Text Link Ads

ANTARA DONAT, PRINTER, DAN UANG SERATUS RIBU

Nomor Peserta 233
Kategori 1

Pada suatu hari…
Tidak. Terlalu kuno dan sangat Sekolah Dasar. Hampir semua tulisan saya di SD dulu diawali dengan frase ini.
Pada zaman dahulu kala…
Lagi-lagi saya menekan tuts backspace beberapa kali di keyboard komputer saya. Saya sedang menulis esai mentoring. Bukannya  menulis dongeng kancil!
 Once upon a time…
 Sama saja. Standar. Agak sok bule, bahkan.
 Waduh. Lalu bagaimana, ya?
 
Saya segera memejamkan mata, berusaha mengingat-ingat pembukaan mentoring setahun silam. Tanggal berapa, ya? Sungguh, saya memang agak parah dalam urusan ingat-mengingat, apalagi jika hal itu berlangsung cukup lama dan tidak begitu meninggalkan kesan. Bahkan nama teman-teman saya di SMU pun sudah banyak yang (tidak sengaja) saya lupakan. Lalu bagaimana saya bisa menulis esai yang rencananya saya ikutkan dalam Lomba penulisan esai mentoring tingkat universitas di kampus saya itu?
Oke, bagaimana kalau begini…
 Suatu hari, dimana saya lupa tanggalnya…
 
Saya memandangi kalimat yang saya buat dengan puas. Ya, saya merasa telah membuat pembukaan yang cukup unik, eye catching, jujur, dan tidak pasaran.
 
Kenapa saya begitu bingung membuat awalan? Mungkin karena dari beberapa literatur yang saya baca, kalimat atau paragraf pertama adalah hal yang vital dan mutlak diperhatikan oleh setiap penulis. Benarkah demikian? Saya seratus persen sepakat! Awalan yang menarik dan tidak biasa akan merangsang orang untuk membaca lebih jauh tulisan kita. Karena itu, saya paling anti membuka tulisan dengan awalan “yang itu-itu saja”. Saya berusaha membuat pembaca mengerutkan kening dan berkata “hah?”. Sengaja saya berbuat demikian karena saya juga paling anti membaca tulisan yang diawali dengan kalimat-kalimat standar.
 
Lalu saya kembali memejamkan mata dan mengingat kembali peristiwa setahun sebelumnya. Waktu itu hari Minggu kalau tidak salah. Aula penuh. Agendanya pembukaan mentoring Universitas Brawijaya. Acaranya dibuka oleh penampilan acapella nasyid, lalu ada juga beberapa mahasiswa aceh gagah yang menampilkan tari saman, lalu…
 
Bla…bla…bla… dan ingatan itu muncul satu persatu. Saya coba menuangkannya dalam esai bertemakan pengalaman mentoring yang saya buat di layar komputer. Lama-lama, saya keasyikan. Hei, dimana letak kesulitan menulis yang sering dikeluhkan teman-teman saya?
 
Dan saya pun mulai ngebut dan bersemangat membuat esai itu. Sebab tahukah anda? Hari dimana saya menulis esai itu bertepatan dengan hari terakhir batas pengumpulan naskah! Tentu saja adrenalin saya meningkat. Kata demi kata saya ketik. Paragraf demi paragraf telah saya susun rapi. Bagaimana dengan pergantian sub-babnya? Tenang. Setiap pergantian bab, saya selalu mengawalinya dengan kalimat ”Suatu hari, dimana saya lupa tanggalnya….”
 
Saking seriusnya saya mengetik, saya tak sempat lagi membeli sarapan di warung makan langganan saya. Dari pagi sampai siang, perut saya hanya terisi dua biji donat yang saya beli dari penjual donat keliling!
 
Proses menulis beres. Saya cek lagi. Saya ubah beberapa bagian dan saya edit ejaan yang kurang pas. Oke, apalagi sekarang? Tentu saja saya harus memprintnya. Ada pengalaman menggelikan sehubungan dengan hal cetak-mencetak ini. Ketika itu, saya agak-agak gaptek dalam menggunakan mesin printer. Padahal printer milik teman kos saya teronggok rapi di atas lemarinya dan siap digunakan. Teman saya pun sudah menyediakan printernya untuk saya gunakan. Namun karena pada dasarnya memang selalu takut meminjam barang mahal milik orang lain (karena saya berpikir takut rusak atau hilang dan pasti repot kalau harus menggantinya), saya hanya bisa menatap bengong printer itu sambil mereka-reka, kabel-kabel itu mesti ditancapkan di mana?
 
Tak mau ambil pusing, saya segera lari ke rental komputer terdekat untuk mencetak tulisan saya. Ketika hasil print sudah ada di tangan, saya baru menyadari bahwa saya lupa menjustify tulisan saya sehingga esai itu tampak mencong dan tidak rata. Namun apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur kematangan, dan deadline semakin mengejar. Tanpa saya jilid (hanya saya stappler biasa) tulisan yang tampilan fisiknya sangat ”menyedihkan” itu saya serahkan pada panitia lomba.
 
Waktu berlalu. Saya sudah tidak berharap lebih pada naskah awutan-awutan yang saya buat dengan terburu-buru itu. Bagaimana mungkin saya berharap banyak? Bahkan naskah berbobot yang dijilid rapi dengan dilengkapi riset memadai saja belum tentu menang.
 
Dan akhirnya tibalah penutupan mentoring kampus saya yang bertepatan dengan pengumuman lomba menulis esai itu. Presenter memberitahukan bahwa peserta lomba mencapai lebih dari seratus orang dari berbagai fakultas! Saya hanya senyum-senyum ketika presenter mengumumkan kriteria-kriteria naskah pemenang sebelum membacakan siapa juaranya. Saya hanya menggumam dalam hati, sudahlah, tak ada satupun kriteria yang kamu penuhi! Namun tiba-tiba saja saya terhenyak ketika melihat Nomor Induk Mahasiswa saya tercantum jelas di layar proyektor LCD!
 ”Ya! Ada yang merasa punya NIM ini? Pemenangnya adalah….”
 
Alhamdulillah! Saya tak mampu berkata-kata. Itulah pertama kalinya saya menjuarai lomba penulisan setelah sebelumnya tak pernah menang dalam lomba penulisan apapun! Saya hanya bisa bersyukur pada akhirnya tulisan saya mampu menyisihkan esai ratusan peserta lain! Dengan kaki lemas (tapi bahagia), saya maju ke depan panggung untuk menerima hadiah di hadapan ribuan mahasiswa baru lainnya (sekarang akhirnya saya tahu kenapa banyak orang ingin menjadi selebritis). Saya mendapatkan trofi dan hadiah uang seratus ribu!
 
Untuk ukuran empat tahun lalu, tentu uang itu cukup besar bagi saya. Namun bukan hadiah uang yang membanggakan saya. Satu hal yang saya banggakan adalah, berdasarkan review penilaian dari para juri, tulisan saya mampu memikat orang untuk terus membaca hingga tuntas. Tulisan saya mengalir dan enak dibaca. Tulisan saya sangat jujur, apa adanya, namun cukup tajam dalam mengkritisi permasalahan. Tulisan saya sangat realistis dengan banyolan-banyolan satire yang membuat orang merenungkan lebih jauh tentang makna kehidupan. Saya hanya mendengar tak percaya dan tidak menyangka bahwa efek tulisan saya bisa sedahsyat itu. Bahkan hingga sekarang, saya masih tidak mengerti apa yang mereka maksudkan (he..he..he..)
 
Dari sini saya menyimpulkan bahwa menulis itu mudah. Bahkan sangat mudah! Tulis saja apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan. Apa saja! Bencana alam, tawuran pelajar, tetangga sebelah yang tukang rumpi, artis yang tengah naik daun, apa saja! Tak perlu pusing memikirkan hal-hal yang (kita buat) rumit. Tak usah terlalu khawatir dengan masalah layak tidaknya tulisan yang dihasilkan. Tulis saja! Seperti ungkapan bijak yang dianut oleh banyak penulis dunia : menulis adalah menulis adalah menulis adalah menulis adalah… Jadi, menulislah.
 
Seiring berjalannya waktu, pastiah tulisan kita akan semakin terasah dan bermutu. Dan pada akhirnya tak ada kata sulit jika kita sudah terbiasa menulis, bukan? Jadi tak perlu ragu, tak usah terlalu banyak meributkan teori menulis dari buku. Pegang pena dan kertas, atau mainkanlah jemari anda di atas keyboard komputer!
 
Maka selamat, anda sudah menjadi seorang penulis.


You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

AddThis Social Bookmark Button

3 Responses to “ANTARA DONAT, PRINTER, DAN UANG SERATUS RIBU”

  1. wow… ayo menulis!!!!!!!!!!!!

  2. menulis itu memang tidak mudah, sebenarnya yg dibutuhkan hanya kesabaran dan terus berlatih untuk menghasilkan karya yang terbaik =)

  3. azhaar arinah Says:

    bersemangat!!!!! tapi aku belum bisa……. he he he he
    kadang krn males, kdng krn ga da waktu, pengen deh bisa menghasilkan tulisan bermutu, jadi mesti usaha yahhhhhh……..

Leave a Reply