Menulis adalah Ekspresi Diri
Nomor Peserta 139
Kategori 1
Kita pernah merasakan bagaimana asyiknya membaca , bahkan terkadang sampai lupa makan misalnya. Membaca yang dimaksud tentu saja membaca tulisan opini orang di surat kabar atau cerita, bisa suatu novel, cerita roman, bisa text-books tebal yang orang lain membacanya saja mungkin bikin pusing. Jika anda saja sebagai pembaca (yang pasif) bisa merasa senang (asyik), coba bayangkan bagaimana jadinya dengan perasaan “penulis” itu sendiri (yang aktif membuat)? Jadi dalam hal itu tentu dapat dibayangkan bagaimana asyiknya menulis.
Kata-kata “penulis” dan “nulis”, adalah pilihan kata yang sangat populer ditelinga seseorang dan tidak jarang untuk sekedar mendapatkan gambaran inspirasi yang menohok ketika pembaca tulisan membacanya, lalu keluar dari mulut pembaca, alangkah nikmat menjadi penulis. Yang pasti pekerjaan menulis sangat menyenangkan dan sangat terhormat didepan publik
Tapi, menulis bagi sebagian orang jangan dianggap gampang, kita butuh tenaga yang super ekstra, kelencahan, kecerdasan memules kata-kata dan kesabaran guna menuangkan ide-ide centil.
Biasanya, penulis pemula banyak menuai hambatannya, dari memulai kata hingga penyusun paragraf, ada kalahnya harus mengobrak abrik lagi tulisan dan mendelete semuanya, karena tidak nyambung, kurang mendalam, bahkan dengan seribu alasan . Tak hayal meskipun sudah penulis tenar, terkadang tetap kehabisan kata-kata dan ide juga.
Semuanya, akan berakhir jika kita sangat “enjoy” menikmati kreativiatas, ditelateni, diteleti kemudian disambung lagi. Makanya ada sebagian penulis mengatakan bahwa pekerjan menulis seperti bengkel sepeda. Artinya main bongkar pasang dan berani mengidentifikasi karakteristik diri, dengan ini kita bisa mudah mengenali diri, dan tidak ambil pusing terhadap karakter kita, sebab ada kalahnya kita alergi computer, alergi kertas dan alergi yang lain.
Jangan pernah berfikir bahwa anda tidak bisa menulis, walaupun dalam aplikasinya memang tidak segampang seperti orang menanam singkong. Atau seperti orang makan cabe, begitu dimakan saat itu juga dirasa pedisnya. Menulis perlu beberapa tahapan dan proses yang sangat panjang. Karena tulisan merupakan sebuah diksi (karakter) seseorang bagaimana mengekpresikan ide-ide yang terlintas sejenak dalam otaknya kemudian harus ditulis dalam bentuk kata-kata, dari kata-kata diurai menjadi sebuah kalimat, kemudian dari kalimat dijadikan paragraf-paragraf lain sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh dalam bentuk tulisan.
Banyak metode (cara) dan motivasi untuk kita bisa menulis. Gus Zainal Arifin Thoha (alm) misalnya, dalam bukunya yang berjudul “Aku Menulis Maka Aku Ada” telah cukup banyak memberikan ransangan dan tata-cara bagaimana menulis yang baik. Didalamnya juga terdapat tulisan pesan betapa pentingnya sebuah ide dituangkan dalam bentuk tulisan. Ali bin Abi Thalib pernah berkata : “Barangsiapa yang pintar dalam dunia tulis (kaligrafi), maka kebutuhan hidupnya akan tercukupi”. Sebagaimana juga pesan Imam Al-Ghazali : “Kalau engkau bukan anak raja, bukan pula anak ulama besar, maka jadilah penulis”. “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah… Menulis adalah bekerja untuk keabadian” (Pramoedya Ananta Toer).
Seorang budayawan Madura, D. Zawawi Imron, pada kolom jedah Jawa Pos pernah ngisi bagaimana “Mengagas Budaya Tulis”. Karena era computer ini, semua jari-jari intelektual dengan lincah bermain diatas tust computer. Sementara, terkadang tidak mafhum bahwa tulisan yang baik adalah yang bisa dibaca dan dimengerti oleh disiplin ilmu yang lain termasuk juga orang awan yang suka membaca buku.
Menulis butuh kesungguhan tersendiri, memilih kata yang tepat untuk sebuah kalimat, mengurai kalimat untuk menjadi pragraf. Maka dapat dimaknai, menulis merupakan bagian dari jihad. “Jihad bahasa”.
***
Faktor pengalaman dalam dunia tulis-menulis merupakan peranan penting. Berikut saya ingin pelbagi pengetahuan atau pengalaman proses awal saya menulis. Pada akhirnya kenapa saya harus menulis?
Saya mulai mengarang (jujur) ketika masih belajar di bangku MTs (Madrasah Tsanawiyah) Kelas I Nasy’atul Muta’allimin Candi-Dungkek-Sumenep-Madura pada tahun 1998. Diawali dengan ketika saya tertarik mengikuti diklat jurnalistik yang diadakan oleh OSIS (Oraganisasi Siswa Intra Sekolah) MTs Nasy’atul Muta’alimin Candi-Dungkek-Sumenep-Madura. Usai mengikuti diklat sepertinya membekas, materi yang saya dapatkan, menggugah denyut bakat saya untuk berkarya. Akhirnya, saya terus berusaha menghayati apa yang saya pernah baca dari pelbagai sumber, majalah, bulletin dll. Walaupun saya sempat berpikir waktu itu, sepertinya dalam diri tidak mempunyai bakat atau potensi untuk besar menjadi penulis.
Bermula, saya dengan berkarya menulis cerpen. Cerpen yang saya tulis bukan berarti cerpen layaknya yang ditulis banyak budayawan sekarang yang kental kesastraannya (fiksi) dan biasa kita lihat dalam sebuah surat kabar. Tulisan cerpen yang saya tulis dengan cerita fakta (bukanlah sebuah fiksi) yang sengaja saya jumpai setiap hari. Baik sikap saya sendiri yang sering menjenggelkan orang tua, saudara, kakek dan teman-teman sepermainan. Atau cerita teman-teman dekat saya yang juga sering berbuat sesuatu yang tidak sopan kepada orang tuanya, keluarga, tetangga dan teman-teman sepermainannya saya urai dengan sebuah kata-kata yang indah.
Disamping itu juga, saya berusaha menulis puisi, hampir setiap hari ketika saya berangkat sekolah dengan jalan kaki, mencoret-coret buku catatan harian (memory book) untuk menulis puisi dan cerita-cerita pendek atas reaitas yang saya jumpai. Tetapi, kumpulan cerpen dan puisi yang saya tulis tidak pernah tersalurkan. Artinya, cerpen dan puisi yang saya tulis tidak pernah saya kirim ke media massa. Karena letak rumah saya yang sangat jauh dari keramaian. Apalagi kantor Pos pada waktu letaknya cukup jauh dari rumah, yakni di Kecamatan Batang-batang dengan jarak sekitar 25 km. Karena di kecamatan saya sendiri (Kecamatan Dungkek) juga kurang tahu ada apa tidak kantor Posnya. Tapi, kalaupun ada waktu itu jaraknya hampir sama dari rumah saya.
***
Baru setelah masuk kelas III Madrasah Tsanawiyah (MTs) saya berani jalan dengan menaiki sepeda gunung untuk mengirim tulisan ke media massa. Majalah yang saya kenal waktu adalah Nuktah (milik pesantren An-Nuqayah Guluk-guluk Sumenep) MPA, Aula (majalah Nahdlatul Ulama Jawa Timur), Mimbar, Koran (saya lupa namanya yang jelas bukan kora terkenal).
Walaupun tulisan saya saat itu tidak pernah ada sama sekali yang dimuat di media massa (koran). Tapi, setiap kali saya kirim tulisan via pos, dengan menyertakan prangko balasan, biasanya mendapat tanggapan berupa balasan atau pengembalian tulisan dari media (redaksi) yang saya kirim karena tulisannya tidak layak dimuat. Kalaupun seperti yang terjadi, diri saya tetap menjadi puas. Kepuasan bagi diri saya datang dengan sendirinya. Prinsip saya kala itu, memang mulai sejak duduk dibangku Madrasah Tsanawiyah (MTs) saya berusaha hidup sederajat/seimbang dengan orang/anak-anak orang kota yang bersimpuh dengan keramaian media dan pasilitas elektronik yang serba lengkap. Walaupun saya orang desa, menulis dengan tangan. Baru saya mengetik tulisan, tapi harus minta idzin kepada Tata Usaha (TU) di kantor madrasah untuk pinjam mesin ketik ketika mencoba untuk ngirim ke media.
***
Tahun 2000, saya lulus Madrasah Tsanawiyah (MTs) Nasy’atul Muta’allimin Candi-Dungkek-sumenep. Kemudian saya melajutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Waktu itu, saya memilih mondok/nyantri di Pesantren Nasy’atul Muta’allimin - biasa disingkat dengan NASA - Gapura-Sumenep (nama lembaganya sama ketika waktu MTs di Candi). Saya pikir, nantinya pasti akan lebih mendukung kreatifitas saya dalam dunia tulis-menulis. Karena secara geografis letak Pondok Pesantren Nasy’atul Muta’allimin (NASA) Gapura-Sumenep letaknya lebih dekat dengan kota. Dan segala macam fasilitas media seperti surat kabar, majalah dll akan banyak tersedia disana.
Di pondok, saya juga melalui proses yang sama dengan mengikuti diklat jurnalistik yang diadakan OSIS MA oleh devisi penerbitan “Bulletin Gelora” Madrasah Aliyah (MA) Nasy’atul Muta’allimin (NASA) Gapura-Sumenep. Selang beberapa hari dari pelaksanaan diklat, ada follow up all materi. Peserta diklat diminta untuk menulis cerpen, puisi, opini dan yang lainnya. Bagi saya, itu sudah biasa. Karena sebelumnya saya memang banyak menulis cerpen dan puisi waktu masih duduk di bangku tsanawiyah di Candi, meskipun kurang baik. Saat itu, saya oleh pengurus bulettin langsung (diminta) direkrut menjadi kru “Bulletin Gelora”. Saya dipercaya memegang kolom budaya untuk ngedit naskah puisi dan cerpen yang masuk dari siswa ataupun santri untuk dimuat di “Bulletin Gelora” pada waktu terbit bulanan.
Kesempatan yang tepat bagi saya waktu itu. Ketika siswa/siswa/santri tidak ada yang mengirim tulisan sama-sekali, sementara deadline untuk terbit, maka karya puisi dan cerpen saya dari hasil kumpulan selebaran yang saya tulis sejak duduk di bangku tsanawiyah (MTs) di Candi, kesempatan untuk dimuat. Saat itu pula kepuasan terjadi. Saya merasa bangga, karena tulisan saya bisa dibaca banyak siswa/siswa yang ada di Pondok Pesantren Nasy’atul Muta’allimin Gapura-Sumenep. Bahkan alumni. waktu itu, jumlah santri/siswa/siswi mulai tingkat TK, MI, MTs, MA dan Diniyah (sekolah masuk sore) sekitar 1.500 siswa ditambah guru/ustadz.
Setelah lama saya memegang menjadi “Bulletin Gelora”. Mulai itu pula, saya mulai mengenal media (pasilitas baca siswa) yang namanya Jawa Pos, Duta Masyarakat, Surya, Kompas dll. Saat itu ada yang aneh dalam diri saya. Saya lebih senang membaca kolom opini ketimbang budaya/sastra. Seperti kolom puisi dan cerpen.
Saya mulai tidak gairah lagi menulis cerpen atau puisi. Saya lebih senang dan cendrung menulis opini, walaupun opini yang saya kirim terhadap media yang saya sebut diatas tidak pernah ada yang dimuat.
***
Tahun 2003 saya lulus Madrasah Aliyah (MA). Dan waktu itu, di pondok saya ada undang-undang baru, yakni “wajib ma’hadi” (wajib pondok) bagi siswa yang nyantri diwajibkan untuk ngabdi selama dua tahun. Saya taati undang-undang itu (sami’na wa atha’na kepada pengasuh). Oleh yayasan, saya langsung di posisi menjadi staf Tata Usaha (TU) Madrasah Ibtidaiyah (MI) lembaga setempat. Tahun ajaran berikutnya, walaupun sejak itu saya juga menjadi pengurus pondok pesantren saya diangkat menjadi Kepala Tata Usaha (Ka. TU) di MTs-nya (madrasah tsanawiyah) di pondok saya juga.
Secara fasilitas jelas sangat mendukung sebenarnya bagi saya waktu itu untuk menulis saat pengabdian. Karena di kantor tersedia segala fasilitas, mulai komputer dan telepon yang sekali-kali juga bisa akses internet, koran, majalah dll. Bagi saya, justru waktu itu tidak bisa berkarya sama-sekali. Setiap hari selalu disibukkan dengan menyelesaikan administasi kantor, rekap absen, pagi jam 06.00 WIB nyapu lantai, jam 07.00-13.00 WIB masuk kantor, malam kerja lembur kalau pekerjaan kantor yang belum selesai. Begitu seterusnya.
***
Habis jangka waktu dua tahun, saya pamit ke pengasuh, untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi lagi (kuliah). Saya pamit kuliah ke IAIN Sunan Ampel Surabaya. Pengasuh pondok pesantren (kiai) melarang saya kuliah ke Surabaya, karena disana bukan kota pendidikan. Surabaya adalah kota industri, bisnis, politik, panas dll. Kiai nyarankan saya kuliah ke Yogyakarta, karena disana kota belajar, dan sangat mendukung kalau akan menekuni dunia tulis-menulis. Tapi karena sudah pilihan saya sejak awal, saya tetap memaksa untuk kuliah ke IAIN Sunan Ampel Surabaya, pada akhirnya kiai juga merestuinya.
Hemat saya, kuliah di Surabaya, adalah waktu dan tempat yang tepat bagi saya untuk mengulangi potensi menulis yang sudah dua tahun terpendam. Di Surabaya tidak asing lagi yang namanya surat kabar, mulai lokal sampai nasional. Bahkan warnet bertaburan disana-sini.
Masuk test, dan saya dinyatakan lulus ujian terdaftar sebagai mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya, dan tidak lama setelah orenstasi kampus sudah masa aktif kuliah. Saya langsung berusaha mencoba untuk menulis opini lagi. Walaupun tugas makalah dari dosen sangat banyak. Saya tetap menulis opini, kerana memang saya tidak lagi suka dengan sastra/budaya. Ternyata setelah saya lama geluti koran ternyata ada kolom resensi buku pada tiap-tiap media. Yang sebelumnya saya tidak pernah tahu ada tulisan semacam itu.
Kebetulan, suatu hari ada teman saya datang - sebut saja namanya Tirmidzi - dia telah banyak tulisannya (resensi) dimuat di media lokal maupun nasional. Tir - panggilan akrabnya Ach Tirmdzi Munahwan - meminta saya juga untuk menulis rersensi buku (memberikan penilaian, kritik isi buku). Bagi saya resensi sesuatu bentuk tulisan yang asing. Apa resensi itu? Saya merasa bingung dengan resensi buku. Tir memberikan beberapa penjelasan dan tata cara penulisan resensi sampai kepada bagaimana cara mengirimnya di internet. Ketepatan waktu itu, saya yang sudah belajar menulis opini (walaupun jelek) saling tukar pengalaman dengan Tirmidzi.
Saya mencoba juga untuk menulis resensi buku. Karena kata teman saya lebih mudah masuk di surat kabar. Kalau melihat keterangan yang dipaparkan teman saya itu, menulis resensi amat gampang. Buku yang saya resensi judulnya “Berjuang Sampai Akhir; Kisah Seorang Mbah Muchith” terbiltan Khalista Surabaya. Saya tulis dengan mengikuti tata cara yang diberikan teman saya, Tirmidzi. Kemudian saya minta Mas Tirmidzi untuk mengiditnya hasil tulisan saya. Apa yang diperbuat Tirmidzi? Tanpa membaca tulisan saya, dia langsung membuang tulisan saya ke tempat sampah, dengan alasan jelek dan kurang kritis dalam memberikan penilian terhadap buku. Waktu itu, saya merasa agak kecewa. Saya ambil tulisan itu di tempat sampah, kemudian saya edit kembali, sampai lamanya sekitar kurang lebih 1 bulan.
Lama saya ngedit tulisan itu, dan saya yakin tulisan (resensi) itu baik. tanpa harus memberitahu kepada Mas Tirmidzi saya kirim ke Koran Duta Masyarakat melalui email. Akhirnya, hari minggu pada tanggal 17 April 2006 tulisan saya itu dimuat. Itu adalah pengalaman “emas” yang tiada banding harganya ketika tulisan saya muncul pertama kali di media cetak. Mulai dulu tulisan saya hanya muncul sebatas bulletin sekolah.
“Hobby” menulis resensi dan opini agak terus berkelanjutan dan mengantarkan karya tulisan saya yang dulunya tidak pernah dimuat di surat kabar, kini, tulisan yang saya simpan sudah tersebar dipelbagai media lokal mapun nasional. Diantaranya : Republika, Banjarmasin Post, Surya, NU Online, Duta Masyarakat, Majalah Khittah Jember, Radar Surabaya, Surabaya Pagi, Koran Pak Oles (Bali), Opsi Nasional dan beberapa majalah kampus lainnya.
***
Mengenai mengapa saya harus menulis? Yang jelas saya terinspirasi dari sebuah pesan Imam Al-Ghazali, pada saat pelatihan diklat di MTs dulu oleh seorang nara sumber dalam makalahnya yang saya baca. “Kalau engkau bukan anak raja, bukan pula anak ulama besar, maka jadilah penulis”.
Itu merupakan cambuk awal bagi saya untuk menulis. Berangkat dari dasar itulah saya sebenarnya semangat untuk berkarya, mengekpresikan ide-ide saya dalam bentuk tulisan. Saya juga sempat berpikir, saya bukan keturunan orang kaya, bukan keturunan raja/penguasa, bukan juga keturunan seorang kiai, bukan keturunan keaji (sebutan kiai orang madura yang ada di kampung).
Sejak kecil, walaupun saya bukan keturunan orang terhormat atau keturunan orang yang berpendidikan. Saya dilahirkan dari pasangan orang tua yang kerjanya tani tiap hari kerjanya mencari nafkah di sawah. Tapi saya tidak pesimis memperjuangkan diri saya dan tidak akan membiarkan orang lain lebih pintar dari saya. Walaupun terkadang setelah saya datang dari sekolah juga membantu orang tua untuk ke sawah. bahasa yang saya kenal sekarang - don’t let same one else bettet then yuo.
Alasan mendasar kenapa saya juga harus menulis, pilihan tempat perkuliahan saya (Surabaya). Yang ketika pamit ke “Pak Kiai”, bahkan dari pengasuh sendiri kurang mendapat restu untuk kuliah di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Surabaya kota industri, bisnis, politik, panas dan lainnya. Dalam pikiran saya, sebenarnya berusaha keluar dari pakem (anggapan) miring seperti itu. Saya berinisiatif bahwa tidak selamanya kuliah di Surabaya dengan banyak klaim jelek, bukan kota pendidikan dll justru tidak menghasil out come yang berkualitas di bidang pendidikan, pemikiran, produktif untuk menulis dll. Ternyata, saat ini (saya) juga terbukti telah mampu mewarnai tampil pada sebuah media dengan wacana-wacana baru yang masih aktual melalui hasil diskusi saya tuangkan dalam bentuk tulisan. Karena bagi saya tempat tidak menjadi masalah, walaupun lingkungan (al-biah) sebenarnya sangat mempengaruhi terhadap situasi belajar. Terpenting bagi saya adalah adanya sebuah semangat kemauan pada diri seseorang untuk berubah dan berbuat untuk menjadi penulis misalnya (where there is will there is may).
Alasan lain dari menulis sebenarnya adalah untuk ekspresi diri. Dengan saya menulis seseorang akan tahu pola (madzab) pemikiran dan ide-ide saya. Jadi apa yang di katakan oleh Pramoedya Ananta Toer, diatas benar. Banyak orang pintar ketika mengeluarkan ide-ide cemerlangnya. Tapi setelah dia pergi, juga kemana gagasan dia pergi. Yang sempat menjadi pikiran bagi saya mungkin dengan saya menulis (secarik kertas) di surat kabar atau dimana saja - karena bagi saya menulis tidak harus dimuat di surat kabar - yang penting pemikiran-pemikiran saya dituangkan dalam bentuk tulisan apapun bentuknya.
Syukur, hingga kini, saya telah bisa menerbitkan/membuat semacam buletin pribadi. Saya beri nama As-sabikun (mengawal diri lewat pena) dan Lembaga Kajian Mahabbah (egaliter, komunikatif, kreatif, dinamis). Walaupun dua media itu, saya edit, lay-out, poto copy dengan uang saku sendiri. Walaupun terkadang ada teman yang ikhlas memberikan sumbangan untuk biaya penggandaan (tapi tidak seberapa), sampai kepada harus menyebarkan pada teman-teman tetap saya sendiri.
Sempat oleh teman-teman sekampus, saya dijuluki “Penulis Gila”. Saya membiarkan itu semua. Karena itu merupakan keterampilan saya. Hasilnya, tetap kepuasan pribadi yang saya dapat. Dari hal semacam itu, hampir semua mahasiswa kampus mengenal nama saya (maaf bukan sombong), walau terkadang terkadang tidak kenal wajah saya. Bahkan dengan perbuatan yang saya lakukan, bertepatan dengan tanggal 1 ramadhan 1428 H kemarin, saya dapat undangan untuk memberikan materi teknik penulisan resensi buku pada cara “Bazar” Kumonitas Buku Surabaya (KUBUS) di Universitas Pemangunan Nasional (UPN) Surabaya. Bahkan hari jum’atnya, tiada duanya kebanggan bagi saya. Karena acara tersebut di tayangkan di Stasiun Televisi (TV) SBO Surabaya. Jadi, semua itu terjadi berkat saya menulis.
Ada yang paling unik kenapa saya harus menulis. Apa itu? Tapi sebelumnya diingat ya! Bahwa ini bukan tujuan menulis, hanya kepuasan bagi penulis. Dengan menulis saya kuliah di Surabaya berusaha menutup No. Rekening bank dari orang tua saya. Sejak saya menulis dan dimuat dipelbagai media, saya tidak lagi minta kiriman sama orang tua di rumah (belajar hidup mandiri). Bahkan orang tua sempat bertanya dari mana saya dapat uang untuk biaya hidup di Surabaya? Karena sudah beberapa bulan tidak perna minta kiriman. Saya juga tidak pernah bilang dari mana saya bisa dapat uang.
Setelah orang tua saya merasa su’uddzan (buruk sangka), disangka saya sudah berbuat sesuatu yang amoral di Surabaya, waktu liburan, saya pulang. Sengaja saya bawa semua poto copy-an hasil karya tulis ke rumah. Saya sodorkan pada orang tua, bahwa dengan ini saya bisa bertahan hidup di Surabaya. Dan ini tidak mengganggu kuliah, justru sebaliknya. Walaupun saya jarang masuk kuliah (tapi jangan ditiruh lho!) dosen saya tetap memberikan nilai baik (predikat “A”) pada Kartu Hasil Studi (KHS) saya tiap semester. Karena selama ini, jarang mahasiswa yang bisa menulis gagasannya dalam bentuk tulisan. Apalagi sampai bisa di publikasikan di media. Bahkan pernah suatu hari saya ditelepon oleh pembantu Dekan sub bagian kemahasiswaan ditawari beasiswa Bank Indonesia (BI).
Beberapa point yang menjadikan saya kenapa harus menulis, penting untuk diutarakan (termotivasi pesan Iman Al-Ghazali dan Pramoedya Ananta Toer, terinspirasi bahwa menulis merupakan ekspresi diri dan juga untuk menyambung hidup (bisa mandiri) ketika kuliah) dalam menulis pengalaman ini pulalah yang tahap selanjutnya mengantarkan saya untuk mencoba menulis dan menulis terus hingga kini. Yang tidak begitu lama, belum satu tahun ini saya sudah bisa masuk kurang lebih dari 10 media cetak maupun elektronik (koran, majalah, website, blog dll).
Dalam menulis, sebagai pemula, saya tidak pernah terjerat dan tidak pernah mempersoalkan apakah tulisan saya ilmiah atau tidak. Saya hanya merasakan ada desakan ide-ide yang harus ditulis dalam alam pikiran saya. Tanpa terpengaruh dengan kriteria ilmiah atau tidak. Saya tulis ide-ide itu. Jadi dulunya, saat saya memulai menulis apakah wujud karya disebut ilmiah, belum juga faham.
Setelah saya rasakan ketidak tahuan dalam kriteria tentang ilmiah tidaknya sebuah karangan. Pada waktu itu ternyata ada hikmahnya bagi saya. Tanpa cengkraman dan opsesi tulisan saya akan dinilai seseorang atau tidak, justru membuat saya selalu “berani” menulis dengan bebas mengungkapkan gagasan-gagasan dalam pelbagai karya pada awal periode perjalanan karier kepengarangan saya.
Saya rasa, seseorang yang terlalu terpikat dengan kriteria ilmiah ketika memulai menulis, akhirnya bayang-bayang yang menakutkan terhadap dirinya untuk berkarya. Dengan sifat khawatir semacam itu, maka sulit untuk mengungkapkan ide-ide dalam bentuk karya tulis. Apa yang saya katakan adalah sebuah fakta. Karena banyak aktivis mahasiswa bahkan dosen yang hanya cermah terus di runag kuliah tidak bisa menurehkan gagasannya dalam bentuk tulisan dengan alasan tulisannya karena merasa tidak atau takut kurang ilmiah.
Demikian, beberapa catatan pinggir saya sebagai penulis pemula tentang secercah pengalaman untuk memulai saya dalam dunia-menulis. Tentunya keterpaduan antara bakat, intelektualitas dan kreativitas sangat diperlukan dalam diri seseorang. Semoga bermamfaat!
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.



June 20th, 2008 at 9:09 am
SAYA JUGA ALUMNI BETTET LO