Text Link Ads

Aku Yakin, Aku Bisa

Nomor Peserta 110
Kategori
1

Judul diatas sengaja saya pilih bukan tanpa alasan. Rangkaian kata di atas merupakan suatu refleksi diri saya. Judul yang terdiri dari empat kata itu adalah motivator tersendiri dalam hidup saya, dalam langkah yang saya ambil. Dalam keputusan yang saya putuskan kata-kata itu selalu menggiringi. Dalam segala hal, kata-kata itu selalu melekat pada diri saya tak terkecuali dalam menulis.
 
Menulis, ketertarikan saya pada dunia olah kata ini berawal kurang lebih empat tahun silam, tepatnya ketika saya masih berada di bangku kelas satu SMA. Saat itu hobi saya yang paling dominan adalah membaca. Saya begitu gila membaca, membaca koran, membaca majalah, membaca komik, dan tentu saja buku cerita. Apalagi pada saat itu novel-novel bergendre teenlit sedang digandrungi oleh remaja, tak terkecuali teman-teman sekelas saya. Tiap hari ada saja dari mereka yang membawa novel-novel itu ke kelas.
 
Pada mulanya saya pun kurang begitu suka dengan cerita-cerita picisan seperti itu, saya lebih suka dengan cerita-cerita lucu semacam LUPUS. Namun karena tiap hari saya berhadapan dengan maniak-maniak teenlit dan terlebih lagi anak laki-laki di kelas saya juga ikut ketularan virus tersebut, saya pun ikut nimbrung menikmati buku fiksi, yang bercerita tentang remaja dan segala lika-likunya. Rupaya asyik juga ya dan akhirnya saya pun ikut ketagihan.
 
Maklumlah sebagai seorang remaja pastinya, teman-teman (termasuk saya) kebanyakan senang membaca cerita-cerita yang begitu dekat dan lekat dengan dunia kami, dunia remaja yang penuh dengan romantisme percintaan dan persahabatan. Akibatnya, kami pun secara bergiliran membaca karya fiksi tersebut (minjam maksudnya), karena tidak semua dari kami yang membeli novel-novel itu (nggak modal memang, termasuk juga saya, hehe) lalu saling memperbincangkannya.
 
Kebiasaan saya setiap kali membaca buku dan novel atau semacamnya adalah membaca biografi penulisnya terlebih dahulu. Entahlah, kenapa juga saya melakukan hal yang demikian. Bagi saya kurang afdol rasanya apabila kita membaca suatu karya tanpa mengetahui siapa yang ada di belakangnya. Tentunya hal ini juga sebagai salah satu bentuk penghargaan kepada penulisnya dan kekaguman saya terhadap apa yang ditulisnya.
 
Nah, pada saat membaca biografi penulis novel (kalau tidak salah pada saat itu saya sedang membaca novel Dealova atau Eiffel I’m in Love) itulah gairah saya untuk menulis pun mencuat keluar, ada keinginan dalam diri saya. Saya merasa kagum dengan mereka, di usia mereka yang relatif muda (tidak terlalu tua dari saya, bahkan mungkin ada yang lebih muda dari saya) mereka sudah bisa menghasilkan sesuatu. Sesuatu yang begitu boombastis, begitu fenomenal dan membanggakan, menurut saya. Kekaguman saya itu pun berubah menjadi rasa iri, iri ingin mengikuti jejak langkah mereka.
 
Rasa iri itu pun saya ubah menjadi niat mulia yang tidak saya biarkan membusuk begitu saja. Diri saya pun terpacu untuk mencoba. Saya yakin saya bisa, itu yang saya tanamkan. Kalau mereka bisa kenapa saya tidak. Niat itu saya lekatkan pada diri saya pada, jiwa saya sebagai tekad untuk bisa menulis. Dan tentu saja niat tidak saya biarkan menjadi angin lalu tanpa bekas, bukan sekedar omong kosong, saya mencoba merealisasikannya ke dalam bentuk nyata. Saya pun mencoba menulis, tak tanggung-tanggung saat itu saya mencoba menulis novel (novel yang belum terselesaikan sampai sekarang itu, saya beri judul Cinta dan Persahabatan).
 
Menulis, memang awalnya sulit, sangat sulit malahan. Tangan saya begitu kaku dan sulit digerakkan. Tapi karena niat dan keinginan saya yang begitu menggebu, serta ide-ide yang sudah sekian lama memenuhi otak saya, saya pun tak menyerah begitu saja, saya terus berusaha dan berusaha. Namun berkali-kali saya merasa gagal, merasa kurang pas terhadap apa yang saya tulis. Saya pun merenung sejenak dan satu anggapan muncul di benak saya “mungkin terlalu dini bagi saya untuk membuat sebuah novel”. Saya pun merubah haluan saya, tetap mencoba menulis cerita fiksi tapi kali ini saya mengemasnya dalam bentuk cerita pendek (ini bukan berarti saya membuang begitu saja ambisi saya untuk menulis novel, saya tetap menggarap novel saya tersebut tapi kali ini juga diimbangi dengan menulis cerpen). Saya meyakinkan diri saya bahwa di dunia ini tidak ada yang instan, semua butuh proses dan itulah yang saya hadapi sekarang ini.
 
Saya yakin saya bisa dan alhamdulillah ternyata saya benar-benar bisa. Satu buah cerpen telah tercipta dari jari-jemari saya. Cerpen perdana saya, yang bercerita tentang sebuah perjuangan anak dalam menujukkan jati diri, itu pun menjadi batu lonjakan bagi saya untuk terus berlatih dan berlatih. Tidak hanya itu saja saya juga mencoba dan mencari hal-hal baru dengan menulis jenis-jenis tulisan lainnya semacam artikel, resensi maupun puisi. Tapi sayang semua karya saya itu hanya menjadi konsumsi sendiri. Saya masih belum berani menyodorkannya kepada orang lain. Akibatnya karya-karya itu hanya saya simpan dengan rapi di dalam laci.
 
Saya sangat menikmati hobbi baru ini. Setiap saat saya mencoba menggerakkan pena, merangkai kata menjadi cerita. Semua pengalaman yang saya temui saya tuangkan ke dalam bentuk tulisan. Saya pun merasa enjoy dan senang. Saya mendapatkan kepuasan tersendiri dengan menulis. Kepuasan yang tak bisa saya dapatkan dari main game, dari kelayapan di jalanan, dari main sepakbola ataupun dari hobi-hobi saya lainnya. Dengan menulis saya bisa menjadi dewa, menjadi tuhan. Saya bisa menciptakan dunia yang saya ingini. Saya bisa menjadi siapapun yang saya mau. Saya bisa merubah dunia sesuai kehendak saya. Dengan menulis saya mendapatkan segalanya. Kepuasan batin terutamanya. Saya begitu gandrung dan tergila-gila dengan menulis. Memang benar kata orang menulis itu ibarat belajar naik sepeda, awalnya begitu sulit namun ketika kita sudah bisa mengendarainya kita pun menjadi ketagihan. Itu yang saya rasakan. Saya pun semakin giat membaca agar bisa mendapatkan ide-ide yang liar yang akan saya terjemahkan dengan kata-kata saya sendiri.
 
Tapi sayang, pada awalnya, hobi saya ini bernasib sama dengan hobi-hobi saya lainnya, bertepuk sebelah tangan dan kurang mendapat dukungan dari orang tua.. Orang tua saya selalu dan selalu menginginkan saya untuk fokus kepelajaran. Serius dengan sekolah saya. Bukan menyibukkannya diri dengan aktifitas yang tidak ada sangkut pautnya dengan sekolah dan pelajaran. Maklumlah, sebagai seorang anak, saya menyadari bahwa orang tua selalu ingin yang terbaik bagi anaknya. Orang tua saya adalah satu dari sekian banyak orang tua yang ingin anaknya menjadi orang yang berguna. Sukses dalam bidang akademik. Namun demikian saya tidak berputus asa begitu saja. Hal itulah yang membuat saya semakin menggebu-gebu menggeluti hobi ini. Saya ingin membuktikan saya bisa sukses di bidang akademik dan tentu saja di bidang non akademik.
 
Hobi menulis saya pun semakin MENJADI ketika saya berada dibangku kelas dua SMA. Terlebih lagi ketika saat itu saya diajar oleh seorang sosok yang begitu LUAR BIASA, sosok yang tidak hanya memberi teori-teori semata tapi lebih kepada praktek dan pengalaman di lapangan. Dialah ibu Fuji Hidjriati, pengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah saya. Istri dari YS Agus Suseno, salah seorang sastrawan Kalimantan Selatan, inilah yang mengajarkan saya menulis secara benar, menulis dengan aturan bukan menulis semau gue. Beliau begitu telaten melatih kami, mengajarkan kepada kami penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
 
Beliau tidak hanya sekedar mengajar, tapi lebih kepada pengembangan diri. Beliau selalu memotivasi kami untuk menjadi sesuatu. Hal itu yang begitu terasa bagi saya. Sosok inilah yang memotivasi saya untuk menulis yang tidak hanya sekedar menulis. Terlebih lagi beliau sering menyodorkan kepada kami brosur-brosur mengenai lomba kepenulisan. Beliau menyarankan kepada kami agar mau dan bersedia berpartisipasi.
 
Beliau seolah ingin menyampaikan kepada kami untuk tidak takut mencoba. Kalah atau menang itu belakangan, asalkan kita berani mencoba dan berusaha. Kita tidak akan tahu sejauh mana kualitas tulisan kita kalau tulisan itu hanya kita simpan di laci meja. Kita tidak akan pernah  bisa menjadi sesuatu kalau kita takut untuk mencoba sesuatu. Kita harus menunjukkan siapa kita, apa yang bisa kita perbuat, bagaimana kita membuatnya. Berbuatlah untuk kita sendiri terlebih dahulu baru untuk orang lain. Itulah maksud yang saya tangkap dari tindakan beliau kepada kami. Beliau menurut saya hanya ingin kami bisa, itu semua untuk kami semata bukan untuk beliau ataupun siapa-siapa.
 
Saya pun menjadi berani ikut berartisipasi dalam lomba menulis. Saya meminta copy brosur lomba menulis cerpen kepada beliau dan beliau pun dengan senang hati memberikannya kepada saya. Saya buka laci, membolak balik tulisan yang pernah saya bikin, namun saya merasa tidak ada yang cocok. Saya merasa tulisan saya sebelumnya kurang berbobot.
 
Saya pun mulai menulis. Saya kembangkan ide-ide yang saya punya. Saya rangkai kata menjadi cerita, saya rajut makna dan terciptalah Senja Yang Hilang (cerpen yang saya ikut sertakan pada lomba yang diadakan oleh Balai Bahasa Banjarmasin itu). Sebelum saya kirimkan kepada panitia lomba. Cerpen itu saya berikan kepada ibu fuji untuk dicek terutama penggunaan bahasa Indonesianya dan kepada teman sekelas saya untuk dikomentari. Setelah itu baru cerpen itu saya kirimkan.
 
Selang beberapa waktu lamanya.. Tiba-tiba pada suatu hari saya dipanggil oleh ibu Fuji. Beliau mengucapkan selamat karena cerpen saya menjadi salah satu Jawara (juara harapan I yang saya ketahui kemudian) pada sayembara kepenulisan tersebut. Saya pun sangat terkejut dan bahagia. Bersama tiga orang kakak kelas saya, yang juga menjadi jawara sayembara tersebut (tentu saja murid ibu fuji juga), saya pergi ke Balai Bahasa Banjarmasin untuk mengikuti sesi interview dan penyerahan hadiah kepada pemenang sayembara menulis, sekaligus perayaan puncak bulan Bahasa.
 
Saya pun begitu senang dan bahagia. Karena untuk pertama kalinya saya bisa memenangi lomba kepenulisan. Tidak hanya itu, saya pun bisa membuktikan kepada orang tua saya bahwa sekolah itu tidak hanya menuntut ilmu tapi lebih kepada pengembangan diri. Mereka pun mulai luluh dan mendukung hobbi saya ini. Kebahagian saya pun bertambah, ketika mereka membelikan seperangkat komputer untuk saya. Mungkin mereka melihat ada bakat lain pada diri saya untuk menjadi seorang penulis (jadi sombong nih, hehehe)
 
Ibu Fuji pun semakin giat memotivasi saya dan teman-teman untuk lebih maju. Saya (mungkin) selalu jadi orang pertama yang diberitahu beliau tiap kali ada lomba. Hampir semua lomba itu saya ikuti, walaupun (hampir) semuanya menelan pil pahit, tidak seberuntung lomba sebelumnya. Namun demikian saya tidak berkecil hati, saya semakin termotivasi untuk terus berjuang, saya menanamkan mental juara pada diri saya. Dan alhamdulillah itu terbukti, ketika saya berhasil menduduki peringkat kelima (juara harapan II) pada lomba menulis sinopsis dan resensi buku Kohanudnas Siaga Senantiasa yang diadakan oleh Koperasi Mabes AU. Bagaimana tidak bangga karena lomba itu adalah lomba tingkat Nasional yang diikuti oleh berpuluh-puluh perwakilan (kalau tidak salah hampir 90 peserta) dari sekolah terpilih se Indonesia. Lewat tangan dingin sosok ibu Fuji lah saya bisa merasakan kenikmatan menulis dari kacamata lain.
 
Dan saya semakin giat menulis dan menulis. Ide-ide saya pun semakin liar. Tangan saya gatal tiap kali tidak menulis. Terlebih lagi fasilitas pendukung sudah tersedia. Saya sudah memiliki seperangkat komputer lengkap dengan printernya. Saya tidak perlu lagi ke rental untuk mengetik naskah yang ingin saya kirimkan karena saya sudah bisa melakukannya di rumah.. Di samping itu saya semakin ketagihan dan giat mengikuti lomba-lomba kepenulisan. Dan alhamdulillah sudah sekitar enam kali juara telah ada di tangan saya. Dari segi materi pun saya dapatkan.
 
Tulisan ini adalah tulisan pertama saya yang saya ikutsertakan pada lomba, setelah hampir sekitar satu tahun saya vakum dari lomba-lomba kepenulisan karena saya harus mengikuti pendidikan ikatan dinas (bukan berarti selama itu saya tidak produktif menulis. Saya masih tetap menulis tapi hanya untuk konsumsi pribadi dan majalah dinding di Kampus), semoga saja hasilnya sesuai harapan (pengennya sih bisa diterbitkan dalam buku, hehehe. Kalau tidak ya bersabar aja mungkin belum rejekinya). Dan satu harapan, di awal 2008 nanti saya ingin mencoba menembus media massa, insyaallah. Selain itu melalui tulisan ini saya ingin mengucapkan terima kasih yang terama sangat kepada semua guru yang telah mengajarkan ilmu kepada saya dan lebih khususnya kepada ibu Fuji Hidjriati, guru Bahasa Indonesia di SMAN I Banjarmasin, yang telah menjadikan saya SESUATU.
 
Ini adalah curahan hati yang saya tulis apa adanya. Tanpa rekayasa dan dibuat-buat. Ini adalah isi hati saya yang saya ungkapkan secara jujur tanpa kebohongan. Walaupun tulisan ini masih sangat kurang bagi saya karena tidak semua pengalaman yang bisa saya tuangkan ke dalam tulisan ini dikarenakan terbatasnya ruang dan waktu. Tapi melalui tulisan pendek ini saya ingin berbagi. Dan satu keyakinan yang saya petik dari pengalaman menulis selama ini adalah bahwa menulis itu mudah, benar-benar mudah malahan, buktinya tulisan ini. Yang membuat sulit adalah diri kita sendiri, yang tidak yakin dengan kemampuan kita sendiri. Jadi apa lagi yang  anda tunggu, saya saja bisa kenapa anda tidak? Betul tidak!!!!
 
 


You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

AddThis Social Bookmark Button

2 Responses to “Aku Yakin, Aku Bisa”

  1. hay aku juga suka bgt nulis.entah tu novel,puisi ato cerpen.Rasany wktu kita nulis tu kita masuk ke dunia tulisan kita tapi kok aku susah bgt buat bisa nyelesein novel aku,rasanya cari ending yang pas tu susah bgt ya???? oya aku juga punya harapan klo suatu saat nanti novelku bakal diterbitin,pasti bangga bgt yach waktu itu.Tapi kapan ya itu terwujud???????Pasti jadi salah satu karunia terindah dari Tuhan.

  2. Menulis itu bkin qta selalu bahagia, menemukan ide2 baru… mksih karyanya

Leave a Reply