Menulis : Kenikmatan (Sebuah Pengalaman Pribadi)
Nomor Peserta 048
Kategori 4
Berawal dari sebuah cepen dan puisi yang masing-masing berjudul ”Perjuangan SMA sekitar tahun 2000 akhir, saya mulai menikmati yang namanya menulis.
Ternyata, menulis membutuhkan imajinasi dan otak juga, menulis tidak hanya menyalin apa yang ada di papan tulis seperti yang sebelumnya saya kerjakan di masa SD dan SMP. Ya, berawal dari tugas di masa SMA tersebutlah kemudian saya menjadi gemar menulis, dan puisi menjadi kategori tulisan yang gemar saya buat.
Puisi - Tidak jarang ada teman yang memesan untuk dibuatkan puisi kepada saya, terutama teman cowok yang tengah melakukan PDKT kepada ceweknya. Biasanya sang teman curhat dulu tentang perasaannya, dan keesokan harinya puisi pun telah jadi saya buat dan langsung digunakan oleh sang teman untuk membual incarannya, sang teman mengaku bahwa puisi itu ia yang buat, saya tidak mempermasalahkannya. Karena itulah beberapa teman mengatakan saya pujangga – pujangga apanya tanya saya, saya tidak mau disebut pujangga, saya cuma nulis seadanya sesuai apa yang saya dengar, lihat dan rasa, tidak lebih.
Apa yang teman saya lakukan terhadap puisi saya tersebut, justru sebaliknya tidak pernah saya lakukan, maksudnya saya enggan untuk menggunakan puisi atau malah kata-kata indah untuk mendekati atau meluluhkan hati cewek, karena bagi saya terkadang terlalu berlebihan, yang penting saya jujur, kalau suka ya ngomong suka, diterima atau tidak kan itu sebuah konsekuensi.
Kisah lain di masa SMA terkait dengan tulis menulis, beberapa puisi saya ditempel di mading (red : majalah dinding sekolah), ada seorang pengurus mading kebetulan temen sekelas yang selalu meminta saya menulis di mading yang dikelolanya, menulis puisi, Ok respon saya kala itu, tapi dengan satu syarat, saya menggunakan nama lain, maka saya pakai nama Borin, hingga akhirnya bocor juga. Nama borin ini sudah saya pakai sejak SD dan SMP namun memang teman-teman di SMA tidak mengetahuinya, nah mengenai arti Borin sendiri sampai sekarang belum ada yang tahu apa arti nama Borin yang saya maksud, itu rahasia, hanya saya dan Tuhan saya yang tahu.
Selain menulis puisi dimasa SMA saya juga sering membuat makalah ilmiah, ya lagi-lagi karena tuntutan tugas. Biasanya tugas makalah yang ujung-ujungnya persentasi adalah dikerjakan berkelompok yang biasanya juga sudah ditentukan oleh sang guru, namun biasanya (lagi) saya yang mengerjakan menulis makalah itu sendiri, teman-teman sekelompok mempercayakannya dan saya pun enjoy, jujur waktu itu sering timbul dalam diri saya yang tidak percaya pada orang lain dalam hal mengarang ini, karena saya merasa mampu dan cenderung menganggap orang lain tidak akan semampu saya – sekarang saya sadar itu bukan perilaku yang baik, tapi ya itu pengalamannya..
Beranjak ke bangku kuliah, saya beralih menulis cerpen, entah kenapa saya lebih tertarik menulis cerpen dibanding puisi. Karya cerpen saya lebih banyak daripada puisi diperiode ini.
Perubahan drastis terjadi ketika saya masuk organisasi Pers Mahasiswa di Unisba yang bernama Suara Mahasiswa, saya berkenalan dengan banyak hal dari mulai berita, wawancara dkk. Ini saya dapatkan lebih dulu sebelum mendapatkannya dibangku kuliah. Di Suara Mahasiswa (SM) ini, saya memiliki ruang untuk meneruskan keinginan saya untuk terus belajar menulis. Dengan jargon atau lebih ketujuan “Dari Mahasiswa untuk Kemanusian” saya mecoba mengekspor kemampuan jurnalistik saya.
Tidak puas di SM, saya bersama teman dengan backround yang berbeda akhirnya pada 2004 membentuk komunitas Kran Mampet yang melahirkan media Kran Mampet, berbentuk Buletin dan News Letter. Dengan Jargon ”Dinamis Logis Kritis”. (lihat : kranmampet.multiply.com) – di Kran Mampet ini saya bersama kawan-kawan lainnya bergerak dengan leluasa, ’semau gue’ istilahnya, namun memang tetap mengarah ke tujuan untuk membuat suasana atau lingkungan yang dinamis, melalui pemahaman yang logis hingga membentuk daya kritis. Selain saya yang memang ber-backround jurnalistik (atas virus SM), juga ada Wachyu Riyono/Ibay (backroud bisnis/pedagang dan distributor sepatu), Rismawan Sulaeman/Buncis (aktivis Pergerakan dan dan fungsionaris BEM) dan Ghusnul Thariq/Ariq (aktivis pergerakan tulen). Semuanya memberikan warna yang membuat Kran Mampet memiliki kartakter yang khas, minimal itu menurut kami.
………………………..
Semenjak perkenalan saya dengan internet pada tahun 2003, semenjak masuk kuliah, saya mulai rajin menulis artikel untuk media massa dan dengan percaya dirinya mengirimkan artikel-artikel saya yang awalnya kebanyakan mengangkat isu-isu di dunia pendidikan. Beberapa artikel dan cerpen saya selalu- terutama oleh Kompas- dikembalikan, dengan alasan kurang cocok dengan karakter Kompas atau bahkan secara kualitas tidak memiliki kedalaman wacana dsb. Pengembalian artikel itu baik leat pos dan email, sempat membuat saya tidak percaya diri. Sedangkan nasib artikel dan tulisan jenis lainnya baik cerpen maupun puisi di media lain tidak jelas nasibnya, karena sejauh ini diantara media yang yang saya kirimi tulisan, hanya Kompas yang memberikan konfirmasi, dan dari semua konfirmasi yang saya terima dari Kompas semuanya menyatakan tulisan saya tidak layak muat dan disertai sebuah pesan, jangan menyerah untuk mencoba lagi! (sampai tulisan ini saya buat, belum satupun tulisan saya yang dimuat di Media Skala Nasional).
Akhirnya penantian pun tiba, ketika artikel saya yang berjudul ”Evaluasi Pendidikan untuk Sebuah Perubahan” dimuat di kolom Mimbar, pada halaman pendidikan di Harian Umum Pikiran Rakyat pada 4 Januari 2005. dan dimulai dari situ, maka motivasi saya untuk menulis di media massa semakin meningkat dan membuahkan hasil dengan dimuatnya sejumlah tulisan saya di Pikiran Rakyat baik di rubrik pendidikan maupun di suplemen Kampus (evolusi mimbar pendidikan), selain itu ada juga yang dimuat di Website Kabarbaru dan pendidikan Network serta Harian Umum Radar Karawang.
Dari sejumlah tulisan yang dimuat, baik berjenis liputan (feature news), artikel/opini, feature artikel, ataupun resensi, ada beberapa tulisan yang paling berkesan bagi saya selama ini (hingga tulisan ini saya buat), diantaranya : 1) ”Evaluasi Pendidikan untuk Sebuah Perubahan” (tulisan perdana di media massa); 2) ”Film Indie : Eksplorasi Pemikiran” (tulisan yang diminta oleh redaktur suplemen Kampus PR lewat telepon); 3) Duta Daerah di Tanah Rantau (liputan halaman utama suplemen Kampus PR bersama teman2 yang dikerjakan bareng bersama teman-teman Kran Mampet). - Dan semoga bertambah lagi kedepannya.
Hingga sekarang saya masih belum puas, apalagi kemarin-kemarin saat saya job atau magang di Greeners Magazine Bandung (media yang konsen dalam isu-isu lingkungan) saya benar-benar dibuat ’nol’ oleh sang Pimred – beberapa hasil liputan saya mendapatkan kritik yang luar biasa. Dari situ saya sadar, saya belum ada apa-apanya, hal ini berbalik dengan yang saya dapati di Kampus, dimana baik teman maupun dosen selalu melayangkan pujian atas tulisan-tulisan saya, terutama jika dimuat di media massa. Bahkan beberapa dosen menggaransi saya dalam perkuliahannya dengan menjamin nilai ”A”.
”Tanpa kritik, kita bukan apa-apa” pikir saya, dan ”tanpa kritik, loe akan mati” seru Bang Frino, senior saya di Pers Suara Mahasiswa. – hingga akhirnya saya berkenalan dengan blog, dimana saya berharap melalui blog ini minimalnya terjadi interaksi terbuka untuk datangnya kritik dan saran, bukan hanya pujian yang kemarin-kemarin saya dapatkan yang terkadang memuakkan.
Menulis, bagi saya bukan sebuah keharusan, bukan sebuah kegiatan tapi
lebih kepada proses untuk mendapatkan kenikmatan, kenikmatan yang didapat ketika tulisan kita dibaca orang, dipuji atau bahkan dikritik orang lain, lebih-lebih jika berguna bagi yang membacanya.
Atas kenikmatan itu, saya bertekad untuk terus menulis.. apapun!!
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.



January 27th, 2008 at 3:29 pm
kalau saya pengen tau lebih banyak tentang greeners magazine, harus hubungi kemana? dimana saya bisa dapatkan majalah tersebut? mohon dijawab ke email saya… terima kasih banyaak…