Text Link Ads

Akhirnya, Cerpen Pertamaku Dimuat

Nomor Peserta 097
Kategori 2

Membaca cerita fiksi, terutama cerpen, merupakan hal yang paling saya suka. Saya tidak mengingat persis semenjak kapan saua menyukai hal tersebut. Hanya yang saya ingat, saya selalu meminta seorang kakak untuk meminjam majalah kumpulan cerpen remaja kepunyaan tetangga. Namun untuk menulis  sebuah cerpen tidak pernah terlintas dalam benak. Sampai akhirnya, pada pertengahan tahun 1991, saya membaca sebuah artikel pada salah satu majalah remaja terbitan Jakarta.

Dalam artikel tersebut dituliskan, honor sbuah cerpen pada majalah itu minimal Rp. 75.000.  Sungguh saya terkejut. Saya tidak mengira honor sebuah cerpen bisa sampai semahal itu. Apalagi katanya, Rp. 75.000 itu merupakan harga minimal. Mereka berani membayar lebih jika cerpen itu memang bagus ( Sayangnya, sampai tahun 2003, honor cerpen di majalah tersebut tetap Rp.75.000. dan agaknya bukan harga minimal, melainkan harga mati)

Dari situ, saya tergelitik untuk mencoba menulis cerpen. Meski memakan waktu yang cukup lama, selesai juga sebuah cerpen.
Lantas, pada awal tahun 1992, cerpen tersebut saya kirim pada majalah berhonor Rp.75.000 tadi, dengan harapan besar akan dimuat. Namun demikian, saya bubuhkan juga perangko pengembalian secukupnya. Untuk berjaga-jaga kemungkinan cerpen itu tidak layak muat.
Asa saya bangun, bertambah tinggi setiap hari. Setiap membuka majalah terbaru, dada saya berdebar. Berharap cerpen yang saya kirim termuat di dalamnya. Demikian juga jika Pak Pos yang dating. Adakah cerpenku yang di-retour?

Bulan berganti bulan. Nasib cerpen yang saya kirim tetap tidak jelas. Namun demikian saya coba untuk menulis cerpen baru. Saya kirim lagi ke majalah yang sama. Namun nasibnya tidak berbeda dengan cerpen terdahulu. Dimuat tidak, dipulangkan juga tidak.
Putus asa sempat hadir dalam hati. Untungnya seorang abang terus memotivasi agar saya tidak lekas menyerah. Katanya, barangkali saja cerpen-cerpen yang saya kirimkan itu menyangkut entah di mana, atau bisa jadi sedang antri untuk dimuat. Tiap membuka majalah edisi terbaru, saya hanya bisa menelan kekecewaan. Karena saya hanya menatap karya-karya orang lain di sana.

Sampai akhir tahun 1993, berkisar 15 cerpen telah saya kirim pada majalah yang sama. Namun semua bernasib serupa. Berlalu tanpa kabar. Padahal saya selalu menyelipkan perangko pengembalian lebih dari cukup.

Hal tersebut jelas membuat patah semangat. Dua tahun menulis cerpen namun tanpa hasil. Sempat terlintas niat untuk tidak lagi menulis cerpen. Tapi entah mengapa, di lain waktu niat untuk menulis muncul kembali.

Tahun 1994 awal, saya coba mengirimkan sebuah cerpen ke majalah remaja yang lain. Beberapa bulan kemudian saya menerima sebuah amplop berlogo majalah remaja tersebut. Saya buka, ternyata cerpen saya dikembalikan. Di sana dijelaskan di mana letak kekurangan cerpen saya itu.
Semangat saya terlecut, motivasi yang hampir redup bersinar kembali. Ternyata cerpen saya tidak dicuekin begitu saja. Jelas, dikembalikannya cerpen tersebut, membuat saya merasa sangat dihargai. Bukan seperti pada majalah remaja sebelumnya.

Dengan motivasi dan semangat baru, saya menulis cerpen lagi. Dalam satu amplop besar saya kirim 3 cerpen pada majalah yang telah berkenan memulangkan cerpen saya.

Sampai akhirnya, pada akhir November 1994 saya membaca lembaran edisi yang akan dating pada majalah tersebut. Masih jelas saya ingat, di sana tertulis: …yang juga menarik adalah cerpen yang ditulis T. Sandi S., judulnya Jalinan Terlarang. Hem, kamu mesti baca, deh!
Saya kaget, terkejut dan surprise luar biasa, hingga membacanya berulang-ulang. Saya nyaris tidak percaya. Saya takut ini hanya sebuah mimpi. Tak sabar saya menantikan edisi terbaru majalah tersebut, hingga selalu saya menghitung hari. Sampai hari yang saya tunggu tiba, di sebuah took buku saya buka majalah tersebut.

Di depan saya terpampang judul sebuah cerpen dengan nama saya di bawahnya. Saya tidak bisa menjabarkan seperti apa perasaan saya ketika itu. Yang saya ingat, ternyata semangat dan motivasi yang harus saya pompa berkali itu, berbuah hasil yang sangat manis juga.
* * *


You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

AddThis Social Bookmark Button

5 Responses to “Akhirnya, Cerpen Pertamaku Dimuat”

  1. excelent,itu dia yang dimaksud harapan,pengorbanan,dan kerja keras pantang menyerah,hehehe,aku mau donk dikirimin cerpennya,biar aku juga bisa belaja nulis cerpen,siapa tahu kita bisa bikin Forum diskusi,jadi kalo ada yang mau ngirimin cerpen ato artikel ke majalah dan koran kita bisa kasi komentar dulu sebelum dikirim,kalo ada kurangnya bisa di kasi saran, gimana?.Aurigaisnice@gmail.com

  2. aurelidanken Says:

    Usaha yang bagus, saluuuutttt… aku juga pengin nulis cerpen nih, bisa kasih alamat redaksinya nggak ? Trus klo boleh tahu nih, kekurangan dari cerpen kamu apa ? Klo setting cerpennya gimana ? Halamannya, spasinya, ukuran kertasnya ? Biar bisa dimuat dimajalah… Thx.

  3. mbak atau mas atau kak de .
    ini gmna caranya biaar bsa dimuat ??

  4. Mas saya lagi belajar menulis, saya butuh bimbingan

  5. iim imutZzzzZZ Says:

    sayang ya napa cerpennya nggak dimuat………..???????????

Leave a Reply