Text Link Ads

Menulis Tak Semudah Membalikkan Telapak Tangan

Nomor Peserta 138
Kategori 1

Segunung kekurangan dan segudang kesalahan di kantongi setiap penulis pemula. Dinamika dalam perhelatan besar untuk mewujudkan imajinasi dalam bentuk tulisan membutuhkan kegigihan dan istiqomah. Tak jarang terdengar di gendang telinga kata-kata yang hampir mematahkan semangat menulis.
“Wah tulisanmu gaya bahasanya tidak teratur.”
“Wah tulisanmu banyak sekali kata-kata “dan” nya

Bisikan hati kecil menepis dengan ucapan:”Silahkan kritik dan hina tapi lihat nanti hasilnya.”

Awal Menulis
“Experience is the best teacher.”
Pengalaman adalah sebaik-baiknya guru. Kata mutiara tersebut yang telah mencoretkan kenangan manis dan pahit yang selalu terekam dalam memori. Naluri menulis Alhamdulillah sudah tertanam semenjak bangku SD lewat cerita pendek dan puisi. Di teruskan dengan bergabung dengan komunitas membaca dan menulis di ITQON salah satu instansi di Pondok Modern Darussalam Gontor.
Menjadi reporter berita, langkah awal melatih mental. Halangan dan rintangan silih berganti . Apalagi rasa malu yang bergejolak . Namun teringat dalam pedoman hidup ,” Barang siapa yang bersungguh-sungguh maka dapatlah ia .
Alhamdulillah laporan berita bisa terliput dan langsung di edit oleh kakak kelas atau senior . Nampak coretan dengan tinta merah menari-nari di atas buku catatanku.
“Kamu kurang ini, ini dan ini. Dan seharusnya begini dan begini.”
“Baik. Syukron.” senyum manisku.
Bekerja extra atau bisa di bilang extra keras. Karena kalau pengeditan sudah lulus harus mengetik tulisan dengan mesin ketik elektrik.
“Tak, tik, tuk..”
Wah, sudah jadi tempel ah…
Bangun tidur hatipun meriang gembira saat kedua bola mata menangkap pemandangan orang-orang yang sedang membaca jurnal.
Alhamdulillah Ya Allah
Tiada daya dan kekuatan kecuali atas pertolongan-Mu

Awal Challenge
Cita-cita besar harus di berangkati dengan tekad dan semangat yang membara. Dulunya hanya melihat , melihat dan melihat. Tiba waktunya untuk berbuat . Tiba waktunya untuk mengukir tinta emas dalam hidup.
Di bumi Jawa tepatnya di ujung pulau jawa alias Banyuwangi. Ku harus memeras keringat setiap hari karena hati telah bertekad untuk membuat sebuah Novel Islami. Untuk mendapatkan buku tebal 200 halaman tidak bisa di dapat di sekitar tempat ku tinggal maka harus musafir ke Banyuwangi kota yang berjarak 45 menit dengan kendaraan bermotor.
Alhadulillah peralatan pun sudah siap di atas meja. Namun apa ya yang harus di tulis. Sering melamun. Berimajinasi agar bisa membuat novel yang bagus dan bermutu. Bengkel ide, orang mengatakannya. Beberapa hari pun terlewati namun ide tak kunjung datang. Buku khusus itu masih nampak kosong hanya catatan nama dan tanda tangan.
Audio visual merupakan aset ide. Beberapa film laga di tv dan VCD pun harus ku ikuti. Terinspirasi dari film sejarah karate. Maka ide itu merupakan awal dari imajinasiku.
“Friend, ku mau bercerita tentang gambaran novel yang akan ku buat. Dengarkan oke!”
“Sudah cerita saja.”
cerita mulai keluar dari bibir manis sekitar 45 menit lamanya. Saat selesai dari klimaks novel.
“Gi mana seru nggak?”
“ Afwan aku tadi capek banget makanya aku tidur.”
Kawanku bukan mendengar ucap kata akan tetapi tidur. Bersabarlah!
“Satu buku ini harus habis degan goresan pena untuk novel.”

Jam Biologis
Kunci sukses menulis novel. Waktu yang sedikit dan kegiatan yang extra perlu mengklasifkasikan waktu dengan baik dan disipin. Kapasitas menjadi guru pengajar di pagi hari sampai siang. Malampun harus mengamati anak didik belajar. Di sela kekosongan, menulis adalah andalanku . Kemana-mana buku tulis itu lekat di tangan. Lantunan do’a agar novel bisa terbit terus berkumandang
halaman demi halaman terlampaui.jam siang untuk mengajar TPA terkadang harus di korbankan untuk menulis . Itupun sudah membawa titik terang namun harus di sempurnakan . Sore harinya yang pahit . Betapa tidak. Kawan-kawanku mengajak untuk bermain bola di lapangan . Bingun harus memilih. Bila ke bola otomatis novel harus cuti dulu.
` Merubah jam biologis ketika malam datang. Keadaan kamar yang sepi sangat cocok untuk menulis. Pemandangan mata kadang tak kuasa memandang . Betapa nyaman dan tenang menjelajahi mimpi dalam tidur.
Sepi senyap dan hawa dingin selalu menemani . Mata yang mengantuk . Membuat tulisan banyak corat-coretnya seminggu sudah berlalu namun masih belum sampai target . Jam biologis menulis harus di tambah . Sore hari harus di korbankan demi mensukseskan tulisan novel. Ejekan dan kritikan sudah menjadi bumbu .
Kau bilang runtangan dan halangan. Ku bilang hiburan dan lahan amal.

Buah keringat
‘Get it now! Novel Islami Sawakoi Di Naun gan batu Pandrao . Persedian terbatas.
Tiada daya dan kekutan kecul dari Allah SWT.
Mari Menulis, kembangkan imajinasi dan tetap SEMANGAT.
Dariyanto, FLP Cabang Kediri.

Alamat JN Semeru pare Kediri

081 359 471 942


You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

AddThis Social Bookmark Button

Leave a Reply