Nafas Hidup Orang Kreatif
Nomor Peserta 029
Kategori 1
Menulis merupakan hal yang komplek di mata setiap orang, tergantung dari sudut pandang mana seseorang melihatnya.bagi seseorang pelajar,menulis adalah sesuatu kebiasaan yang senatiasa menyertai mereka. Bagi seseorang wartawan, menulis adalah sebuah profesi. Sama seperti penulis pada umumnya, bagiku menulis tak ubahnya seperti seutas benang yang tiada ujung. Ketika menulis telah menjadi sesuatu yang kita gandrungi, kita akan selalu ingin menulis bahkan sampai akhir hayat kita.
Kegemaranku menulis muncul ketika aku duduk di kelas 6 SD. Pada waktu itu aku di hukum untuk membersihkan perpustakaan sekolah. Secara kebetulan, sebuah buku jatuh ketika aku sedang merapikan buku-buku yang ada di rak,rupanya buku itu adalah buku astronomi. Karena penasaran, aku membuka dan akhirnya membaca buku itu. Pertama kali aku membacanya, aku langsung tertarik dengan ilmu falak ini. Ketika itu hatiku berkata sejenak, “Apakah ini yang selama ini aku cari ?” Ya, sebuah ilmu yang medasarkan dirinya pada sebuah kepastian akan hukum-hukum alam yang teramat-amat komplek bagiku.
Kegemaranku akan bidang IPS terutama Sejarah mulai pudar dan tergantikan oleh ilmu yang satu ini. Berawal dari itulah,aku sedikit demi sedikit mengungkapkan pendapatku dalam bentuk tulisan-tulisan hipotesis yang kurancang untuk menyalurkan isi pikiranku.
Sekarang aku duduk di bangku SMA, tetapi kegemaranku akan menulis dan menciptakan argumen-argumen berupa hipotesis pun tidak akan pernah hilang. Belakangan aku pun tahu bahwa teori evolusi Darwin yang dielu-elukan para guru Sejarah teryata hanyalah sebuah karya fiksi yang mengandalkan kekuatan imajinatif belaka. Hal itu pun secara tidak sengaja menarikku ke dunia Sejarah lagi. Akupun mulai menuangkan pemikiran-pemikaranku tentang teori ini melalui tulisan-tulisanku yang belakangan sering kupajang di mading sekolah bahkan di blog pribadiku.
Mungkin ini adalah suatu kebetulan, pada waktu itu guru sejarahku memberikan tugas akhir semester untuk membuat sebuah karangan essay tentang Sejarah. Ini merupakan kesempatanku untuk menunjukkan pemikiranku kepada guruku sekaligus uneg-unegku tentang teori fiktif ini. Akhirnya akupun membuat suatu karangan essay yang berjudul “Kemunafikan Sejarah Indonesia”.
Dalam essay itu aku menuangkan pedapatku tentang beberapa keanehan dan keambiguan Sejarah khususnya Sejarah Indonesia, seperti kesimpangsiuran perihal Supersemar, kejahatan terselubung yang dilakukan oleh Soeharto yang selalu di tutup-tutupi dan juga tak lupa kumasukkan teori Darwin dalam karangan essayku itu.
Secara panajang lebar aku menjabarkan kejanggalan-kejanggalan yang terjadi pada teori Darwin seperti, missing link yang sebenarnya tidak ada, kecurangan para atropolg-antroplog demi membuktikan teori ini seperti pada kasus penemuan tulang hidung manusia Nebraska yang ternyata hanyalah sebuah tulang hidung seekor babi hutan, kemudian juga mengenai mutasi yang hanya dapat membuat keturunan menjadi cacat bukan berevolusi.
Aku pun dengan bangga memamerkan karangan esayku itu kedepan teman-teman sekelasku dan reaksi mereka begitu terkejut dan heran melihat karanganku tersebut. Merekapun memuji karanganku itu, karena karangan essay itu merupakan karangan terbaik di bandingkan karangan-karangan essay dari temanku di kelas.
Tak usah bertanya lagi, ketika aku mengumpulkan essayku itu guru sejarahku pun langsung marah dan menghardik diriku, ia mengatakan bahwa aku tidak menghargai Sejarah dan lagi-lagi ia pun menyebutkan kata-kata yang selalu ia ucapkan ketika mengajar Sejarah di kelas, “Historia vitae magistra” begitulah kata-katanya. Aku berusaha menjelaskan kepada guruku bahwa bukan maksudku tidak menghargai Sejarah, aku hanya memberikan pendapatku tentang sebagian kecil dari materi Sejarah yang menurutku menlenceng dari kenyataan, dan aku tidak beranggapan bahwa semua materi Sejarah adalah fiktif belaka.
Akhrinya guruku pun menerimanya, meskipun nilai sejarahku pun di rapot menjadi jelek. Mungkin lain ceritanya jika karangan essay itu aku tunjukkan kepada guru biologiku, tetapi hal itu tidak bisa aku lakukan.
Beberapa bulan yang lalu aku juga baru saja merampungkan sebuah novel yang berjudul “Dawai Sebuah Kecapi”. Aku membuat novel ini karena guru bahasa Indonesiaku memberikan aku tugas untuk membuat sebuah karangan berupa cerpen, tetapi karena aku terlalu asyik mengarang cerita, akhirnya dari cerpen yang pendek menjadi sebuah novel yang lumayan panjang ceritanya.
Novel ini menceritakan tentang seorang pria yang menemukan kebahagian hidup dan cinta sejatinya justru ketika ajal akan menjemputnya. Dalam kisah ini pria tersebut adalah seorang siswa SMA yang cerdas namun hidupnya teramat menderita karena ia mengidap kanker otak stadium tiga. Selain itu, ia juga di rundung rasa bersalah yang mendalam karena belakangan ia tahu bahwa ayahnya yang waktu itu berprofesi menjadi pilot membuat suatu kelalaian yang menyebabkan kedua orang tua wanita yang di cintainya menjadi cacat dan akhirnya meninggal.
Sebenarnya aku membuat novel ini tidak sepenuhnya untuk memenuhi tugas bahasa Indonesia belaka, melainkan sebagai ungkapan solidaritas dan kesedihanku karena guru Biologiku sedang dalam masa kritis. Sekarang guru Biologiku itu sedang berperang untuk melawan kanker otak yang ia telah deritanya semenjak setengah tahun yang lalu. Aku tidak bisa membantu apa-apa, mudah-mudahan novel ini dapat menjadi kado istimewa untuk dia yang akan berulang tahun sebentar lagi.
Sekarang ini aku duduk di bangku kelas tiga SMA dan termasuk sebagai murid kelas Akselerasi, meskipun tugasku padat dan banyak, tetapi aku selalu meluangkan waktuku untuk menyalurkan kegemaran menulisku ini. Entahlah termasuk tema manakah pengalamanku ini, mungkin pengalamanku ini merupakan sebuah pujian dan hujatan kepadaku sekaligus sebuah pengaharapan yang besar dariku.
Disebut pujian karena dengan menulis aku dipuji oleh teman-temanku. Disebut sebagai hujatan karena tulisan terlalu radikal sehingga membuat orang-orang menghujatku dan disebut sebagai pengharapan karena di dalam tulisanku terkandung sebuah harapan bahwa tulisanku itu akan mendatangkan manfaat dan memotivasi orang lain untuk giat menulis demi kemajuan dunia penulisan di Indonesia. Entah apa kata orang tentang tulisanku, baik positif maupun negatif, tetapi bagiku menulis itu merupakan nafas hidup orang kreatif.
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.



August 9th, 2008 at 6:19 am
Aku setuju banget kalau menulis itu adalah nafas kehidupan !!! cayooo !