat menumpahkan segala kebahagiaan dan kesedihan. Mungkin, ini juga didukung oleh sifat introvet saya yang lebih memilih menulis dalam ?mengungkapkan segala perasaan daripada menceritakannya kepada orang lain.?
Pada suatu hari, ketika saya pulang ke rumah, saya
mendengarkan radio yang saat itu ?sedang membahas
puisi; dengan membaca dan menganalisa isi puisi. Saya
tidak ingat ?tema puisi tersebut, yang jelas, sejak
itu saya sangat tertarik dengan puisi.?
Selain rutin mendengarkan program acara tersebut bila
pulang ke rumah, saya pun mulai ?mencari puisi di
koran atau majalah. Saya gunting tulisan yang ada
puisinya, dan jika ?koran atau majalah itu milik umum,
saya mencatatnya. Dari ketertarikan mengumpulkan
?puisi dan mengklipingnya, saya mulai tertarik untuk
menulis dan membahasakannya ?dengan bahasa saya
sendiri. Bahkan, gaya bahasa catatan harian pun saya
ubah. Entah ?apa yang membuat saya tertarik dengan
puisi. Mungkin saya menyukai gaya bahasanya ?yang
indah dan mengandung sejuta makna.?
Ketika sekolah mengadakan lomba menulis puisi, saya
pun mengikutinya. Dan ?alhamdulillah, saya menjadi
juara pertama. Hal yang sangat membanggakan saya
hingga ?sekarang. Walaupun itu hanya kejuaraan tingkat
sekolah, tapi saya tidak menyangka akan ?mendapatkan
juara pertama pada lomba yang pertama kali saya ikuti.
Ini memotivasi ?saya untuk mengirim puisi ke majalah
Islam remaja (Annida), namun sayang hanya ?mendapat
balasan terima kasih. Saya agak kecewa atas kegagalan
tersebut, dan tidak ?mengirim tulisan lagi ke media
massa. Meskipun demikian, saya tetap membaca dan
?menulis puisi. Bahkan, memasuki kelas tiga
tsanawiyah, ketertarikan saya dalam ?membaca bertambah
dengan membaca cerpen. ?
Saya suka membaca cerpen karena saya dapat mengetahui
cerita kehidupan yang berbeda ?dengan kehidupan saya.
Pada dasarnya, memang saya sangat menyukai cerita atau
?dongeng. Saat itu, saya seakan haus membaca cerpen
dan puisi, tetapi keinginan untuk ?menulis cerpen
belum ada sampai salah seorang teman bercerita bahwa
ia sering menulis ?cerpen, bahkan pernah dimuat di
majalah remaja. Saya pun tertarik, dan memintanya
?untuk mengajari saya membuat cerpen. Dia bersedia
mengajari saya membuat cerpen ?dengan mengajarkan cara
membuat kerangka cerpen, dan menyuruh saya untuk
membuat ?kerangka tersebut sekaligus cerita utuhnya.
Maka, dengan semangat ‘empat lima’ saya ?menulis
cerpen tersebut dalam waktu satu minggu. Teman saya
tersebut memeriksa dan ?mengoreksi tulisan cerpen
pertama saya. Dia juga memotivasi saya bahwa cerpen
?tersebut telah bagus, dan hanya tinggal mempertajam
alur cerita dan memperbaiki teknik ?penulisan. Saya
dianjurkan untuk terus berlatih. Mendengar hal itu
saya sangat senang ?dan berterima kasih atas
kesediaannya membantu dan membimbing saya dalam
menulis ?cerpen.?
Demikianlah, hari-hari saya diisi dengan membaca dan
menulis puisi dan cerpen. ?Meskipun demikian, tidak
ada tulisan yang saya kirim ke media massa.?
Ketika di Aliyah-masih di komplek pesantren yang
sama-saya mengikuti kursus menulis ?jarak jauh selama
enam bulan, yang informasinya saya ketahui dari
majalah Annida.?
Selanjutnya, saya meneruskan sekolah ke salah satu
perguruan tinggi di Jakarta. Selama ?kuliah, kebiasaan
membaca dan menulis cerpen dan puisi mulai berkurang.
Jenis bacaan ?yang saya baca beralih ke buku referensi
mata kuliah atau buku agama, sosial, budaya, ?politik,
komunikasi, dan sejarah. Selama kuliah, membuat
makalah dan karya tulis telah ?menjadi suatu kewajiban
bagi mahasiswa, sehingga saya pun harus belajar teknik
?penulisan karya ilmiah yang baik dan benar. Saya
mengikuti pelatihan menulis dan ?jurnalistik yang
diadakan oleh organisasi kampus. Sebenarnya, pelatihan
yang saya ?dapatkan dari kampus tidak berbeda dari
pelatihan menulis jarak jauh yang saya dapatkan ?waktu
di aliyah. Hanya saja, kita langsung dilatih menulis
artikel atau resensi, dengan ?contoh tulisan dari para
senior yang memberi pelatihan. Tidak lupa, hasil dari
tulisan ?tersebut diedit oleh mereka. Dengan demikian,
kita menjadi tahu hal-hal yang harus ?diperbaiki dari
tulisan tersebut.?
Dengan bimbingan dan motivasi dari para senior, saya
berlatih menulis artikel dan ?resensi. Maka, saya
memberanikan diri mengirim artikel ke koran harian
Republika, dan ?alhamdulillah, tiga minggu berikutnya
tulisan saya dimuat. Sungguh, saya tidak ?menyangka
bahwa tulisan pertama yang saya kirim dimuat di harian
tersebut. Para senior ?dan teman-teman bangga kepada
saya, bahkan mereka termotivasi untuk menulis dan
?mengirim artikel, resensi, cerpen, dan puisi ke media
cetak.?
Dengan dimuatnya tulisan tersebut, saya pun terus
menulis artikel atau resensi. Kembali ?saya mengirim
artikel ke koran yang sama, tetapi dikembalikan.
Meskipun demikian, ?saya tetap menulis. Seringkali
dalam menulis sebuah tulisan, baik artikel, resensi,
?maupun cerpen tidak selesai, hanya berupa penggalan
paragraf. Jika menyelesaikan ?tulisan, saya
mengirimkannya ke media cetak, atau mengikuti
perlombaan. Dari tulisan ?yang saya kirim ke media
cetak dan perlombaan menulis yang saya ikuti, hanya
sekali ?saya menang lomba dan tulisan dimuat media
cetak. ?
Usai masa kuliah, orientasi saya menulis berubah. Saya
menulis karena ingin ?mendapatkan penghasilan. Namun,
saya tidak bisa menghasilkan tulisan utuh, masih
?berupa penggalan-penggalan paragraf. Maka, saya tidak
terlalu berharap banyak untuk ?mendapatkan uang dari
tulisan. Saya pun mencoba mencari pekerjaan, dan
alhamdulillah ?mendapatkannya. Meskipun setelah
bekerja saya masih suka membaca buku, terutama ?novel,
saya belum menghasilkan tulisan. Saya menulis bila
hanya dalam situasi tertentu. ?Bila ada sesuatu yang
menggelitik perasaan, baik itu fenomena keislaman,
sosial, budaya, ?maupun politik, saya menuliskannya
meskipun itu di tempat kerja. Tangan saya tak dapat
?dicegah untuk menulis atau mengetiknya di komputer,
menuangkan segala hal yang ?terdapat dalam pikiran.
Dengan demikian, saya menulis karena memang saya suka
?menulis, apa pun jenis tulisannya.
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.



Leave a Reply